Artikel Terbaru

Jejak Langkah PK

Sejarah baru: Karol bersalaman dengan para kader PK usai terpilih sebagai Ketua PK periode 2015-2018 di Batam.
[NN/Dok.TimurAngin]
Jejak Langkah PK
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dalam perjalanannya Pemuda Katolik (PK) menemui rintangan yang membuatnya seolah hilang. Meski begitu, dari masa ke masa organisasi ini menjaga kebhinekaan dan Gereja.

Gema tepuk tangan riuh terdengar. Baru berhenti ketika seorang wanita berdiri di podium. Ia menyampaikan pidato kemenangannya. Wanita itu adalah Karolin Margret Natasa, anggota DPR RI yang terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik periode 2015-2018 dalam Kongres Pemuda Katolik XVI di Hotel Pasific Palace Batam, 23 Agustus 2015.

Karol, sapaannya, menjadi wanita pertama yang terpilih sebagai Ketua PK. Karol bukanlah wajah baru dalam tubuh PK. Sebelumnya, ia adalah Sekjen PK periode 2012-2015. Dengan terpilihnya Karol sebagai Ketua PK hal ini menandai tonggak baru dalam perjalanan sejarah PK. Menurut Stefanus Suryo Susilo, Ketua Umum PP PK 1982-1992, Kongres Batam merupakan pijakan baru bagi PK dalam menatap masa depan.

Sekilas Jejak
Cikal bakal PK bermula pada 15 November 1945 dalam bentuk Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AM KRI). Organisasi ini muncul dalam hingar-bingar perjuangan kemerdekaan dan berkembangnya organisasi kepemudaan. Pada 12 Desember 1949 dalam Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia lahirlah organisasi Muda Katolik Indonesia (MKI). Pada Juni 1960, dalam kongres di Solo, MKI diubah menjadi Pemuda Katolik. Perubahan nama itu diusulkan Munajat, tokoh yang pernah menjadi Delegasi Indonesia pada Konferensi Meja Bundar.

Tahun 1965, tatkala gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) merajalela, PK bersama organisasi kepemudaan lainnya berupaya membendungnya. Namun, karena jumlah anggota yang sedikit, PK tak kuasa menghadapi “serangan”. PK lantas berinisiatif dengan menceburkan diri dalam organisasi partai politik. Sebanyak 50 orang PK mendapatkan didikan ajaran marhaenisme, basis ideologi Partai Nasional Indonesia (PNI). Setelah ditempa, 50 anggota laskar marhaen yang Katolik (Markatul) itu kemudian terjun ke organisasi Pemuda PNI. Hasilnya, Pemuda PNI mengalami perkembangan pesat. Inilah secuil catatan sejarah saat PK berperan dalam melahirkan kader yang berkiprah dan memiliki pengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*