Artikel Terbaru

Tirakatan Paskah

[catholicityandcovenant.blogspot.com]
Tirakatan Paskah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comRomo, pada saat Paskah, di beberapa gereja ada acara Tirakatan Paskah, yaitu pada Sabtu Malam Paskah. Beberapa pastor juga menyarankan, selain datang mengikuti Misa pada Malam Paskah, umat juga datang pada Misa Minggu Paskah pagi. Apa yang dimaksud dengan Tirakatan Paskah? Apa perbedaan antara Misa Malam Paskah dan Minggu Paskah pagi? Apakah umat harus menghadiri kedua perayaan ini?

C. Sunardi, Jakarta

Pertama, Tirakatan Paskah adalah nama lain dari Malam Paskah. Kata “tirakatan” adalah terjemahan dari kata “malam” atau “vigilia” (Latin), yaitu malam sebelum sebuah perayaan. Malam Paskah atau Tirakatan Paskah disebut sebagai “induk dari semua tirakatan”, karena di sinilah Gereja merayakan pokok misteri imannya, yaitu Misteri Paskah Kebangkitan. (bdk Perayaan Paskah dan Persiapannya, art 77, Seri Dokumen Gerejani No 71) Kebangkitan Kristus adalah dasar iman dan harapan kita. Seperti orang-orang Ibrani, pada Malam Paskah mereka menantikan saat pembebasan dari perbudakan Firaun. Demikian pula kita, pada Malam Paskah kita menantikan saat Kebangkitan Kristus yang menandai pembebasan kita dari penindasan dosa. Malam Paskah Yahudi itu adalah “gambaran yang mewartakan Paskah sejati Kristus, sekaligus gambar pemerdekaan sejati…” (art 79). Kebiasaan merayakan Kebangkitan pada perayaan malam ini sudah dilakukan sejak Gereja mulai merayakan Paskah tahunan (art 80).

Kedua, mengingat pentingnya iman pada kebangkitan dan mempertimbangkan kekayaan misteri iman yang diungkapkan dalam simbol-simbol pada Tirakatan Paskah, umat sangat dianjurkan agar menghadiri Tirakatan Paskah untuk menghayati misteri utama iman Gereja. “Para gembala hendaknya mengajak kaum beriman untuk mengambil bagian dalam seluruh perayaan Malam Paskah.” (art 95; bdk SC art 106). Mereka yang sudah menghadiri Malam Paskah, sudah memenuhi kewajiban merayakan Misteri Paskah pada hari Minggu (bdk SC 106). Karena itu, mereka tidak wajib merayakan lagi Minggu Paskah pagi. Namun, tetap sangat dianjurkan agar umat juga menghadiri Perayaan Ekaristi Minggu Paskah pagi sebagai kelanjutan kegembiraan merayakan Kebangkitan Tuhan. Anjuran yang sangat ini bahkan dirasakan sebagai “keharusan”. Berkaitan dengan Minggu Paskah, Gereja menegaskan: “Misa Minggu Paskah harus dirayakan dengan meriah.” (art 97)

Ketiga, sejauh menyangkut perayaan liturginya, kekayaan liturgi Malam Paskah tidak bisa dibandingkan dengan liturgi Minggu Paskah pagi. Kekayaan liturgi Malam Paskah menonjolkan perayaan cahaya, madah Paskah, bacaan-bacaan Perjanjian Lama yang merupakan tipologi pembebasan yang dibawa oleh Kristus, dan Perayaan Baptis.

Dengan pertimbangan pastoral bahwa banyak umat yang hadir pada Minggu Paskah pagi tidak sempat mengikuti perayaan Malam Paskah, maka untuk liturgi Minggu Paskah, Gereja menganjurkan untuk juga memasukkan upacara perarakan Lilin Paskah pada pembukaan dan pembaruan janji baptis sesudah homili. Dengan demikian, diharapkan umat juga bisa dibantu untuk menghayati Misteri Paskah sebagai peralihan dari kegelapan kematian kepada terang kehidupan.

Apakah untuk pembacaan Kisah Sengsara, bagian Yesus harus dilakukan oleh imam selebran?

Alexia Citri Widiyanti, Ambarawa

Memang benar, bila ada imam maka peran Yesus dikhususkan bagi imam. Hal ini ditegaskan oleh Surat edaran dari Kongregasi untuk Ibadat yang menyatakan: “Kisah sengsara Tuhan dibawakan secara meriah…. Harus dibawakan oleh para diakon atau imam atau, bila tidak ada, oleh lektor; dalam hal ini peran Kristus dikhususkan bagi imam.” (bdk Perayaan Paskah dan Persiapannya, art 33 dan 66, Seri Dokumen Gerejani No 71)

Apakah boleh melangsungkan pernikahan pada Jumat Agung atau Sabtu Paskah? Apakah pada Jumat Agung seharusnya ada homili?

Antonius Singgih Yulianto, Surabaya

Mengingat makna Jumat Agung dan Sabtu Paskah sebagai kenangan akan sengsara dan wafat Kristus, maka Gereja melarang keras perayaan sakramen-sakramen pada Jumat Agung dan Sabtu Paskah, kecuali Sakramen Rekonsiliasi dan Pengurapan Orang Sakit. (bdk Perayaan Paskah dan Persiapannya, art 61 dan 75, Seri Dokumen Gerejani No 71).

Pada upacara Jumat Agung, sesudah Kisah Sengsara, seharusnya tetap “ada homili yang diakhiri dengan keheningan doa sejenak.” (art 66)

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 19 Tanggal 9 Mei 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*