Artikel Terbaru

Pemuda Katolik 70 Tahun: Menguatkan Spirit Kristianitas

Pemuda Katolik 70 Tahun: Menguatkan Spirit Kristianitas
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kongres XVI Pemuda Katolik (PK) di Batam, Agustus dan pelantikan pengurus baru di Jakarta, November 2015, adalah dua peristiwa yang berhasil membangunkan kesadaran publik dan umat Katolik bahwa PK masih ada. Liputan media dan kehadiran tokoh-tokoh masyarakat, umat Katolik, para senior PK, pejabat pemerintah dari pusat dan daerah serta kemeriahan seremoni, merupakan indikator awal yang mengisyaratkan kebangkitan kembali kiprah PK.

Peristiwa monumental tersebut tentu tidak dapat dilepaskan dari dua hal: Pertama, kegigihan kepengurusan sebelumnya, di bawah kepemimpinan Ketua Umum, Agustinus Tamo Mbapa (Gustaf ) yang mencoba menghadirkan PK lebih eksistensial dalam kehidupan masyarakat.Kedua, terpilihnya Karolin Margret Natasa sebagai Ketua Umum dan pengurus baru yang mempunyai daya setrum dan energi, dan oleh karena itu memberikan harapan kiprah PK ke depan lebih signifikan dirasakan kehadirannya. Banyak kalangan mengharapkan agar seluruh jajaran pengurus baru PK tidak melewatkan momentum tersebut. Melewatkan peluang, hanya akan membuat umat Katolik semakin kecewa dan publik semakin melupakan PK.

Harapan umat Katolik dan masyarakat tidak berlebihan mengingat dalam usia yang mencapai 70 tahun, PK tidak semakin perkasa dalam mengejawantahkan nilai-nilai kristiani; sebaliknya, semakin ringkih melawan godaan kenikmatan kekuasaan serta gelombang penetrasi kapital yang dapat menenggelamkan organisasi yang mempunyai pelindung St Yohanes Berchmans, dalam turbulensi pertarungan kekuasaan yang menghancurkan tatanan masyarakat.

Oleh sebab itu tidak ada pilihan lain, PK pasca Kongres XVI, harus melakukan beberapa langkah sebagai berikut. Pertama, mengatasi dan membayar lunas defisit nilai-nilai kristianitas dengan melakukan pengkaderan yang sistematis dan teratur. Tujuannya tidak hanya menanamkan “Semangat Juara” dimana para kader berada, tetapi yang lebih penting adalah menempa generasi muda Katolik untuk selalu terbakar dengan semangat kristiani. Penanam nilai tersebut terutama kepada mereka yang tertarik di bidang pengelolaan kekuasaan negara. Politik sebagai panggilan untuk menggarami dunia dan pelita yang menuntun kehidupan mewujudkan kebahagiaan, memerlukan kader-kader kristiani yang bersedia berjuang untuk kepentingan umum. Mereka bukan dilatih merebut kekuasaan dan kehormatan bagi dirinya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Paus Benediktus XVI yang menyatakan keterlibatan politik itu begitu penting sehingga menyebutnya sebagai bentuk keterlibatan yang memungkinkan terjadinya “Revolusi Kasih” bagi kebaikan umum masyarakat.

Konsekuensinya, umat Kristiani melihat medan politik yang mulia tetapi juga sarat dengan daya goda, berkewajiban menggarami ranah politik yang sering kali menghalalkan tujuan tersebut, menjadi wilayah yang mempunyai “Budaya Kasih”.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*