Artikel Terbaru

Superwoman

[mom-shirley.blogspot.com]
Superwoman
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Hari Kartini baru saja kita rayakan. Meski gaung dan perayaannya saat ini tidak semeriah­ dulu sewaktu saya masih kecil, toh pengaruhnya masih bisa saya nikmati hingga saat ini.

Sejarah mencatat, di Indonesia banyak tokoh wanita yang berhasil di bidangnya. Di bidang politik, kita mengenal Megawati Soekarno Putri, yang bahkan pernah menjadi presiden wanita pertama di Indonesia. Ada banyak politisi sukses yang berjenis kelamin wanita. Di dunia usaha pun tercatat tidak sedikit wanita yang bisa dikatakan cukup sukses. Belum lagi yang memegang tampuk tertinggi sebagai manajer, bahkan direksi atau direktur utama.

Jadi, sebenarnya pengaruh Kartini sudah bisa kita lihat dan rasakan hingga detik ini. Bisa dikatakan mereka adalah wanita-wanita sukses di bidangnya. Bah­kan, tak jarang juga mereka sukses dalam mengelola keluarga. Mungkin saja mereka adalah wanita yang bisa kita kategorikan sebagai superwoman.

Lantas, untuk menjadi seorang superwoman, apakah kita harus juga berhasil di dua bidang sekaligus: keluarga dan karir.

Kenyataannya, hal itu sangat sulit bahkan bisa jadi tidak mungkin bisa dicapai. Lantas, tidak mungkinkah kita menjadi superwoman-superwoman dengan pemahaman yang berbeda?

Wanita adalah makhluk terberkati. Itu sudah jelas dan rasanya tidak akan bisa diperdebatkan lagi. Dengan daya tahan yang luar biasa, pada dasarnya wanita adalah manusia kuat yang tahan banting. Bagaimana tidak, sebagai makhluk yang dikatakan lemah, ia mampu mengandung selama sembilan bulan lebih, dan ini jelas bukan pekerjaan mudah. Selama sembilan bulan lebih ia membawa janin di dalam tubuhnya ke mana pun ia bergerak dan beraktivitas.

Sebagai wanita hamil, jelas banyak godaan psikologis, bahkan fisik yang kadang seperti menghabiskan seluruh energi. Setelah melahirkan, maka ada tugas yang tidak kalah mulia, yaitu menyusui. Ini pun bukan pekerjaan sederhana karena melalui air susunyalah wanita memberikan hidupnya kepada buah hatinya. Dalam situasi seperti ini maka daya tahan tubuh yang prima, kondisi psikologis yang nyaman, jelas penting.

Jadi, jika dikatakan bahwa wanita adalah makhluk lemah, jelas sama sekali salah. Karena karunia alam itulah, wanita lebih tahan terhadap stres. Dalam dunia kerja pun wanita lebih ‘nrimo’ sehingga banyak perusahaan besar lebih senang mempekerjakan wanita karena dinilai lebih menurut, tidak banyak masalah, dan gampang diatur. Mereka lebih mau diberi upah yang mungkin lebih murah. Jelas wanita lebih tahan banting.

Namun, jika diberi kesempatan, wanita bisa ‘berlari’ lebih kencang, lebih bisa berprestasi, lebih luwes dalam menjalankan tugas dan perannya dan tentu saja lebih memiliki empati yang tentu saja menjadi nilai lebih dalam membangun relasi interpersonal dengan lawan kerjanya.

Sedangkan sebagai ibu rumah tangga, tentu saja ini juga bukan tugas sederhana. Saya pernah ditinggal oleh pembantu selama hampir dua bulan. Dalam masa itu, saya mencoba menjalankan tugas dan peran saya sebagai ibu rumah tangga yang berusaha total menjalankan perannya. Ternyata, dibutuhkan daya tahan fisik dan psikologis yang tidak ada bandingnya. Dari sejak melek mata di pagi hari, hingga menjelang tidur malam, rasanya tugas tidak pernah ada habisnya. Terlebih jika anak-anak masih kecil. Belum lagi jika suami membutuhkan perhatian kita. Selalu tampil cantik jelas juga penting agar suami tidak melirik ke kanan dan ke kiri, sementara di luar sana ada banyak wanita yang mungkin lebih menarik dibanding kita sendiri
.
Seorang superwoman tidaklah selalu identik dengan kesuksesan dalam keluarga dan karier. Superwoman adalah wanita yang mampu menghayati perannya secara total dalam tiap keputusan peran yang diambilnya. Jelas ini tidak akan pernah mudah karena tidak semua orang mampu menghayati totalitas perannya.

Sebagai wanita, tak jarang saya sendiri tergoda pada kesuksesan yang dimiliki oleh wanita lain.Tak jarang saya memiliki penilaian lebih tinggi kepada wanita yang sukses dalam karir dan keluarga. Saya sendiri masih memiliki penilaian bahwa superwoman adalah wanita yang telah mencapai tahap kesuksesan tertentu dalam karirnya, seperti sejumlah titel atau gelar yang dimiliki (kebetulan karena saya dosen maka hal itu tentu saja berkaitan dengan tingkat kepakaran dalam bidangnya, jabatan fungsional dan gelar yang dimiliki) dan rasanya akan ada banyak ukuran yang kita miliki untuk menilai wanita yang hebat dan super.

Lantas, jika kita tidak memiliki itu semua, apakah kita sendiri tidak mampu menjadi superwoman. Rasanya terlalu naif jika kita menilai demikian. Lantas, apa ukuran superwoman?Mungkin berikut ini bisa kita renungkan bersama karena saya juga masih dalam tahap mencari makna terdalam:

• Belajar mensyukuri terlahir sebagai wanita. Mungkin hampir sebagian besar dari kita mendapat anugerah sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan anak (karena tidak semua wanita mendapat tugas mulia ini). Bukankah ini adalah anugerah tidak terhingga karena kita melahirkan kehidupan di dunia ini? Lantas, bagaimana bagi wanita yang tidak mendapat karunia sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan anak? Tentu saja itu bukan kutukan atau kesialan karena pastilah ada tugas yang mungkin tidak kalah pentingnya yang memang ditugaskan dalam hidup kita.

• Mencoba belajar menghayati peran itu apa pun kesulitan yang kita hadapi. Toh tidak hanya kita sendiri yang mengalami, hampir semua wanita pasti memiliki problematikanya sendiri.

• Mungkin memahami bahwa ‘rumput di ladang tetangga, tidak selalu lebih hijau sebagaimana tampaknya’, lebih akan menenangkan diri kita sendiri agar lebih bisa mensyukuri apa yang kita miliki. Percayalah bahwa tidak semua kesuksesan itu sebagaimana tampaknya. Semua itu jelas membawa tanggung jawabnya sendiri.

• Jelas menjadi ibu rumah tangga saja bukanlah sebuah peran yang sederhana. Itu juga membutuhkan tanggung jawab yang tidak kalah besar. Agar kita tidak dianggap kuper dan tidak bisa mengimbangi suami, maka perlu juga bagi kita untuk mau membuka wawasan, banyak membaca atau mengikuti berita, tidak hanya sekadar menonton sinetron, namun mencoba mengikuti apa yang up to date, karena hal ini akan bisa mengimbangi suami jika diajak berdikusi.

• Menambah pengetahuan dan wawasan mungkin saja bisa kita lakukan jika kita juga bisa mengikuti seminar, mengikuti kursus atau jika memungkinkan mengambil pendidikan baru.

• Jika kita adalah wanita karir, mari kita mulai mencoba menyeimbangkan hidup antara tugas dan keluarga. Kuantitas tidak selalu berarti efektif, karena bisa jadi kualitasnya lebih penting. Artinya, ambil waktu khusus untuk berada bersama suami dan anak-anak, jauhkan handphone, laptop barang sejenak saat kita bersama dengan suami atau anak karena hal itu akan mengurangi perhatian kita kepada mereka dan membuat mereka merasa selalu dinomorduakan.

• Mencoba menyempatkan diri mencari waktu berdua dengan suami di saat khusus, sekadar makan siang berdua, atau makan malam berdua, atau sekadar jalan-jalan mencari buku atau sepatu.

• Sesekali menjemput anak atau mengantar ekskul atau les, mengajak mereka makan, akan menjadi waktu yang sungguh berkualitas. Dalam situasi demikian, jadilah teman bagi mereka yang bisa diajak sharing. Mungkin ada baiknya kita mencoba mengikuti pemintaan anak biar tidak dikatakan sebagai orangtua yang jadul.

• Dalam dunia kerja, bekerjalah dengan sepenuh hati, jangan jadikan keluarga sebagai alasan untuk menolak tugas (meskipun kadang memang hal itu benar), sebagai seribu alasan untuk meminta permakluman dari orang lain. Jelas ketika kita memutuskan menikah dan juga sekaligus bekerja, kita paham akan semua konsekuensinya. Bekerja dengan sepenuh hati dan fokus memberikan yang terbaik juga untuk pekerjaan.

• Jadi, sebenarnya menjadi superwoman adalah menghayati totalitas peran dan tiap keputusan yang kita ambil dengan tetap berpedoman pada penghayatan kita akan kodrat wanita sebagai makhluk yang terberkati. Belajar menyeimbangkan antara berbagai tugas dan peran. Kesemua itu bisa menjadi satu perpaduan yang menarik, tantangan yang mengasyikkan, dan tentu saja dengan berkat yang pasti lebih melimpah.

Mari kita mencoba…

Th. Dewi Setyorini

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 20 Tanggal 16 Mei 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*