Artikel Terbaru

Si Romantis

[mfrw.blogspot.com]
Si Romantis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sabtu malam itu, Ike (bukan nama asli) merasa terlambung di puncak kehidupan. Tepat pada hari ulang tahunnya ke-27, seorang cowok perlente (sebut saja namanya Sony), rekan sekantor yang telah lama diidamkannya, datang kepadanya dan mengungkapkan perasaan cintanya melalui pembacaan surat puitis sepanjang tiga setengah halaman. Jauh sebelum momen itu terjadi, sebenarnya Ike juga telah menyimpan perasaan khusus terhadap Sony. Namun, demi kepantasan sosial sebagai wanita, ia tak mau mendahului mengungkapkannya.

Dua bulan sudah kisah kasih ini bergulir. Begitu lengketnya hati Ike pada Sony, sebagaimana yang dirasakan Sony terhadap Ike. Tak ada hari tanpa ungkapan kemesraan, baik melalui smsyang penuh kode misteri “inter-subjektif” (yang hanya diketahui kedua insan), telepon, maupun surat yang saling disisipkan saat jalan bersama ketika berangkat dan pulang kerja. Ike sering tak kuasa menyimpan kebahagiaan hatinya, dan menceritakan seluruh perasaannya mengenai Sony kepada Tatik sahabat dekatnya. “Wooi…, sumpah deh Tik,…Sony-ku sangat romantis…,” demikian akhir kalimat yang sering diucapkan Ike setiap kali habis menceritakan manuver-manuver ungkapan perasaan Sony terhadap dirinya.

Dalam khazanah relasi percintaan/asmara, sifat dan pembawaan romantis banyak diimpikan orang. Tak sedikit wanita dan pria lajang memimpikan, kelak bisa mendapatkan pasangan yang romantis. Kisah para pasangan abadi legendaris, tema-tema karya sastra (puisi, novel, drama) dan film banyak membeberkan keindahan romansa percintaan romantis, yang tak lain jangkarnya ada di diri pelaku serta tokoh yang dideskripsikan memiliki sifat serta pembawaan romantis.

Dalam kenyataan, pria maupun wanita yang disebut romantis adalah pemuja keindahan. Mereka suka menciptakan, mengkreasi lingkungan sedemikian rupa untuk memenuhi selera keindahan. Dan, biasanya dengan cara menumbuhkan serta mengembangkan perasaan-perasaan pribadi. Realitas sehari-hari yang bagi orang umum dianggap “biasa”, diubah dan ditata dalam imaji kreatif yang kaya impresi, dengan sentuhan rasa. Di tangan seorang romantis, hal-hal yang bagi banyak orang hanya merupakan “onggokan” benda, suasana, ucapan, atau kesan, diangkat ke tataran “karya” (dalam ungkapan verbal maupun non-verbal) yang lebih indah, diwarnai gairah, imajinasi, serta kesima impresi yang menyentuh hati.

Si romantis memampatkan segala hal yang mengesan secara pribadi dalam torehan yang menetas dan merekah dari (dan menjadi ungkapan) perasaan yang sifatnya pribadi. Ungkapan perasaan pribadi ini, bagi orang lain pada umumnya dan khususnya bagi pasangan dalam relasi asmara, sangat mungkin meninggalkan endapan impresi di pedalaman batin. Ada yang bahkan sampai permanen menjadi “tak terpudarkan”, bahkan oleh fakta yang bertolak belakang dengan apa yang diimpresikan. Ini terutama dialami individu-individu yang begitu dalam menyimpan impresi dari apa-apa yang diungkapkan oleh seseorang yang romantis. Ini menjadi semacam “fantasi yang mencandui”.

Di dunia batin si romantis sendiri, sering terjadi ledakan-ledakan motif untuk terus berupaya melindungi dan menegakkan citra-dirinya, baik di mata pasangan yang dipuja maunpun di mata diri sendiri. Oleh karenanya, tak mengherankan bila banyak orang bertipe romantis, cenderung suka menghamburkan tenaga, materi, dan waktu demi memenangkan perasaan-perasaan personalnya. Sisi lain di balik “kharisma” penampilan para pribadi romantis adalah adanya kecenderungan suka hidup di alam fantasi, sering terlena dalam gelombang naik turun antara kenyataan dan impian, mudah merasa kasihan terhadap diri sendiri, dan mudah iri hati terhadap orang lain. Si romantis juga cenderung sensitif, sehingga sering mudah diterpa kekecewaan. Bila kecewa, mereka sering mudah jatuh dalam suasana hati melankolis, cenderung semaunya sendiri, dan menjadi kurang praktis, dan kurang produktif.

Dengan deskripsi tersebut, apakah “bakat” romantis harus dinegasikan dan ditolak? Bagaimana kalau sang pacar, atau bahkan pasangan mapan (suami/istri) kita tergolong si romantis? Tidak perlu menolak, menyalahkan, atau menghindari mereka. Tetap apresiasilah sisi positif si romantis, karena nyatanya itu sangat menyenangkan dan membuat hidup ini serasa “lebih hidup”. Yang perlu diupayakan adalah mengoptimalkan sisi positif dan meminimalkan sisi lain, yang merupakan kelemahannya. Caranya bisa diupayakan dengan memperhatikan pengelolaan pada beberapa hal penting, antara lain:

• Kedisiplinan. Disiplin diri berkaitan dengan pengaturan ritme menjalani kehidupan, yang bisa “menjaga” efektivitas waktu. Dengan cara ini si romantis dapat mengontrol diri untuk tidak menghamburkan tenaga, materi, dan waktu semata demi memenangkan perasaan-perasaan personalnya. Dengan kedisiplinan, agenda-agenda kehidupan penting bisa mendapat kesempatan untuk direalisasikan, demi kepenuhan hidup itu sendiri
.
• Tindakan praktis dan konkret. Lakukan agenda tindakan praktis untuk setiap hal yang menuntut tindakan nyata. Proaktivitas menghadapi realitas hidup akan mendorong orang untuk bertindak “pada waktu dan situasi yang seharusnya”. Kebiasaan untuk melakukan tindakan praktis dan konkret akan meminimalkan ketergantungan (dan kemalasan) kita pada sikap memenangkan kenyamanan “mood”.

• Keberanian keluar dari perasaan diri sendiri. Meskipun keluasan dan kedalaman realitas hidup dan kehidupan ini sebagian besar “dipetakan” oleh dan dari diri sendiri (dalam pikiran, perasaan, sikap, dsb), namun kenyataannya kita hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, minimal dengan anggota keluarga lain, pasangan, partner, sahabat atau rekan kita. Di batas tertentu, orang harus berani merelakan dan memahami realitas menurut sudut perasaan orang lain. Di balik “objektivitas” perasaan orang lain, seringkali terpancar keindahan riil, tanpa mesti kita “paksa” menjadi bagian dari perasaan subjektif kita. Berani keluar dari pusaran perasaan diri sendiri, biasa membantu penjarakan (distansi) terhadap subjektivitas yang sempit. Dengan cara ini, si romantis akan lebih mampu mengurangi secara bertahap sensitivitasnya saat menghadapi/merasakan hal, peristiwa, dan situasi yang semula dengan mudah memicu rasa kecewa, iri hati, dan rasa keterpurukannya secara subjektif.

Minimal dengan mengelola ketiga hal yang signifikan dalam kehidupan hampir semua orang, sisi lain yang merupakan “kekurangan” kaum romantis bisa terbantu untuk diminimalkan secara bertahap. Berdasar pengalaman bergaul, bersahabat, dan menjalin relasi dekat dengan para insan romantis, ternyata di ketiga hal itu justru paling sering berurusan dengan situasi yang “alot”. Bagi mereka yang memiliki pasangan romantis (pacar, suami, istri) tentunya bisa menemukan “strategi” tertentu untuk membantu pengelolaan di ketiga hal tersebut. Sebagai pasangan, mencecap dan menjalani relasi romantis berdua sepanjang waktu, rasanya sangat menyenangkan. Tetapi bila hal itu 100% akan dipertahankan, maka kehidupan tak akan benar-benar nyata.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 49 Tanggal 5 Desember 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*