Artikel Terbaru

Baptis Katolik

Baptis Katolik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSeorang bapak berusia 70 tahun menyatakan sudah dibaptis Katolik pada waktu kecil, tetapi kakak kandungnya membantah bahwa dia pernah dibaptis. Dalam keragu-raguan ini, bapak tersebut dilarang menerima hosti suci. Apakah ada pemecahan untuk masalah ini?

Yohanes Wahyudi Hadiseputra, Surabaya

Pertama, cobalah terlebih dahulu menelusuri rincian dari yang bisa diingat oleh bapak itu, yaitu bahwa dia sudah dibaptis, misal apakah ada foto pembaptisan atau saksi-saksi yang bisa meneguhkan ingatan bapak itu, apa benar dia sudah dibaptis? Juga telusurilah waktu dan tempat bapak itu dibaptis, kapan dan di mana. Di setiap Gereja Paroki selalu ada Buku Baptis yang mencatat semua pembaptisan yang dilakukan. Kita bisa menanyakan kebenaran tentang pembaptisan itu melalui catatan yang ada di paroki itu dengan menunjukkan nama bapak itu dan waktu pembaptisan di paroki itu.

Kedua, jika ternyata foto, saksi, waktu, dan tempat sia-sia, artinya tidak bisa menentukan kepastian tentang pembaptisan itu, maka kita bisa memberikan solusi dengan pembaptisan bersyarat, jika bapak itu sudah siap menjadi Katolik. Artinya, bapak itu dibaptis lagi secara bersyarat, Imam yang membaptis akan mengatakan, “Jika engkau belum dibaptis, maka aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Seandainya bapak itu memang sudah dibaptis sebelumnya, maka Sakramen Baptis yang pertama itu yang berlaku. Tetapi jika ternyata bapak itu belum dibaptis, maka Sakramen Baptis yang baru diberikan itu yang akan berlaku. Bagaimanapun ada kepastian bahwa bapak itu sudah dibaptis. Maka, bapak itu diperbolehkan menerima hosti suci dalam komuni.

Kakak saya sudah lama ingin menjadi Katolik, tetapi Allah Bapa sudah memanggil dia sebelumsempat dibaptis. Pastor paroki datang 30 menit sesudah kakak menghembuskan nafas yang terakhir. Apakah boleh seandainya kakak saya tetap dibaptis dalam keadaan sudah meninggal dunia itu?

Hana Maria Larasati, Malang

Dalam keadaan darurat bahaya mati seperti itu, sebenarnya kamu sendiri bisa melakukan pembaptisan darurat, asalkan syarat-syarat Sakramen Baptis dipenuhi. Ada tiga syarat.Pertama, materia yang digunakan haruslah air alami, yang dituangkan ke dahi pada waktu membaptis. Kedua, rumusan yang digunakan untuk membaptis ialah rumusan trinitaris, yaitu “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Dan ketiga, pada waktu pelaksanaan pembaptisan itu kamu harus melakukan itu dengan tujuan membaptis seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik. Dengan memenuhi ketiga syarat ini, maka kakakmu akan secara sah dibaptis. Namun sayang, hal ini tidak terjadi.

Sebenarnya, imam yang datang itu juga bisa melakukan pembaptisan bersyarat, yaitu “Jika engkau masih hidup, maka aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Pembaptisan bersyarat bisa dilakukan karena dalam waktu 30 menit, tentu badan masih hangat. Kita tidak tahu kapan persisnya nyawa seseorang meninggalkan badan sesudah seorang dinyatakan meninggal secara klinis. Maka Sakramen Baptis masih boleh diberikan, jika hal itu memang diinginkan oleh orang yang meninggal dunia.

Karena kami sangat dekat dengan para romo di paroki dan tidak ingin menimbulkan kecemburuan sosial, kami ingin anak kami dibaptis bersama oleh dua romo. Apakah hal ini mungkin dilakukan?

Vivi Raharja, 08113775xxx

Dalam pembaptisan, materia air yang dituangkan dan forma doa pembaptisan harus dilakukan pelayan yang sama. Cara pembaptisan dalam pertanyaan itu tidak sah. Juga dalam pembaptisan dengan penenggelaman. Yang dibaptis juga tidak boleh menenggelamkan diri sendiri, tetapi harus ditenggelamkan pelayan sambil mengucapkan forma Baptis.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 2 Tanggal 10 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*