Artikel Terbaru

Duduk di Sebelah Kanan Allah

[fireofthylove.com]
Duduk di Sebelah Kanan Allah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Jika Allah itu adalah Roh, mengapa dikatakan bahwa Yesus Kristus itu “duduk di sebelah kanan” Allah Bapa? Sesudah kebangkitan, para Rasul tidak lagi disertai oleh Yesus. Lalu, apakah ada perbedaan keadaan untuk para murid Yesus, sebelum kenaikan dan sesudah kenaikan Yesus ke surga?

Beni Susanto, Blitar

Pertama, ungkapan “duduk di sebelah kanan” Allah Bapa adalah bahasa gambaran dan tidak boleh dimengerti secara harafiah. Ungkapan “duduk di sebelah kanan” digunakan dalam Kitab Suci dan oleh Gereja untuk menunjukkan kemuliaan ilahi yang dimiliki oleh Yesus Kristus di surga sebagai Raja Alam Semesta dan sejarah (Kis 2:35-36; Mrk 16-19; 1 Ptr 3:22). Sebagai Raja, kepada Kristus telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi (bdk. Mat 28:18; bdk. Mrk 16:19). Jadi, ungkapan “duduk di sebelah kanan” Allah Bapa adalah sebuah pengakuan akan kemahakuasaan Kristus atas seluruh alam semesta (KGK 668).

Kedua, tentu ada perbedaan yang besar antara sebelum dan sesudah kenaikan. Sesudah kebangkitan, iman para murid diteguhkan oleh penampakan-penampakan Yesus. Mereka berbesar hati karena Guru mereka sungguh hidup kembali. Kenaikan Yesus ke surga berarti berakhirnya penyertaan Yesus yang bangkit atas para murid-Nya. Mereka tidak akan melihat Yesus kembali sampai pada waktu kedatangan-Nya kembali kelak. Sejak kenaikan Yesus ke surga, para murid ditantang untuk “melihat” kehadiran Yesus dengan mata iman dan bukan mata jasmani mereka. Mereka juga diundang untuk tumbuh lebih kuat dalam pengharapan kepada-Nya yang menjadi Pengantara kita di surga. Untuk itulah, Yesus menjanjikan kedatangan Penolong, yaitu Roh Kudus.

Mengapa pada misa pemakaman seringkali lilin Paskah ditampilkan kembali di samping peti jenasah? Benarkah diperbolehkan memberikan kepada umat komuni dalam dua rupa pada perayaan Malam Paskah? Apakah tidak merepotkan?

Katrin Limbokan, Surabaya

Lilin Paskah dinyalakan dan dipasang di dekat peti jenasah pada misa pemakaman untuk menandakan bahwa kematian orang kristiani adalah paskah pribadinya. Di luar masa Paskah, lilin Paskah tidak dinyalakan dan tidak diletakkan di altar.

Memang benar, mempertimbangkan peristiwa penyelamatan yang dirayakan pada Malam Paskah, dianjurkan jika memungkinkan, untuk memberikan komuni dalam dua rupa: “Sepantasnya komuni dalam perayaan Malam Paskah diberi kepenuhan tanda Ekaristis, dengan membagikannya dalam rupa roti dan anggur. Ordinaris wilayah hendaknya memutuskan, sejauh mana hal ini sebaiknya dilaksanakan.” (Perayaan Paskah dan Persiapannya art 92, Seri Dokumen Gerejawi No. 71).

Untuk alasan praktis, bolehkah pada Sabtu malam Paskah, untuk umat digunakan lilin dengan batere sehingga tidak mengotori bangku umat dan bisa digunakan berulang-ulang pada tahun-tahun berikutnya?

Fransiskus Xaverius Hari Suyanto, Sidoarjo

Penggunaan lilin adalah tindakan simbolis yang hendak menggambarkan kehadiran Yesus Kristus yang bangkit sebagai Cahaya di tengah kegelapan dosa umat manusia. Makna simbolis ini akan hilang jika nyala lilin digantikan oleh lilin dengan batere. Demi kesungguhan tanda, harus digunakan lilin yang sungguh dari malam. Bahkan diserukan agar setiap tahun digunakan lilin yang baru. Surat Edaran Kongregasi Ibadat menegaskan: “Lilin Paskah demi kesungguhan tanda, harus sungguh lilin dari malam dan setiap tahun lilin baru; hanya boleh dipakai satu lilin Paskah, cukup besar tetapi tidak pernah boleh buatan, agar dapat menjadi tanda bagi Kristus, yang adalah Cahaya dunia.” (art 82).

Hendaknya kesulitan pengotoran bangku oleh lelehan lilin dipecahkan sebaik-baiknya, tetapi tidak ditempuh jalan yang menggunakan lilin buatan atau imitasi. Kesungguhan tanda akan membantu juga penghayatan iman tentang makna kehadiran Yesus Kristus di tengah kegelapan hidup kita. Pengalaman di banyak tempat, umat sungguh terenyuh karena peragaan ini. Pengalaman “perpindahan” dari kegelapan ke situasi terang cahaya Kristus membantu umat untuk mengerti makna Kristus dalam hidup Semua ini akan hilang jika digunakan lilin imitasi atau dari nyala batere. Bahkan susah payah membersihkan lelehan lilin itu tidak sebanding dengan karunia iman yang dibangkitkan dalam diri umat.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 20 Tanggal 16 Mei 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*