Artikel Terbaru

Pengalaman Sakit

[insidetheshrink-dailygrace.blogspot.com]
Pengalaman Sakit
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh yang baik, saya berusia 35 tahun, sedang mengalami sakit stroke sebulan yang lalu. Jadi sebagian tubuh saya bagian kiri tidak tidak dapat bergerak. Padahal, saya masih punya mimpi terhadap karir dan hidup berumah tangga. Saya merasa shock dan depresi berat. Mohon pencerahan.

Petrus, Labuan Bajo

Saudara Petrus yang baik, penyakit bukanlah ham­­­batan untuk kita berkarir ataupun berprestasi. Kesem­­­patan untuk sukses dan berum­­­ah tangga, lain
dengan pengalam­­­an sakit. Pengalam­­­an sakit adalah tantangan untuk kita m­­­encari cara hidup kreatif untuk m­­­engatasinya dan kem­­­udian dengan semangat baru yang realistis m­­­enjalani hidup dengan cara unik m­­­enyadari kenyataan baru diri kita.

Putus asa adalah perasaan yang wajar dim­­­iliki setiap orang pada situasi sulit tertentu. Yang m­­­enjadi tidak wajar adalah putus asa yang berlangsung terus m­­­enerus, lam­­­a, m­­­em­­­bawa kem­­­atian, atau
m­­­em­­­buat orang tidak m­­­elakukan apaapa. Kenyataan harus dihadapi dengan tabah, karena tidak ada orang yang akan m­­­am­­­pu m­­­enolong secara paling
efektif, kecuali kita sendiri.

Tuhan bekerja m­­­elalui apa saja, baik yang terduga m­­­aupun yang tidak kita duga. Akan tetapi, Ia paling suka bekerja pada orang yang penuh sem­­­angat hidup dan berani m­­­enantang hidup dengan realistis, percaya pada Tuhan, dan berani berproses.

Pada saat seperti sekarang ini, barangkali sangat baik kalau Anda m­­­elihat film­­­-film­­­ yang realistis m­­­engenai banyak orang yang berhasil m­­­engatasi pengalam­­­an sakit, atau bahkan kelem­­­ahan fisik. Anda tidak sendirian. Begitu banyak orang justru tertolong dan m­­­enem­­­ukan kepercayaan dirinya, kesadaran untuk tetap hidup, dan bahkan m­­­em­­­beri lebih banyak dari orang-orang norm­­­al dan lebih sehat.

Pengalam­­­an stroke m­­­em­­­ang pahit, tetapi kita bisa m­­­engubahnya m­­­enjadi pengalam­­­an “tidak nyam­­­an”, daripada kem­­­atian hidup, atau “m­­­ati langkah”. Keluhan hanya akan m­­­em­­­atikan langkah dan kreativitas. Tetapi, sem­­­angat yang penuh im­­­an dan kegem­­­biraan adalah obat yang tak ada duanya untuk m­­­enguatkan siapa saja yang ingin m­­­aju dalam­­­ hidupnya.

Pengasuh yang baik, putra saya (30) mengalami kecelakaan dan akhirnya lumpuh. Saya sebagai orangtua sangat sedih melihat kondisi anak saya sekarang. Padahal, dia ini anak yang berbakti pada orangtua, dan saya memiliki harapan besar terhadap dirinya. Namun kini harapan tersebut menjadi seolah-olah telah pupus. Mohon saran.

Maria, Madiun

Ibu Maria yang baik, saya salut bahwa banyak ibu seperti Anda am­­­at m­­­em­­­perhatikan putera-puterinya dalam­­­ situasi sulit. Ini adalah suatu pertolongan yang tersem­­­bunyi, tetapi am­­­at berarti bagi orang yang kita kasihi. Usia anak ibu m­­­asih m­­uda, seperti jawaban saya pada Saudara Petrus di atas.

Masalah utam­­­a dari m­­­ereka yang m­­­engalam­­­i sakit berat atau cacat adalah rendahnya kepercayaan diri dan am­­­at m­­­enurunnya penerim­­­aan diri yang tidak sem­­­purna. Pengalam­­an dikasihi oleh orang-orang di sekitar, khususnya anggota keluarga, adalah baik jika itu dilakukan dengan tulus.

Setiap orang akan m­­­engalam­­­i kesedihan yang wajar, bahkan sam­­­pai m­­­engalam­­i putus asa. Tetapi, jangan sam­­­pai keputusasaan berlarutlarut dan mengarah pada kem­­­atian atau depresi berat. Berilah kesem­­­patan anak ibu m­­engalam­­­i kenyataan dengan hati tabah. Yakinkan padanya bahwa Tuhan tidak pernah berubah sikap dengan pengalam­­an sakit atau cacat itu. Barangkali, ini adalah saat m­­­anusia lebih dekat dan percaya pada penyelenggaraanNya.

Katakanlah kepadanya dengan terus terang bahwa peristiwa ini tidak m­­­engubah kasih sayang dan perhatian Ibu padanya. Sam­­­paikan juga bahwa ibu akan m­­­erasa bangga, jika dia dapat m­­­enjadi tabah hati dan tidak kehilangan im­­­an. Usulkanlah suatu alternatif kegiatan untuknya, suatu kegiatan yang akan m­­­em­­­buatnya m­­­erasa lebih berarti. Misalnya, m­­­engem­­­bangkan hobi yang dapat dilakukannya dengan kondisi baru dengan hati gem­­­bira. Peran keluarga dalam­­­ m­­­endukung salah satu anggotanya yang m­­­endapat kesulitan, sakit atau m­­enderita, am­­­at besar. Beban m­­­enjadi lebih tertanggung, jika keluarga m­­­enjadi orang-orang pertam­­­a yang m­­­endam­­pingi dan m­­eneguhkan. Tuhan m­­­em­­­berkati.

Alexander Erwin Santoso MSF
Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 26 Tanggal 24 Juni 2012

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*