Artikel Terbaru

Arti Ekumenisme

Dok. Sangsabda.wordpress.com
Arti Ekumenisme
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comBeberapa saudara saya pindah dari Gereja Katolik ke Gereja Kristen Protestan. Secara pribadi, saya marah pada mereka, tetapi saya menghargai kebebasan mereka. Yang saya tidak mengerti ialah mengapa Gereja Katolik tidak mengeluarkan larangan kepada anggotanya agar jangan dekat dengan anggota Gereja lain, tetapi malahan mengadakan Natalan bersama, ibadat bersama, menggalakkan kesatuan atau ekumenisme. Apakah gerakan ekumenisme itu tidak melemahkan anggota Gereja Katolik? Mengapa diadakan ekumenisme?

Christina Puspita, Malang

Pertama, tentu perasaan negatif tidak bisa dijadikan dasar suatu tindakan, apalagi tindakan resmi Gereja. Harus diakui, Gereja Katolik sangat prihatin dan perlu mawas diri, jika cukup banyak anggotanya yang berpindah ke Gereja lain. Betapapun terluka, Gereja Katolik tidak bisa melarang anggotanya untuk berdekatan, baik sebagai sesama anggota masyarakat maupun sebagai anggota sesama pengikut Kristus. Kepindahan itu tidak bisa mengubah keyakinan dan kerasulan Gereja menggalakkan gerakan ekumenisme, yaitu gerakan membangun kesatuan antara para murid Yesus.

Kedua, ekumenisme adalah usaha Gereja-Gereja Kristiani yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat, membangun persatuan nyata, melalui doa, dialog, prakarsa-prakarsa lain, dengan menghapuskan tembok-tembok pemisah. Dalam perjalanan sejarah, terjadi pemisahan gereja-gereja akibat dari Konsili Efesus (431), Konsili Khalsedon (451), skisma Timur-Barat pada tahun 1054, reformasi pada abad ke XVI, dan lainnya. Bentuk kesatuan yang dituju dan diwujudkan memang berbeda. Gereja-gereja Protestan (dan Ortodoks) mewujudkan kesatuan mereka dalam Dewan Gereja-gereja baik pada tingkat nasional maupun internasional. Dengan dekrit Unitatis Redintegratio oleh Konsili Vatikan II, Gereja Katolik membuka diri bekerja sama dengan Dewan Gereja-gereja, misalnya dalam penerjemahan Kitab Suci, dalam dialog teologis, dalam pernyataan Natal bersama dan perayaan Natal bersama, dan dalam proyek-proyek amal.

Ketiga, bagi murid-murid Yesus, usaha ekumenisme bukanlah pilihan manasuka, tetapi suatu kewajiban, karena Tuhan kita Yesus Kristus yang sama-sama kita sembah dan imani menginginkan semua muridNya bersatu (Yoh 17:11.20-23). Persatuan para murid merupakan kesaksian kepada dunia, seperti kata Yesus: ”supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:21.23). Perpecahan di antara murid-murid Yesus bukan hanya merupakan batu sandungan, tetapi juga merugikan perutusan suci, yakni mewartakan Injil kepada semua makhluk (UR 1). Perpecahan juga bertentangan dengan perintah utama untuk saling mengasihi (Yoh 13:34). Jika para murid Kristus saling mengasihi, maka tidak akan ada perpecahan, melainkan persatuan. ”Pola dan prinsip terluhur misteri itu ialah kesatuan Allah Tunggal dalam Tiga Pribadi Bapa, Putra dan Roh Kudus.” (UR 2). Kerinduan untuk memulihkan kesatuan semua orang Kristen adalah satu anugerah Kristus dan satu panggilan Roh Kudus (KGK 820).

Keempat, semangat ekumenisme diungkapkan dalam berbagai cara (UR 4). Katekismus Gereja Katolik merinci hal ini antara lain: (1) pembaharuan Gereja secara terus-menerus dan pertobatan hati mengusahakan satu kehidupan yang murni sesuai dengan Injil; (2) doa bersama yang merupakan jiwa seluruh gerakan ekumenisme; (3) pengenalan saudara secara timbal-balik; (3) pembinaan semangat ekumenisme pada umat beriman dan terutama para imam; (4) pembicaraan antara para teolog dan pertemuan antara umat Kristen dari berbagai Gereja dan persekutuan; (5) kerja sama umat Kristen dalam berbagai bidang pelayanan terhadap manusia (KGK 821).

Kelima, akhirnya KGK 822 menegaskan perlunya bersandar pada kekuatan ilahi: ”maksud yang suci untuk mendamaikan segenap umat Kristen menjadi satu dalam Gereja Kristus yang satu dan tunggal melampaui daya kekuatan serta bakat kemampuan manusiawi. Oleh karena itu konsili menaruh harapan sepenuhnya pada doa Kristus bagi Gereja, pada cinta kasih Bapa terhadap kita, dan pada kekuatan Roh Kudus.” (UR 24).

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 34 Tanggal 19 Agustus 2012

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*