Artikel Terbaru

Adorasi

[ratnaariani.com]
Adorasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Sekarang di banyak paroki diadakan adorasi Sakramen Mahakudus. Apa perlunya diadakan adorasi itu? Apa bedanya jika seseorang berdoa di hadapan tabernakel di dalam Gereja besar? Apakah boleh waktu adorasi kita mendoakan doa rosario?

Hengky Setiawan, Surabaya

Pertama, adorasi Ekaristi bertujuan untuk bersembah sujud kepada Tuhan Yesus Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus agar kita dapat menyatukan batin kita dengan Tuhan Yesus. Kesatuan batin ini seringkali disebut sebagai komuni batin atau kerinduan (ES 82; RS 135). Praktik menyatukan batin ini bisa menjadi sarana untuk penyadaran akan kekurangan dan dosa-dosa kita, serta sarana untuk membuka dan menyelaraskan perasaan, pikiran dan kehendak kita dengan kehendak Allah.

Mereka yang sering menyelaraskan diri dengan kehendak Allah akan menjadi semakin peka akan bimbingan dan karunia Tuhan dalam hidup sehari-hari. Praktik menyadari kehadiran Tuhan di hadapan kita seringkali juga membantu banyak orang untuk melanjutkan hidup sehari-hari dalam kehadiran Tuhan. Kesadaran akan kehadiran Tuhan sangat membantu agar seseorang tidak mudah jatuh ke dalam dosa atau dikuatkan ketika pencobaan dan kesulitan menerpa kita.

Kedua, sebenarnya menghormati Sakramen Mahakudus di dalam tabernakel gereja besar sama saja dengan yang di ruang adorasi. Perbedaannya mungkin ialah bahwa untuk memfokuskan diri dan berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus akan terasa lebih mudah dan terbantu di ruang adorasi karena ruangnya tidak terlalu besar dan sudah dibuat sedemikian rupa sehingga membantu untuk adorasi. Perlengkapan-perlengkapan lain, seperti bantal untuk berlutut, dingklik doa, tidak tersedia di dalam Gereja, sehingga kurang mendukung untuk berdoa lama.

Ketiga, sebenarnya Rituale Romanum memberi keleluasaan yang cukup besar untuk penggunaan doa-doa dalam kebaktian pribadi atau bersama di depan Sakramen Mahakudus, seperti misalnya doa rosario, doa-doa devosi lainnya yang selaras dengan misteri iman Kehadiran Tuhan Yesus Kristus. Instruksi Redemptionis Sacramentum no 137 menyarankan agar doa-doa yang dipilih ialah doa yang mengungkapkan dan merenungkan misteri kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, bacaan-bacaan KitabSuci sangat dianjurkan. Bisa juga digunakan nyanyian. Pada akhir bisa ditutup dengan doa Bapa Kami dan Salam Maria serta doa ”Terpujilah Allah.”

Namun, perlu diperhatikan agar kita tidak disibukkan sendiri dengan aneka doa sampai lupa menyapa dan menyatukan batin dengan Tuhan Yesus Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus. Tujuan utama adorasi, yaitu penyatuan batin dengan Tuhan Yesus Kristus yang hadir, haruslah diutamakan. Doa-doa itu hanyalah sarana bantu untuk menyadari Misteri Tuhan Yesus Kristus. Bisa juga orang hanya duduk hening di hadirat Tuhan dan menyadari serta menikmati kehadiran Tuhan. (bdk. E. Martasudjita, Pr, Adorasi Ekaristi, Tuntunan Ringkas, Yogyakarta: Kanisius, 2007)

Ada orang-orang yang tidak setuju pada Adorasi Ekaristi. Alasan mereka ialah munculnya adorasi Sakramen Mahakudus ini justru menjauhkan Gereja Katolik dari saudara-saudari yang Kristen Protestan?

Gabriela Handoko, Surabaya

Pertama, adorasi Ekaristi Abadi menegaskan secara jelas iman Gereja Katolik bahwa dalam melalui peristiwa konsekrasi, Tuhan Yesus Kristus hadir secara nyata dalam rupa Sakramen Mahakudus. Memang inilah salah satu perbedaan pokok antara Gereja Katolik dan Gereja Protestan. Penggalakan kembali adorasi Ekaristi Abadi akan sangat membantu pengetahuan iman dan kesadaran umat Katolik akan ajaran tentang kehadiran nyata (Latin: praesentia realis) Yesus Kristus ini. Diharapkan kesadaran ini juga membantu penghayatan umat ketika merayakan Ekaristi itu sendiri. Santo Agustinus berkata: ”Tidak seorangpun makan tubuh (Kristus) ini jikalau ia tidak terlebih dahulu menyembah-Nya . . . kita akan berdosa jika tidak menyembah-Nya.”

Kedua, adalah keliru kalau demi ekumenisme kita mau mengabaikan bahkan menghapuskan hal-hal dalam Gereja Katolik yang berbeda dengan Gereja Kristen Protestan. Apalagi hal itu menyangkut pengakuan iman yang sepenting ”kehadiran nyata” Yesus Kristus ini. Sebuah persatuan yang mendalam akan lebih harmonis dan langgeng jika kita mengakui dan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada, bukan menghapuskannya atau pura-pura tidak tahu.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 23 Tanggal 6 Juni 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*