Artikel Terbaru

Santo Damian de Veuster: Semangat Pengabdian Seorang Imam

Santo Damian de Veuster (Sumber Foto: NN).
Santo Damian de Veuster: Semangat Pengabdian Seorang Imam
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – SANTO Damian de Veuster terkenal karena keberaniannya merasul di tengah-tengah orang kusta, bahkan ia sendiri menutup usia karena terinfeksi virus mematikan ini.

Seminari Tinggi Loo Damian, Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan lembaga pendidikan calon imam dari Keuskupan Sumba, Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, dan Keuskupan Merauke. Sesuai dengan ciri khas santo pelindungnya, Seminari ini tidak saja membina intelektualitas para calon imam.

Praeses Seminari Loo Damian, Pastor Gerard Herry Fernandes Pr, berkata, “Para frater di sini dididik kehidupan rohaninya agar mereka memiliki semangat pengabdian pada orang-orang yang lemah dan terbuang seturut teladan Santo Damian.” Selain kegiatan yang bersifat akademik, seminari mengadakan kegiatan sosial seperti mengunjungi orang sakit di rumah sakit, mengunjungi para napi di penjara, anak-anak cacat, serta para penderita lepra.

Karya Santo Damian dalam memperhatikan kaum lemah dan terbuang ini yang mau diangkat Seminari ini sejak berdirinya. Ia sangat mencintai dan memperhatikan orang-orang kecil, terutama kaum lepra, bahkan ia sendiri meninggal karena tertular penyakit mematikan ini.

Orientasi Pendidikan
Pastor Herry bertutur, “Seorang imam harus memberi diri seutuhnya kepada umatnya bahkan harus mati ditengah umatnya seperti Kristus dan Santo Damian.” Seminari ini juga memiliki studio rekaman lagu yang diberi nama Damian Grup yang hingga saat ini telah melahirkan beberapa seri album rohani yang dinyanyikan oleh para frater sendiri. Mereka ingin mengembangkan bakat mereka di bidang seni musik. Hal ini dilakukan untuk menghibur serta menguatkan mereka yang lemah dan terbuang.

Pastor Herry Fernandes mengatakan, tantangan terbesar dalam membina dan mendidik para calon imam dewasa ini adalah berkurangnya internalisasi nilai-nilai kehidupan rohani. Hal ini disebabkan karena sebelum masuk seminari, keluarga para calon imam pada umumnya kurang menanamkan nilai-nilai kehidupan dan kedisiplinan hidup serta daya juang.

Bentuk pendidikan pun disesuaikan. “Kami membentuk calon-calon imam secara berimbang tanpa melebihkan atau memojokkan salah satu aspek. Aspek rohani, intelektual, kematangan emosi, kepribadian hingga aspek pastoral yang baik harus seimbang dan menjadi satu kesatuan dalam diri para frater,” tuturnya.

Dua seminaris, Fr Isidorus Milik dan Fr Timotius Wake mengungkapkan bahwa kehidupan rohani yang mereka jalani di seminari ini membantu mereka membentuk diri menjadi sosok calon imam yang memiliki kepekaan dan kepedulian pada masyarakat. “Santo Damian merupakan pribadi yang sederhana dan memiliki kepekaan dan kepedulian yang begitu tinggi pada sesama serta semangat melayani. Hal ini yang kami teladani,“ ujar Frater Isidorus.

Frater Timotius Wake menambahkan, “Di sini, kami sering mengunjungi para penderita lepra di Rumah Sakit Lepra Naob, Noemuti dan Rumah Sakit Katolik Marianum Halilulik, Atambua.” Dengan melakukan kunjungan ini, mereka turut merasakan beban dan derita yang dirasakan para penderita. “Dan, dengan semua program pendidikan yang ada di seminari ini, kami yakin bisa menjadi Damian-Damian baru di era Modernisasi,“ tegasnya.

Seminari Tinggi Tahun Orientasi Rohani Loo Damian didirikan pada 1989 atas persetujuan dan dukungan dari para uskup se-Nusa Tenggara. Sebelumnya, para para calon imam dari keuskupan ini masih bergabung dengan Seminari Tinggi St Palus Ritapiret, Ende, Flores, NTT.

Seminari Tinggi Loo Damian sejak berdirinya berada dalam empat masa kepemimpinan yaitu Pastor Edmundus Nahak Pr, yang saat ini telah memasuki masa purnakarya, Pastor Stefanus Boik Pr, Pastor Valens Boy Pr, dan Pastor Gerrard Herry Fernandes Pr yang menjabat praeses sejak 1998.

Berkarya untuk Molokai
Pater Damian yang memiliki nama kecil Yoseph de Veutser adalah misionaris asal Belgia yang berkarya di Pulau Molokai, Hawai. Ia lahir dari keluarga pedagang yang kaya raya. Orang tuanya menginginkan Joseph de Veuster kelak menjadi pedagang sukses mengikuti jejak karier sang ayah. Tetapi, meski memiliki pendidikan di bidang bisnis, hal itu tak membuatnya lupa pada cinta Tuhan. Rasa cinta itu diwujudkan dengan memutuskan untuk menjadi imam pada kongregasi imam-imam Hati Kudus Yesus dan Maria (SSCC) pada 1858.

Kakaknya August yang telah menjadi imam kongregasi SSCC telah dikirim ke Hawai, namun dalam masa karyanya ia terserang penyakit tifus. Dengan semangat pelayanan yang tinggi, Damian meminta kepada pimpinan kongregasinya untuk menggantikan August, sang kakak, meski ia sendiri belum ditahbiskan menjadi imam.

Pada 19 Maret 1864, Damian menginjakkan kakinya di Molokai dan ditahbiskan menjadi imam pada 21 Mei 1864 di Gereja Katedral Bunda Perdamaian Honolulu, Hawai. Suatu fakta yang ia temui dan sangat mengerikan saat itu bahwa begitu banyak penderita kusta yang diisolasi oleh kerajaan Hawai. Ironisnya, para penderita ini tidak mendapat perhatian dari sesama. Hal itu diperburuk lagi dengan tidak adanya dokter maupun imam yang merawat orang-orang terbuang ini.

Atas dorongan cinta kepada sesama yang terbuang ini, Pastor Damian mulai belajar bagaimana merawat para penderita kusta hingga pemakaman yang layak dengan mengajukan permohonan pada uskup setempat. Sambil merawat para kusta, ia giat mewartakan kabar gembira bagi para penderita kusta yang saat itu berjumlah sekitar 816 orang.

Dalam karyanya, Pastor Damian dibantu para Suster Fransiskan Syracuse New York dan beberapa awam. Mereka membangun sarana jalan dan pipa air rumah-rumah tinggal, pertanian dan perkebunan.

Kedekatannya pada para penderita kusta ini membuat ia akhirnya harus terjangkit virus itu. Dengan tangan tergantung di dada, kaki terbebat, dan jalan terseret, ia masih membuktikan cintanya kepada sesama terutama penderita kusta. Selama lima tahun ia harus menanggung derita penyakit ini. Akhirnya, ia menghembuskan nafas terakhir pada 1889, pada usia 49 tahun.

Pada 11 Oktober 2009 Paus Benediktus XVI mengkanonisasinya sebagai Santo bagi para penderita kusta. Sebelumnya, Santo Damian digelari Beato oleh Paus Yohanes Paulus II pada 4 Juni 1995.

Fransiskus Pongky Seran

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 2 Tanggal 8 Januari 2012

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*