Artikel Terbaru

Kecanduan Belanja

[angginisme.blogspot.com]
Kecanduan Belanja
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Marilah kita amati dengan cermat, meski hanya sekilas: Apakah setiap kali kita (atau anggota keluarga, pacar, teman kita atau orang lain) berbelanja, sungguh karena memang membutuhkan apa yang dibeli? Ataukah karena dorongan yang tak terkendalikan untuk berbelanja?

Bila jawabannya lebih mengarah ke pertanyaan ke-2, maka bisa dikatakan kita mengalami kecanduan belanja, sering disebut shopaholic atau oniomania. Dalam hal ini kita (orang yang bersangkutan) mengalami kesulitan untuk menolak dorongan impulsif membeli barang-barang yang sebenarnya tak dibutuhkan. Ini bisa dilihat pada barang-barang yang dibeli hanya mengonggok di rumah, tidak digunakan atau bahkan tetap terbungkus rapi sejak dibeli. Bisa juga dilihat pada orang yang secara rutin menghabiskan banyak uang dalam berbelanja.

Shopaholic bisa saja sudah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian orang, terutama yang hidup di kota besar. Menurut beberapa pakar psikologi, kegiatan berbelanja yang tak terkontrol bersifat obsesif (mengikat pikiran) dan atau kompulsif (dilakukan berulang-ulang). Ini merupakan indikasi adanya problem kejiwaan pada pelakunya.

Gangguan shopaholic menurut data riset di Standford University (2006) bukan monopoli kaum perempuan. Persentase antara laki-laki dan perempuan hanya selisih sedikit, namun ada perbedaan dalam hal objek/barang yang dibeli. Kaum perempuan mengaku lebih menyukai belanja baju, perhiasaan, make-up, pernak-pernik rumah. Sedangkan para pria lebih banyak menghabiskan uang mereka untuk membeli barang-barang modern seperti perangkat hi-tech.

Menurut Lorrin (2006), pakar psikiatri dan perilaku, mereka yang keranjingan belanja (shopaholics) alias pembelanja fanatik suka menghabiskan uang untuk membeli berbagai barang terutama baju, meskipun barang-barang itu tak selalu berguna bagi mereka. Karena doyannya mereka berbelanja, para shopaholics ini sering kehabisan duit meski masih di awal bulan.

Mereka mengalami kepuasan luar biasa, ketika bisa membeli apa yang diinginkan. Tetapi biasanya, setelahnya mereka akan merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya.

Ada beberapa indikasi yang bisa membantu kita untuk mengenali dan menyadari apakah mereka (atau bahkan kita sendiri), tergolong shopaholics atau tidak. Indikasinya antara lain, pertama saat merasa tertekan (misalnya sedang ada problem, stres atau suasana hati sedangbete), yang dilakukan adalah selalu berbelanja, meskipun tidak ada kebutuhan fungsional terhadap barang yang akan dibeli.

Indikasi yang kedua sering menghabiskan banyak uang untuk barang yang tidak dimiliki, dan tidak dibutuhkan. Yang ketiga sering merasakan kenyamanan dan keasyikan yang luar biasa saat berbelanja, namun setelahnya tidak peduli terhadap barang yang dibeli. Keempat sering membeli pakaian yang hanya untuk disimpan dan jarang atau bahkan tidak pernah dipakai. Atau membeli sejumlah barang, perkakas/peralatan yang pada kenyataannya tidak pernah digunakan.

Indikasi kelima sering lepas kontrol ketika berbelanja. Ini ditandai dengan jumlah pengeluaran uang yang melampaui budget. Kemudian yang keenam sering berbohong/merahasiakan pengeluaran uang kepada keluarga ataupun teman-teman. Ketujuh sering merasa tertekan, menyesal dan merasa bersalah dengan kebiasaan berbelanja yang dilakukan, namun kembali terjebak secara terus-menerus mengulangi aktivitas berbelanja yang tidak fungsional. Terakhir sering merasa bingung dengan masalah defisit finansial, bahkan kerap terjebak dalam hutang secara rutin. Tapi yang bersangkutan tetap tak bisa mengendalikan dorongan untuk berbelanja.

Bila, setidaknya ada empat indikasi tersebut yang lebih sering terjadi, maka perlu diwaspadai adanya gangguan shopaholic atau oniomania. Ada beberapa kemungkinan sebab/latar belakang mengapa seseorang terperangkap dalam gangguan shopaholic.

Shopaholic biasanya digolongkan sebagai penyimpangan obsesif-kompulsif; namun eksternal (situasional-sosial-kultural) bisa memberi muatan yang makin mengintensifkan kemungkinan munculnya gangguan shopaholic ini. Dari berbagai sumber teridentifikasi beberapa penyebabnya antara lain maraknya gaya hidup konsumerisme hedonistic, iklim kehidupan dan pola relasi sosial yang kian impersonal (lebih menekankan fungsi, tidak begitu peduli pada kebutuhan empati dan afeksi), tempo kerja yang semakin cepat sehingga banyak orang mengalami keterasingan (alienasi) di tengah lingkungan hidupnya.

Penyebab lainnya adalah berbagai kecemasan yang disebabkan oleh kesulitan hidup yang semakin kompleks, persaingan kerja yang semakin ketat. Selain itu trauma masa lalu, sugesti negatif yang terus dipelihara dalam medan psikologis para shopaholic itu sendiri dan beban hidup yang semakin berat bisa menjadi sebab munculnya sophalohic.

Maraknya gaya hidup konsumerisme hedonistic menimbulkan tekanan bagi banyak orang untuk mengubah dan mengupayakan sekuat tenaga bagi tercapainya pemenuhan standar nilai kehidupan baru yang harus serba berkelas, bergengsi dalam pengertian penampilan fisik dan pemilikan terhadap hal-hal yang sifatnya materialistis. Cara yang paling banyak dilakukan untuk mengatasi hal itu adalah dengan modus instant: yang penting hasilnya, prosesnya soal sekunder. Erich Fromm mengungkapnya dengan istilah berikut: yang lebih utama adalah To have (memiliki, dalam artian material), sedangkan To Be (menjadi, mengada secara manusiawi) itu soal ke sekian yang tak laku dalam kancah pentas kehidupan.

Iklim kehidupan yang kian impersonal menggusur kebutuhan empati dan afeksi menjadi sekadar komoditas yang bisa dibeli dengan uang atau digantikan dengan barang yang terukur nilai tukarnya. Rasa terasing (alienasi) akibat ritme hidup dan ritme kerja yang serba cepat, juga rasa cemas yang merangsek zona internal psikologis sebagai efek komplikatif dari beban hidup, ketatnya persaingan untuk merebut terbatasnya kesempatan, deraan trauma masa lalu yang dibayangi lumuran sugesti negatif akibat rasa khawatir yang terus dipelihara sebagai spirit untuk bertahan hidup, secara serempak memberikan andil bagi suburnya wabah shopaholicdalam kehidupan sebagian orang yang tak mampu dan sempat menyadari situasi serta kondisi kehidupan aktualnya.

Adakah cara efektif untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi intensitas shopaholic pada penderitanya?

Setidaknya perlu ditempuh dua tahap yaitu tahap prinsip dan tahap praktis-konkret. Yang pertama (tahap prinsip) adalah dengan menyadari kembali jati diri kita sebagai manusia yang berhak menentukan posisi dan mengembangkan kemanusiaan dengan berani dalam sebuah proses Menjadi semakin manusiawi (To be) tidak bisa digantikan hanya dengan menimbun/memiliki benda/barang yang dibeli (To have).

Sedangkan tahap berikutnya yaitu tahap praktis-konkret adalah dengan menyadari kebutuhan-kebutuhan yang realistis dan berupaya mengelola dorongan belanja sesuai dengan kebutuhan tersebut. Oleh karena itu membuat perencanaan keuangan yang jelas merupakan faktor yang sangat penting. Bila memiliki kartu kredit, perlu membatasi penggunaannya dengan bantuan pengendalian oleh pihak ketiga. Saat berbelanja, upayakan berpegang pada daftar barang yang memang sudah direncanakan untuk dibeli, karena memang dibutuhkan.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi Edisi No. 11 Tanggal 14 Maret 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*