Artikel Terbaru

Belajar Menjadi Bos yang Baik

[hedgehogconsultinginc.com]
Belajar Menjadi Bos yang Baik
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dunia kerja memiliki dinamika yang unik. Keunikan ini karena ada banyak kepentingan yang dibawa oleh mereka yang bekerja, termasuk kemungkinan nilai-nilai pribadi yang tentu saja mewarnai pola kerjanya. Perbedaan kepentingan dan nilai-nilai pribadi inilah yang seringkali menimbulkan gesekan antarpribadi. Terlebih karena jam kerja yang dihabiskan di kantor yang tak jarang justru lebih banyak dibanding di rumah.

Banyak konflik yang timbul karena rasa iri, marah, saling ‘ngegroup’, kompetisi yang tidak sehat, saling menjatuhkan antara teman karena kepentingan pribadi yang lebih dominan, rendahnya keikatan dengan pekerjaan atau organisasi, serta banyak faktor yang bisa memicu konflik dalam pekerjaan. Tentu saja ini bisa dialami di banyak tempat kerja karena memang tidak ada pekerjaan yang tidak ada persoalan sama sekali. Justru dalam situasi demikian yang sangat dibutuhkan adalah peran seorang bos (pimpinan).

Seorang pimpinan (bos) dalam sebuah organisasi atau tempat kerja memegang peran sentral. Ibarat sebuah kereta kuda, maka bos adalah sais atau kusirnya. Jadi, irama organisasi sangat ditentukan oleh kemampuan seorang pimpinan memegang kendali atas kereta yang ditumpangi bersama. Tidak mudah memang bagi seorang pimpinan karena tugas dan tanggung jawabnya sangat berat. Semua ini membutuhkan kematangan diri dan kemampuan berpikir. Kualitas seorang bos akan sangat ditentukan oleh tiap kebijakan yang diambil, atau justru yang paling sederhana adalah bagaimana ia menyikapi semua persoalan yang ada. Tulisan ini tidak untuk membahas pimpinan suatu negara, partai, atau mengkritisi kepemimpinan di Indonesia saat ini, namun lebih pada konteks organisasi atau lingkungan kerja terdekat kita, terutama mereka yang baru saja menjadi pimpinan dan memimpin rekan-rekan yang jumlahnya tidak terlalu besar.

Sebenarnya ada banyak tulisan yang mengulas tentang menjadi pimpinan yang baik, yang diulas dengan berbagai teori atau riset yang mendalam dari sejumlah ahli kepemimpinan. Namun, tulisan ini lebih berbagi tips-tips sederhana yang semoga bermanfaat bagi siapapun yang saat ini sedang belajar menjadi pimpinan untuk kelompok atau organisasi kecil di lingkungan terdekat. Judul di atas menggunakan istilah ‘bos’ yang bisa dimaknai sebagai pimpinan.

• Menjadi pimpinan harus memiliki visi misi dan terlebih konsep mengenai bagaimana organisasi akan dijalankan. Tanpa itu semua, maka apa yang dilakukannya semata hanya menjalankan rutinitas tanpa arah yang jelas. Hal itu tentu juga akan membingungkan para anggota atau bawahan karena mereka hanya akan meraba ke mana mereka akan dibawa pergi. Kejelasan konsep dan visi misi juga akan menunjukkan kemampuan bos dalam meraba arah organisasi, kekuatan dan kelemahannya, serta bagaimana ia akan membawa gerbong organisasi ini ke tujuan yang hendak dicapai.

• Teguh pada prinsip dan memegang keyakinan, tidak gampang digoyahkan oleh pengaruh dan tekanan yang ada. Seorang bos hendaknya tidak gampang ragu serta mengikuti pengaruh atau tekanan luar yang nantinya bisa dibaca sebagai pimpinan yang tidak memiliki pendirian. Prinsip dan keyakinan ini hendaknya lepas dari kepentingan pribadi atau kelompoknya sendiri, murni sebagai keyakinan atau prinsip yang nantinya akan bermanfaat bagi organisasi.

• Tidak mudah termakan oleh gosip atau kasak-kusuk, terlebih jika ini kemudian menjadi dasar untuk mendiskreditkan orang lain, menyalahkan orang lain, atau justru yang paling parah menjadikannya sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Yang tidak kalah penting adalah seorang bos hendaknya bisa mengayomi semua anggota atau bawahannya tanpa kecuali, tidak hanya dikuasai ego pribadi yang justru menjadikan power atau kekuasaannya untuk menjatuhkan orang lain.

• Seorang bos sebaiknya juga tidak gampang menyebarkan fitnah, berita bohong sekadar menjatuhkan orang lain yang menjadi lawan atau orang yang tidak disukainya. Hal ini justru akan menunjukkan kekerdilan dirinya karena berarti ia tidak mampu mendudukkan pikiran logiknya dalam memposisikan diri dan masalah yang ada. Dalam hal ini, objektivitas dan rasionalitasnya akan diuji. Seringkali terjadi di beberapa organisasi atau tempat kerja, bos menjadikan lawan atau orang yang tidak disukai sebagai musuh bersama sekadar untuk mendapatkan simpati bawahannya. Seorang bos yang tidak fokus pada pekerjaannya akan mudah tergoda untuk mencari-cari sumber yang bisa disalahkan karena ini menjadi semacam mekanisme pertahanan ego untuk menutupi kelemahannya karena ia tidak memiliki visi misi dan konsep yang jelas tentang bagaimana ia harus mengelola tugas dan pekerjaannya atau mengarahkan bawahan.

• Menjadi panutan dan teladan, dan jika mungkin bisa menjadi kebanggaan bagi anak buah. Prestasi seorang pimpinan di tataran yang lebih luas akan memberikan semacam rasa bangga bagi bawahan atau anak buahnya karena mereka akan menjadi lebih respek dan menghargai pimpinan. Oleh karena itu, penting bagi seorang pimpinan untuk banyak menjalin relasi, membangun networking di luar organisasi agar organisasinya bisa lebih dikenal di luar. Alangkah idealnya jika bos juga bisa memberikan jalan bagi anak buahnya untuk mengembangkan diri melalui networking yang telah dibangunnya.

• Merangkul sebanyak mungkin orang, bersikap rendah hati, berpikir terbuka, mau menerima masukan orang lain, menerima kritik meski menyakitkan. Seorang bos yang ‘bossy’ terutama dalam tutur kata, hanya akan membuat orang lain sebal dan mungkin menjadi geram. Kerendahan hati tanpa memandang orang dari sisi kasta pendidikan, usia, harta kekayaan atau gelar, akan menumbuhkan respek orang lain. Baik juga jika bos mampu berkomunikasi dengan efektif sehingga apa yang dipikirkan dan dikehendakinya bisa disampaikan dan tidak disalahartikan orang lain begitu saja. Seringkali yang terjadi, seorang bos tidak mau mendengarkan saran orang lain, terutama jika itu dari orang yang memiliki jabatan jauh di bawahnya atau yang dianggapnya bukan levelnya.

• Berpikir positif dan tidak hanya berpikir negatif. Pikiran positif atau negatif ini akan tampak dari cara bersikap dan bertingkah laku, serta bagaimana memperlakukan orang lain. Seorang bos yang selalu berpikir negatif akan cenderung mencari banyak musuh karena ia merasa posisinya sangat tidak aman, dan orang lain akan menjadi batu sandungan baginya. Terutama jika ada orang yang tidak disukainya. Sebenarnya seorang bos harus bisa mengayomi semua orang tanpa kecuali, menjadi tempat berbagi dan mencari masukan, serta seseorang yang bisa dipegang tutur kata dan sikapnya. Tidak mudah plin plan dalam mengambil keputusan atau dalam bersikap.

• Bersedia selalu belajar dan belajar dari semua orang, jika perlu bertanya kepada orang yang dianggap tahu, termasuk kepada orang yang kemungkinan tidak disukainya. Ini menunjukkan bahwa ia cerdas dalam menyerap berbagai informasi, tidak menutup diri bagai katak dalam tempurung. Kesediaan belajar ini juga akan membuatnya lebih bijak dalam menyikapi berbagai persoalan, menggali banyak pengetahuan agar apa yang dikerjakannya bisa lebih bermanfaat. Ini juga berarti bahwa ia cukup rendah hati untuk membuka diri, tidak merasa paling benar.

• Di atas semuanya, sebenarnya seorang bos tidak harus orang yang sangat pintar, namun yang lebih penting adalah landasan kepribadian yang matang dan dewasa. Kedewasaan dan kematangan pribadi ini akan menjadi fondasi untuk menghadapi berbagai tekanan yang ada. Tentu saja menjadi bos sepanjang perjalanannya akan mendapati begitu banyak persoalan. Semuanya perlu disikapi secara arif dan tidak emosional atau reaktif. Sifat yang impulsif akan menunjukkan ketidakmatangannya dalam menghadapi persoalan yang timbul. Kedewasaan diri akan membuat orang lain respek dan menaruh hormat karena ia mampu menjadi suri teladan bagi orang lain, menginspirasi orang lain, dan bisa menjadi motivator bagi anak buah atau bawahannya dengan baik.

• Perlu dipahami, bahwa menjadi bos atau pimpinan berarti mengemban amanat untuk memberdayakan orang lain, tidak semena-mena, terlebih bersifat arogan dan sok penting. Ini akan menjadi bahan tertawaan orang lain. Bagaimanapun, kekuasaan yang dimiliki tidak akan bertahan lama, ada saatnya akan diganti orang lain. Aroganitas, kesombongan, dan sifat merasa paling penting dan hebat hanya akan menunjukkan betapa kita kosong dalam memahami makna sebagai pimpinan.

• Terakhir, semoga tulisan ini bermanfaat sebagai masukan dan tambahan pengetahuan dari berbagai literatur atau tulisan dengan tema sejenis. Tentu saja masih banyak yang bisa didiskusikan dengan tema yang sama. Saya berharap, siapapun yang menjadi pimpinan, bisa mengayomi orang lain tanpa pandang bulu, menjadi suri teladan bagi anak buah, dan tentu saja membawa organisasi ke arah lebih baik. Semoga bermanfaat.

Th. Dewi Setyorini

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 1 Tanggal 2 Januari 2011

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*