Artikel Terbaru

Komitmen

[lovedovetarot.com]
Komitmen
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pada suatu saat, seorang ibu dalam arisan RT di sebuah kampung mengatakan, “Ibu A memang tidak memiliki komitmen. Jika ada gosip sedikit saja pasti dia menyebarkan ke mana-mana.” Pada peristiwa yang lain, sekelompok remaja tampak bergerombol menunggu temannya yang belum datang. Salah seorang di antaranya berkata, “Kemarin, ia menyatakan komitmennya akan datang pukul 6. Tapi, nyatanya sampai saat ini ia belum kelihatan juga.”

Kedua contoh ungkapan tersebut di atas menunjukkan bahwa kata yang sama dipergunakan secara berbeda, dengan maksud yang berbeda oleh orang yang berbeda. Pada kasus pertama, kemungkinan kata “tidak memiliki komitmen” diartikan sebagai “tidak mampu menjaga rahasia” atau kemungkinan juga adalah “tidak memiliki tenggang rasa”, sedangkan pada kasus kedua kata komitmen digunakan untuk menggantikan kata janji.

Makna komitmen
Kata komitmen berasal dari bahasa Inggris commitment, yaitu kata benda yang berarti janji atau tanggung jawab; sedangkan commit adalah kata kerja yang berarti (1) melakukan; (2) menjalankan; (3) memasukkan, mengerjakan. Komitmen adalah istilah yang banyak dipergunakan, sehingga istilah tersebut sudah tidak asing lagi bagi telinga sebagian anggota masyarakat. Sayangnya, kata komitmen kadangkala kurang tepat digunakan atau bahkan tidak tepat, sehingga komunikasi menjadi meleset, tidak mengena pada sasarannya.

Sebagian orang menganggap komitmen sebagai sesuatu yang bermakna sangat tinggi, dan sebagian lagi menganggap sebagai sesuatu yang tidak bermakna, sehingga mereka dengan mudah mengingkari komitmen.

Komitmen memiliki objek komitmen, yang berwujud individu, aktivitas maupun institusi. Seseorang dapat berkomitmen terhadap individu lain, dapat pula berkomitmen terhadap aktivitas tertentu yang digemarinya atau dapat berkomitmen terhadap institusi tertentu, baik itu tempat bekerja, organisasi atau komunitas tertentu. Seseorang yang komit seakan-akan mewajibkan diri untuk tetap setia kepada objek komitmen.

Komitmen dapat dinyatakan memiliki tiga komponen, yaitu kognitif (sisi pemikiran), afektif (sisi perasaan), dan konatif (sisi perilaku). Komponen konatif membuat orang yang komit akan berpikir dan mengambil keputusan untuk tetap persisten-setia dengan objek komitmen yang diwujudkan dalam perilaku-perilaku. Komponen kognitif akan membawa orientasi yang panjang, memikirkan masa depan serta mempertimbangkan efek dari perilaku-perilakunya pada masa kini dengan memperkirakan akibat pada masa depannya. Komponen afektif dapat berwujud pelekatan psikologis, di mana kenyamanan emosional individu dipengaruhi oleh reaksi objek komitmen terhadap dirinya dan interaksi di antara mereka. Sisi afektif komitmen menunjukkan bahwa objek komitmen menjadi satu-satunya “tempat bersandar” emosional yang terpercaya bagi dirinya, demikian pula sebaliknya.

Komitmen dan perkawinan
Perkawinan pada umumnya diawali dengan masa pacaran, yaitu suatu masa di mana sepasang laki-laki dan perempuan saling membuka diri untuk menunjukkan siapa dan bagaimana dirinya, sekaligus berusaha memahami pasangannya untuk kemudian memutuskan apakah kedua belah pihak bersedia menerima keberadaan pasangannya atau tidak. Apabila kedua belah pihak dapat saling memahami dan menerima satu dengan yang lain, saling merasa nyaman ketika bersama dengan pasangan, maka mereka meningkatkan hubungan mereka dalam sebuah ikatan perkawinan. Apabila salah satu atau keduanya merasa tidak cocok, sebaiknya dia/mereka mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan selagi masih dalam masa pacaran.

Perlu disadari, berapapun lamanya masa pacaran pada umumnya jauh lebih singkat daripada masa hidup bersama dalam ikatan perkawinan yang dapat berlangsung hingga puluhan tahun. Apabila selama masa pacaran diketahui indikasi ada hal yang tidak baik seandainya dilanjutkan, maka sebaiknya tidak perlu dilanjutkan. Hidup berkeluarga yang puluhan tahun janganlah dipertaruhkan karena salah pilih calon pasangan hidup dalam masa pacaran.

Komitmen untuk menjalin hubungan dengan sungguh-sungguh dari seseorang sudah tampak dalam hubungan berpacaran. Bagaimana orang memandang dan menilai komitmen yang dimiliki pasangannya dalam relasi pacaran adalah hal yang menentukan apa kah hubungan mereka akan beralih ke pernikahan atau tidak. Ketika seseorang telah menentukan pilihan jodohnya dan kemudian mengikatkan diri ke dalam lembaga perkawinan, secara tidak langsung orang tersebut telah menentukan komitmen terhadap pilihan dirinya sendiri.

Individu yang komit cenderung mengadopsi orientasi jangka panjang terhadap relasi mereka dan berpikir bahwa diri individu dan pasangannya adalah satu kesatuan. Individu yang komit akan menunjukkan perilaku bertanggung jawab. Oleh karena itu, mereka yang komit juga melindungi dan menjaga relasi mereka, relasi mereka bersifat akomodatif, bersedia berkorban dan mempertimbangkan agar relasi mereka bertambah baik. Ketika pasangan berperilaku seperti tersebut di atas, maka komitmen melahirkan pengaruh balik yang luar biasa terhadap stabilitas relasi. Relasi perkawinan harus dimaknai sebagai long-lasting relationship, relasi suami-istri yang tidak berkesudahan, dan hanya dipisahkan oleh kematian.

Perilaku yang komit adalah ekspresi cinta. Individu yang mencintai akan menunjukkan cintanya dengan kesediaan untuk memberi, berbagi, melayani, dan berkorban. Perilaku memberi, berbagi, melayani, dan berkorban bertujuan demi menjaga relasi dan menyenangkan pasangannya. Perilaku memberi, berbagi, melayani, dan berkorban tersebut harus dimulai dari hal-hal yang kecil untuk kemudian berkembang semakin lama semakin besar. Di pihak lain, pasangan yang diberi, dilayani, dan merasakan pengorbanan pasangannya akan merasa bahagia. Pada akhirnya, kebahagiaan tersebut dirasakan oleh mereka berdua. Dengan demikian, kebahagiaan akan dirasakan apabila kedua belah pihak bersedia berlomba untuk saling memberi, melayani, berbagi, dan berkorban satu sama lain. Kebahagiaan bukanlah tujuan perkawinan, tetapi akibat yang dirasakan dari perilaku yang bersedia untuk saling memberi, melayani, dan berkorban.

Komitmen dan perceraian
Perceraian memiliki banyak penyebab, dari yang ringan sampai yang sangat berat. Perceraian sering diyakini sebagai penyelesaian masalah yang timbul dalam perkawinan. Kenyataannya, perceraian justru memunculkan masalah-masalah lain yang lebih kompleks, seperti masalah keuangan, masalah yang berkaitan dengan anak, masalah relasi sosial, dan masalah-masalah yang lain. Mereka yang bercerai pada umumnya cenderung menyalahkan pihak lain meskipun sebenarnya kesalahan ada pada diri sendiri. Relatif sedikit orang yang bersedia melakukan refleksi untuk lebih melihat ke dalam diri sendiri, apa dan bagaimana selama ini dirinya memperlakukan pihak lain.

Perceraian merupakan cerminan akan lemahnya komunikasi antara kedua belah pihak, lemahnya strategi untuk mengatasi konflik, serta cerminan egoisme keduanya.

Perceraian adalah pengingkaran terhadap komitmen yang dinyatakan bersama pada awal perkawinan. Perkawinan yang menjaga komitmen akan berorientasi pada pasangan, segala yang diperbuat dan dihasilkan diperuntukkan bagi pasangannya, tidak memikirkan diri sendiri, jauh dari egoisme. Orientasi pada pasangan yang mulai menurun dan berganti pada orientasi diri merupakan awal melemahnya komitmen. Melemahnya komitmen apabila tidak disadari bersama dan tidak dikomunikasikan, akan beralih ke orientasi pada diri sendiri yang semakin lama akan semakin besar. Orientasi pada diri sendiri yang semakin besar identik dengan membesarnya egoisme.

Orientasi pada diri sendiri dapat muncul dalam bentuk usaha untuk mengontrol pihak lain. Egoisme adalah mengontrol pihak lain untuk keuntungan diri sendiri. Akhirnya, egoisme salah satu pihak akan memunculkan egoisme pihak lain, dan hal ini semakin memperparah relasi antarmereka. Egoisme tidak membuahkan kedamaian dan kebahagiaan, namun membuahkan pertentangan, dan akhirnya menuju pada perceraian.

Kedamaian dan perceraian adalah dua kutub pada ujung yang berlawanan. Kedamaian dan kebahagiaan adalah akibat dari kesediaan untuk memberi, melayani, dan berkorban bagi pihak lain. Perceraian didominasi egoisme yang merupakan hasil dari ketidaksediaan untuk memberi, melayani, dan berkorban bagi orang lain. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka kutub mana yang hendak kita raih tergantung pada bagaimana kita memperlakukan pihak lain. Semakin banyak seseorang bersedia memberi, melayani, dan berkorban bagi orang lain, maka akan semakin berlimpah kedamaian akan dirasakan. Demikian pula sebaliknya.

Y. Bagus Wismanto

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. Tanggal 1 Januari 1970

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*