Artikel Terbaru

Gereja Makassar

Gereja Makassar
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dua puluh lima tahun lalu, tepatnya 2 Februari 1992, Mgr Johannes Liku-Ada’ ditahbiskan sebagai Uskup tituler Amantia dan diangkat menjadi Uskup Auxilier Keuskupan Agung Ujung Pandang. Ketika itu, Mgr Liku Ada’ masih berusia 43 tahun. Di usia yang relatif muda, uskup kelahiran Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 22 Desember 1948 ini dihadapkan pada tantangan di keuskupan yang sedang berkembang.

Dalam tulisan refleksi 75 Tahun Keuskupan Agung Makassar pada 2012, masa-masa awal bertugas sebagai Uskup Auxilier, Mgr Liku Ada’ mengaku kaget menghadapi kenyataan di lapangan. Saat kunjungan pastoral, ia harus siap menjadi problem solver. Ia berjuang menyelesaikan segala macam persoalan, dari permintaan dana pembangunan gereja stasi, tenaga katekis, guru agama, dan tentu saja pastor. Permohonan pendirian sekolah, asrama, rumah sakit, dan aneka unek-unek lain pun selalu muncul dalam setiap turne. Awalnya ia khawatir atas penunjukkannya sebagai Uskup Auxilier. Namun Allah justru meminta lebih. Ia diangkat Paus sebagai Uskup Agung Ujung Pandang pada 19 Maret 1995.

Dalam dekade 1980-an dan 1990-an pertambahan jumlah imam diosesan di keuskupan ini relatif cukup cepat. Namun saat itu pula imam-imam CICM yang berkarya banyak ditarik ke luar Indonesia untuk merealisasikan konsep “indonesianisasi”. Akibatnya, dalam waktu singkat para imam-imam diosesan muda berkarya dengan sarana serba minim.

Tantangan Mgr Liku Ada’ waktu itu juga datang dalam bidang keuangan, baik menyangkut sumber dana maupun pengelolaan. Untuk mengatasi hal itu ia membentuk Dewan Keuangan yang tak bisa mundur dari masalah karena taruhannya keberlanjutan hidup keuskupan.

Masalah pun bertambah ketika krisis moneter melanda Indonesia pada 1998. Saat itu muncul krisis multidimensi yang diwarnai dengan kekerasan antaretnis dan agama. Banyak terjadi pembakaran gereja, sekolah, gedung lainnya, serta penyiksaan orang-orang Kristiani di Sulawesi Selatan, termasuk Ujung Pandang.

Di tengah kemelut bangsa tersebut, melalui rapat-rapat Dewan Konsultor, Mgr Liku Ada’ mengambil keputusan untuk mengadakan Sinode Diosesan Kanonik I pada Oktober 1999. Sinode itu menghasilkan visi Gereja lokal sebagai persaudaraan sejati yang diberlakukan pada 1 Januari 2000.

Pada 2000 juga nama keuskupan berubah menjadi Keuskupan Agung Makassar. Umat semakin berkembang, baik dari segi jumlah maupun dalam kedewasaan beriman. Lika-liku perjuangan mewarnai setiap langkah Mgr Liku Ada’ dalam menjalankan tugas penggembalaannya.

Berdasar hasil Sinode yang pertama, Mgr Liku Ada’ kemudian mengadakan Sinode yang kedua pada 2012. Hasil Sinode kedua berupa visi Gereja lokal Keuskupan Agung Makassar sebagai Gereja yang melayani.

Kini, di usia 68 tahun, Mgr Liku Ada’ telah melewati masa-masa perjuangan awal karyanya sebagai uskup. Ia terus berjuang menata KAMS menjadi lebih baik dan semakin mewujudkan Gereja mandiri seperti yang dicita-citakan mendiang Vikaris Apostolik Mgr N. M. Schneiders CICM dan visi Sinode Keuskupan Agung Makassar yang kedua. Tentu saja, cita-cita ini tidak dapat dikerjakan Mgr Liku Ada’ sendiri, tetapi harus melibatkan berbagai pihak untuk mewujudkannya. Selamat pesta perak tahbisan episkopal kepada Mgr Liku Ada’, doa kami menyertai.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 5 Tanggal 29 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*