Artikel Terbaru

Karunia Roh Kudus

Sumber Ilustrasi: notshaken.wordpress.com
Karunia Roh Kudus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comApakah karunia-karunia Roh Kudus yang diberikan pada Gereja awali dulu itu, masih diberikan oleh Tuhan pada masa kini? Ada seorang teman yang mengklaim mendapat karunia nubuat, dan dia dengan cepat sekali memberikan penilaian kepada orang lain dengan mengatakan, ”Inilah Sabda Allah kepada Anda.” Kemudian, dia menyampaikan apa saja yang muncul dalam pikirannya. Saya pribadi merasa penilaiannya sedemikian ”menghakimi” seolah tidak memperhatikan segi pribadi orang lain. Bagaimana pendapat Romo?

Antonia Yovita Nurhalim, Malang

Pertama, karunia adalah anugerah cuma-cuma dari Allah yang diberikan untuk kebaikan jemaat (1 Kor 12:7; bdk LG 12). Ada banyak karunia. Paulus memberikan daftar karunia, meskipun bukan daftar yang lengkap, misalnya karunia mengajar, karunia menyembuhkan, dan lain-lain (1 Kor 12:8-11). Sebagai anugerah cuma-cuma dari Allah, karunia tidak dapat dikejar atau diusahakan, seolah-olah merupakan hasil upaya manusia dan bisa kita miliki sesuka kita. Pada umumnya karunia diungkapkan dalam bentuk pelayanan-pelayanan dalam komunitas kristiani. Aneka karunia itu ditujukan untuk mendukung kehidupan jemaat: ”Kamu memang berusaha memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari itu hendaklah kamu menggunakannya untuk membangun jemaat” (1 Kor 14:12).

Kedua, karunia-karunia Roh Kudus itu masih diberikan Allah kepada Gereja sampai saat ini. Biasanya para anggota gerakan Karismatik yang mengklaim memiliki karunia-karunia tersebut. Tetapi, karunia-karunia itu juga diberikan Allah kepada murid-murid Tuhan di luar gerakan Karismatik. Tidak ada monopoli karunia Roh Kudus, sebab Roh Kudus berhembus ke manapun Dia kehendaki.

Roh Kudus adalah jiwa Gereja. Jika Gereja sungguh hidup dari Roh Kudus, maka seluruh Gereja dan setiap orang Kristiani sesungguhnya bersifat karismatik. Ini akan menjadi lahan yang subur bagi Roh Kudus untuk mewujudkan kehadiran-Nya dalam rupa karunia-karunia.

Ketiga, Paulus memperingatkan agar sangat berhati-hatimenggunakan karunia Roh Kudus ini. Misalnya, karunia nubuat diberikan Roh Kudus untuk membangun, menasihati, dan menghibur. Biasanya karunia ini berupa penghiburan yang meneguhkan atau mendorong orang lebih berbakti dalam jemaat (bdk 1 Kor 14:3), bukan dalam bentuk penghakiman akan tindakan-tindakan anggota jemaat. Karena itu, para Uskup Indonesia menegaskan: “Nubuat memerlukan tafsir orang yang mampu memilah-milahkan jenis-jenis pengaruh Roh dan akibat-akibatnya. Oleh sebab itu, seyogianya nubuat terlaksana dalam suasana kelompok yang damai dan dibantu pemimpin doa yang bijaksana.”(KWI, Aneka Karunia, Satu Roh, Surat Gembala mengenai Pembaruan Karismatik Katolik, No 17).

Penggunaan karunia nubuat yang seolah dengan pasti menyampaikan Sabda Tuhan kepada seseorang (”Inilah Sabda Allah kepada Anda”), kiranya perlu dicurigai. Selain Yesus, kiranya tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa berkata: ”Barangsiapa mendengar aku, mendengar Allah.” (bdk Yoh 14:9). Kedosaan dalam diri manusia seringkali menghambat kita untuk sungguh transparan mendengarkan dan menyampaikan Sabda Tuhan kata per kata.

Apa artinya dosa melawan Roh Kudus tidak bisa diampuni? Dosa yang bagaimana itu?

Marianna Silahit, Surabaya

Ketiga Injil Sinoptik mengatakan pokok di atas (Mat 12:31; Mrk 3:28 dan Luk 12:10). Markus dan Lukas mengeksplisitkan dosa itu, yaitu ”menghujat Roh Kudus”. Kita tahu bahwa Roh Kudus berkarya di dalam hati manusia dan menginsyafkan manusia akan dosa, kebenaran, dan pengadilan. Hujatan di sini tak lain adalah penolakan untuk menerima keselamatan yang oleh Tuhan ditawarkan kepada manusia melalui Roh Kudus. Karena yang ditolak adalah Roh Kudus, sedangkan Roh Kudus itulah yang menyadarkan manusia akan dosa dan mendorong pertobatan, maka ”menghujat Roh Kudus” berarti menolak secara radikal pengampunan yang ditawarkan melalui Roh Kudus.

Dosa menghujat Roh Kudus adalah ”dosa yang dilakukan oleh seorang pribadi yang menyatakan mempunyai ’hak’ untuk tetap bertahan dalam kejahatan – dalam dosa macam apa saja – dan dengan demikian menolak penebusan” (Dominum et Vivificantem, No 46). Karena menutup diri dalam dosa, sehingga tidak ada pertobatan, dan konsekuensinya tidak ada pengampunan dosa.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 21 Tanggal 23 Mei 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*