Artikel Terbaru

Kemandirian yang Tertunda

[sheknows.com]
Kemandirian yang Tertunda
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Nama saya Ibu Yono, saya memiliki permasalahan keluarga berkaitan dengan anak saya nomor dua (perempuan) yang sekarang sudah menginjak usia 14 tahun, dan duduk di bangku SMP kelas II. Sebenarnya saya agak sungkan menceritakan permasalahan anak saya ini, karena orang lain mungkin menganggapnya bukan suatu permasalahan sulit atau dianggap hal yang biasa terjadi pada remaja saat ini. Namun bagi saya, permasalahan tersebut sangat berat, karena permasalahan tersebut menjadikan aktivitas-aktivitas lainnya terhambat.

Saya sudah berkonsultasi dengan suami, teman-teman dekat, bahkan orang-orang yang saya anggap tahu tentang mendidik anak. Namun, dalam praktik saya tetap tidak bisa mengatasinya. Karena itu, saya memberanikan diri menceritakan permasalahan ini di Rubrik Konsultasi Keluarga Majalah HIDUP, dengan harapan moga-moga permasalahan yang saya hadapi bisa terselesaikan, atau paling tidak akan menambah wawasan pengetahuan saya.

Anak saya, Ami, memiliki kebiasaan ingin senantiasa dilayani atau terkadang masih tergantung pada orang lain. Bila orang lain tidak mau menolongnya, ia marah, ngambek, atau diam seribu bahasa. Perilaku tersebut bisa berlangsung berhari-hari sampai apa yang diinginkannya tersebut terpenuhi. Permintaannya sebenarnya tidak aneh-aneh, misalnya meminta dibuatkan supermi, yang sebenarnya ia sendiri bisa melakukan (karena pernah saya ajari dan sudah pernah berkali-kali saya lihat ia bisa membuatnya sendiri). Namun, karena ia baru asyik lihat TV kesukaannya, ia berteriak-teriak minta dibuatkan. Sementara saya baru sibuk mencuci di kamar mandi, teriak-teriakan tersebut menjadikan saya jengkel. Anak sebesar dia seharusnya sudah mengerti bila ibunya sedang sibuk, dan seharusnya ia tidak perlu minta tolong. Permintaan lainnya, seperti menyiapkan seragam sekolah, memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tasnya, menyerut pensil, dan masih banyak lainnya yang sebenarnya ia bisa lakukan sendiri. Permasalahan tersebut sudah pernah saya diskusikan dengan suami maupun dengan teman-teman dekat saya, namun komentar mereka senantiasa meminta saya sabar karena setiap anak memiliki karakter berbeda-beda dan nantinya anak pasti akan mandiri dengan sendirinya. Demikian pula dengan orang-orang yang saya anggap tahu tentang pendidikan anak, juga berkomentar bahwa anak sekarang memang berbeda dengan anak-anak zaman dulu yang cepat mandiri, sedangkan anak sekarang tampaknya untuk mandiri membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena itu, saya diminta sabar dan jangan terlalu memanjakan anak.

Jawaban-jawaban tersebut menjadikan saya tidak bisa memahami apa maksudnya, dan saya yang seharusnya bersabar menjadi tidak sabar dalam mendidik anak.

Demikian permasalahan yang saya hadapi berkaitan dengan Ami. Mohon pengasuh rubrik Konsultasi Keluarga Majalah Hidup memberi saran dan pengertian kepada saya, sehingga memampukan saya untuk dapat lebih bisa memahami perkembangan anak dan mampu mendidik anak saya secara lebih baik, dengan tanpa was-was di kemudian hari. Terima kasih.

Ibu Yono – Semarang.

Ibu Yono yang terkasih,

Terima kasih atas kesediaan mengutarakan permasalahan Ibu dalam rubrik Konsultasi Keluarga. Ibu Yono yang terkasih, biarpun orang lain menganggap permasalahan yang dihadapi Ibu termasuk biasa-biasa saja dan wajar, namun setiap orang dalam menghadapi permasalahan berbeda-beda. Semuanya tergantung pada masing-masing individu yang merasakan serta situasi dan kondisi di mana permasalahan tersebut terjadi. Dengan demikian, Ibu tidak usah berkecil hati mengutarakan permasalahan ini.

Berkaitan dengan Ami, ada beberapa hal yang menyebabkan ia melakukan perilaku tersebut, antara lain ada kemungkinan Ami memiliki sifat pemalas, tidak ingin kehilangan apa yang menjadi perhatiannya sehingga minta bantuan orang lain, ingin mencari perhatian, atau memang pada dasarnya Ami belum mampu bersikap mandiri. Dari beberapa alasan mengapa Ami melakukan perilaku tersebut, kali ini kami menyoroti tentang masalah kemandirian . Untuk alasan-alasan yang lain akan dibahas di lain waktu. Karena itu, kami mohon kesabaran Ibu Yono.

Kemandirian
Kemandirian tidak bisa lepas dari pengertian (1) tidak tergantung pada orang lain, khususnya pada orang-orang di dekatnya (orangtua, saudara-saudara kandung). Maksud tidak tergantung di sini, anak dalam melakukan kegiatan maupun menghadapi permasalahan-permasalahan mampu mengatasinya sendiri. Tentunya hal ini tidak bisa lepas dari kemampuan dan tugas perkembangan pada usia anak tertentu, sehingga kemandirian di sini sangat tergantung pada tahap perkembangan usia anak tersebut. Contoh dari kasus di atas, Ami dianggap sudah bisa mandiri bila sudah dapat menyiapkan sendiri buku-buku pelajaran yang besok akan dibawa ke sekolah, karena usianya sudah 14 tahun. Namun sebaliknya, kalau belum bisa, Ami dikatakan belum mandiri.

(2) mampu mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya. Maksudnya, anak harus mampu memberikan alasan secara logis apa yang telah dilakukannya, sehingga untuk melihat kemandirian, orang melihat dari alasan yang dikemukakan anak tersebut. Bila alasan tersebut logis atau sesuai dengan gambaran kemampuan anak, anak dianggap mandiri. Misalnya, jika Ami minta tolong dibuatkan supermi dengan alasan memang ia sedang sibuk mengerjakan PR yang harus segera diselesaikan, maka alasan tersebut logis sehingga bisa dikatakan Ami mandiri.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mandiri atau tidak mandiri, yaitu,
• Perilaku orangtua maupun orang-orang di dekatnya . Orangtua atau orang-orang di dekatnya dapat menjadi model anak berperilaku. Anak mencontoh perilaku orang-orang di dekatnya, karena ingin mendapat pujian atau ingin diterima oleh orang-orang di sekitarnya, sehingga bila perilaku yang ditunjukkan orangtua maupun orang-orang yang ada di dekatnya kurang bisa menunjukkan kemandirian, maka perilaku tersebut akan dicontoh oleh anak juga. Seandainya anak ditegur atau dimarahi, maka anak akan memberi alasan mengapa perilaku orangtua atau orang-orang di dekatnya diperbolehkan, sedangkan ia tidak.

• Urutan anak dalam keluarga. Urutan posisi anak dapat menjadi penyebab anak kurang mandiri. Anak pertama, merupakan anak yang diharapkan, maka perhatian dan kemanjaan dari orangtua maupun orang-orang yang ada di dekatnya sangat lekat. Dimungkinkan anak jadi tergantung pada orang-orang tersebut dibandingkan dengan urutan anak kedua maupun selanjutnya. Disamping itu, jarak kelahiran antara anak satu dengan lainnya, jenis kelamin, maupun kesehatan fisik dan psikis juga dapat mempengaruhi kemandirian anak.

• Ukuran keluarga. Banyak sedikitnya jumlah anggota keluarga di dalam rumah, mampu mempengaruhi kemandirian anak. Semakin banyak anggota keluarga atau saudara kandung akan terjadi persaingan antarsaudara kandung, baik yang sifatnya persaingan untuk memperoleh perhatian atau kasih sayang orangtua, maupun dalam meraih prestasi, sehingga memicu anak mandiri.

Pola asuh di dalam keluarga. Diyakini, pola asuh otoriter akan menjadikan anak kurang bisa mandiri, karena anak cenderung bersifat pasif, apa yang dikatakan orangtua senantiasa harus dituruti; bila tidak, anak akan mendapat hukuman, sehingga anak tidak bisa mengambil keputusan mandiri. Hal ini berbeda dengan pola asuh demokratis.

Solusi
• Diikutkan dalam kegiatan-kegiatan, baik di lingkungan sekitar rumah maupun di luar rumah. Keterlibatan di sini, pada awalnya anak diminta membantu kegiatan-kegiatan yang dilakukan orangtua maupun orang-orang di dekatnya. Bila anak sudah merasa senang dan mampu, maka kegiatan-kegiatan tersebut bisa dilakukan oleh anak sendiri, dan orangtua maupun orang-orang di dekatnya nantinya bisa minta tolong tanpa mereka melibatkan diri. Tentunya di sini ada proses sedikit demi sedikit anak dilepas sehingga menjadikan anak merasa mampu dan mandiri.

• Diberi tanggung jawab dan kepercayaan. Tidak lepas dari pernyataan di atas, anak diberi tanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang ada kaitannya dengan kepentingan atau keperluan anak pribadi, orangtua, atau orang-orang di dekatnya tidak perlu ikut campur, sejauh anak tidak membutuhkan bantuan, sehingga secara tidak langsung mampu menumbuhkan kepercayaan diri anak bila nantinya berhasil.

• Berilah reward setiap melakukan kegiatan. Berilah anak pujian bila berhasil melakukan kegiatan atau pekerjaan dengan baik, sehingga memampukan anak untuk lebih termotivasi mandiri. Sebaliknya, bila tidak berhasil jangan diberi hukuman atau ejekan, namun tetap diberi pujian sekaligus memberikan masukan untuk lebih memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan sehingga anak tidak menjadi putus asa atau “nglokro” (Bhs Jawa).

• Mengubah pola asuh dalam keluarga. Bila kesalahan pada pola asuh orangtua dalam menumbuhkan sikap kemandirian, maka orangtua harus bersedia mengubah pola asuh yang selama ini dilakukan. Misalnya, dari otoriter ke demokratis.

Demikian Ibu Yono, semoga paparan ini membuat pengetahuan Ibu Yono bertambah, dan memampukan Ibu untuk memperhatikan perkembangan anak sebaik mungkin. Seandainya Ami belum mampu mandiri sesuai dengan usianya saat ini, tentunya terjadi kemandirian yang tertunda. Kemandirian masih dalam proses. Ibu tidak perlu kecewa, pergunakan solusi di atas untuk menumbuhkan kemandirian yang tertunda.

Drs Haryo Goeritno MSi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 17 Tanggal 25 April 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*