Artikel Terbaru

Pentingnya Musik bagi Kecerdasan Anak

[kingswayshoptalk.com]
Pentingnya Musik bagi Kecerdasan Anak
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tulisan tentang topik yang sama (HIDUP Edisi 52/2010), membahas betapa musik sangat berpengaruh dan dapat menjadi stimulasi bagi kecerdasan anak sejak janin dalam kandungan. Tentu saja hal ini tidak hanya berhenti begitu saja setelah proses kelahiran bayi. Akan muncul pertanyaan lagi, yaitu ‘apakah musik juga dapat menjadi stimulasi bagi perkembangan anak untuk selanjutnya?’ Untuk itu, marilah kita kaji lebih lanjut pertanyaan tersebut.

“Sik sik musik saya suka musik, kamu suka musik, sluruh dunia suka musik……….” Penggalan lagu milik penyanyi Titik Puspa yang dibawakan Geofani dan Saskia ini dulu merupakan lagu yang cukup populer dan dikenal banyak anak ataupun orangtua yang saat itu memiliki anak kecil. Setiap orang, tanpa batasan umur, pasti suka musik karena dapat dijadikan ekspresi jiwa. Bermain musik dapat menambah tingkat kecerdasan anak karena mencakup kepekaan terhadap penguasaan irama, nada, pola-pola, ritme, tempo, instrumen, dan ekspresi hingga seseorang mampu menyanyikan lagu, bermain musik, dan menikmati musik. Kecerdasan bermusik ini juga merupakan salah satu kecerdasan dari delapan multiple intelligences yang dikembangkan Dr Howard Gardner.

Pada dasarnya, setiap anak memiliki kecerdasan bermusik secara alamiah. Bayi usia dua bulan sudah dapat menyenandungkan nada tinggi dan melodi nyanyian yang didengarnya, misalnya lagu yang disenandungkan ibunya. Pada usia empat bulan, bayi sudah mampu mengikuti irama lagu. Kecerdasan alamiah ini akan bertambah atau berkurang tergantung pada lingkungannya.

Musik merupakan bahasa yang universal. Musik telah berada di sekeliling kehidupan manusia sejak dia berada dalam kandungan ibunya. Selain itu, musik juga mempunyai peranan penting dalam perkembangan kehidupan manusia. Dalam kehidupan manusia, otak juga ikut berkembang seiring dengan bertambahnya usia seseorang dan pengalaman belajar yang dimilikinya. Ketika seorang anak lahir ke dunia, otak yang dimilikinya masih jauh dari sempurna. Stimulus berupa musik klasik (terutama Mozart), dapat memperkuat hubungan antarneuron yang berhubungan dengan kemampuan dalam memecahkan masalah-masalah yang bersifat abstrak.

Kecerdasan musik ini dapat dirangsang hingga anak berusia tiga tahun. Imitasi dan eksplorasi terhadap berbagai bunyi, gambar, dan gerakan menjadi bagian dari pengalaman hidup anak sehari-hari. Untuk mengasahnya, orangtua atau guru dapat secara imajinatif bernyanyi, berbicara, bermain, mendengarkan, menggambar, menonton, menari, dan meniru berbagai gerakan bersama anak.

Kecerdasan musik diindikasikan memiliki banyak pengaruh terhadap perkembangan kognitif dan emosional anak. Misalnya saja, anak dapat mengenal dan menghafal nada-nada. Di sini berarti musik dapat mengasah daya ingat dan mengembangkan daya imajinasi anak sehingga menjadikannya lebih kreatif. Berkaitan dengan hal tersebut, musik secara unik menambah fungsi otak yang dibutuhkan dalam mempelajari matematika, sains, catur, serta bidang mekanik. Secara emosional, mendengarkan musik juga dapat membantu mengatasi kebosanan atau melepaskan stres. Jika musik diperdengarkan pada anak sekitar 10-20 menit sebelum tidur, maka anak juga dapat lebih tenang dan nyenyak tidurnya. Tidak bisa dipungkiri, musik memang memiliki kekuatan luar biasa yang juga berdampak besar bagi kejiwaan anak.

Para peneliti dari University of Munster di Jerman menemukan bahwa pelajaran musik bagi anak secara nyata memperluas area otak. Area yang digunakan untuk menganalisis tinggi rendahnya nada meluas sebesar 25 persen pada para musisi dibandingkan orang yang tidak pernah memainkan alat musik. Area tersebut membesar melalui latihan dan pengalaman. Semakin dini musisi memulai latihan musik, maka akan semakin besar pula area tersebut pada otak.

Musik ternyata tidak hanya berkaitan dengan perkembangan kognitif, tetapi juga mengembangkan kecakapan sikap, tingkah laku, dan disiplin anak. Melalui musik, rasa percaya diri anak meningkat dan menular ke bidang lainnya, seperti matematika, geografi, ekonomi, dan sebagainya. Selain itu, anak yang mempelajari musik yang disertai dengan gerakan-gerakan, misalnya Yoga atau Taichi dapat membuat anak lebih tenang dan memiliki konsentrasi tinggi. Selain itu, sajian musik dapat memberikan pengaruh pada peningkatan prestasi akademik, demikian juga jika anak belajar memainkan instrumen sejak usia dini. Dengan demikian, secara emosional anak lebih terkendali, lebih mampu berkonsentrasi, dan tentu saja akan berpengaruh pada perilakunya atau prestasi belajarnya jika ia sudah bersekolah.

Mengingat manfaat musik yang sungguh luas, maka peneliti mulai mengembangkan terapi musik. Berdasar penelitian, ternyata musik bermanfaat untuk menangani berbagai masalah, dari kecemasan hingga kanker, tekanan darah tinggi, disleksia, serta dapat mengoptimalkan kemampuan dan potensi para penyandang tunagrahita, yaitu mereka yang mengalami keterbelakangan mental, juga pada anak yang mengalami gangguan emosi ringan, keterlambatan bicara, autis, kekakuan otot ringan, dan sebagainya.

Akhirnya, kita semakin mengetahui bahwa musik ternyata mampu mempengaruhi perkembangan intelektual anak, sekaligus membuat anak lebih pintar bersosialisasi. Namun perlu diketahui pula, tidak semua jenis musik berpengaruh positif, walaupun hanya sekadar menjadi pengantar tidur. Fakta terbaru menyimpulkan, semua musik berirama tenang dan mengalun lembut dipercaya dapat memberi efek yang baik bagi bayi dan anak-anak. Kita tahu juga bahwa yang dimaksud dengan musik di sini tidak hanya mendengarkan atau menikmati musik, tetapi juga dapat diartikan sebagai bermain musik atau memainkan alat musik.

Hal ini dapat memotivasi orangtua untuk berbondong-bondong memasukkan anak ke tempat kursus musik. Tapi, bagaimana untuk anak yang tidak atau kurang berminat pada musik? Akan muncul dilema jika orangtua belum melihat minat dan bakat musik anak, sehingga terkesan menimbulkan keterpaksaan dalam diri si anak.

Namun, sebenarnya tidak ada masalah jika orangtua memasukkan anak ke tempat kursus musik sejak dini meskipun belum terlihat bakat musiknya. Hal itu karena terkadang minat dan bakat muncul setelah latihan beberapa lama. Seandainya anak akhirnya tidak berminat atau berbakat, paling tidak ia telah belajar banyak hal yang akan berguna untuknya. Meskipun akhirnya anak tidak menekuni permainan musiknya, paling tidak dia sudah mendapatkan stimulasi untuk sedikit melatih konsentrasi dan memorinya.

Akhir kata, tidak ada yang lebih indah daripada kita melihat anak kita berkembang secara optimal, baik secara kognitif, emosional, ataupun tindakan atau perilakunya. Tentu saja semuanya akan menjadi bekal hidupnya kelak dalam menapaki kehidupan lewat proses belajar dan pengalaman.

Dra. Emiliana Primastuti Msi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. Tanggal 1 Januari 1970

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*