Artikel Terbaru

Orang-orang Majus

[sd.mdcschools.net]
Orang-orang Majus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSiapakah orang-orang Majus itu? Apa arti kehadiran orang Majus dalam kelahiran Yesus? Apakah kisah tentang orang-orang Majus hanya rekayasa Matius untuk memberikan bumbu indah pada kisah kelahiran Yesus? Mohon pencerahan.

Paulus Hadi Sigit, Malang

Pertama, istilah ”orang Majus” pada masa Perjanjian Baru mempunyai cakupan makna yang luas. Misalnya, kaum astronom (peramal nasib berdasarkan bintang), peramal-peramal nasib, imam-imam peramal, dan dukun-dukun. Orang-orang Majus dalam Injil ini hendak dibandingkan oleh Matius dengan Bileam dari Perjanjian Lama, yaitu seorang peramal gaib yang dikisahkan dalam Bil 22-24. Dengan menggunakan analogi dari kisah orang Majus dan kisah Bileam, Matius hendak menyampaikan pesan Injilnya. Jadi, kisah orang-orang Majus bukanlah tambahan atau bumbu yang tidak penting, tetapi justru menampilkan kabar gembira secara mini.

Kedua, untuk mengerti pesan utama Matius, baiklah kita membandingkan tokoh-tokoh dari kedua kisah di atas. Tokoh utama Matius ialah orang-orang Majus, yang dibandingkan dengan Bileam. Kemiripan tokoh utama ini ialah bahwa mereka mendapatkan warta tentang akan lahirnya Raja yang memerintah banyak bangsa. Penglihatan Bileam dilukiskan dalam Bil 24:7-17 yang merujuk pada munculnya Kerajaan Daud, sedangkan penglihatan orang-orang Majus dikisahkan dalam Mat 2:2 yang merujuk pada Yesus Sang Mesias. Sebagaimana Bileam telah melihat terbitnya bintang Daud, juga orang-orang Majus dalam Injil Matius telah melihat bintang dari Raja orang Yahudi pada saat terbitnya. Pribadi Raja Herodes dalam Matius dibandingkan dengan Balak, Raja Moab. Keduanya berusaha menghancurkan pemimpin yang diramalkan.

Ketiga, dengan menggunakan perbandingan di atas, Matius menggambarkan bagaimana kabar gembira disampaikan kepada orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, kemudian dilanjutkan dengan dua macam tanggapan, yaitu menerima atau menolak. Seperti kita ketahui, orang-orang Majus mewakili orang bukan Yahudi, yaitu orang yang tidak pernah mendapatkan wahyu yang sejelas orang Yahudi, yaitu mendapatkan wahyu melalui alam semesta (bdk Rom 1:19-20; 2:14-15). Dalam hal ini, bintang yang mereka lihat melalui astrologi itulah pewahyuan yang tidak sempurna. Pewahyuan yang sempurna menyingkapkan wahyu yang tidak sempurna, seperti dikatakan dalam Kitab Suci (Mat 2:2-6). Reaksi orang bukan Yahudi ini ialah percaya dan datang menyembah, sedangkan orang Yahudi yang memiliki wahyu sempurna itu justru menolak untuk datang dan menyembah Raja yang baru lahir.

Di lain pihak, berhadapan dengan kabar gembira tentang kelahiran Sang Mesias, terjadi persekongkolan antara penguasa duniawi, imam-imam kepala, dan para ahli Taurat, yaitu untuk menolak Yesus. Hal yang sama akan terulang ketika Yesus memberitakan kabar keselamatan, yaitu bahwa Allah telah menghadirkan diri-Nya di tengah kita (Immanuel), yaitu dalam pribadi Yesus, Putra-Nya. Dalam arti ini, bisa dikatakan bahwa Kisah masa kanak-kanak Yesus menurut Matius tidak hanya mewartakan kelahiran Yesus, tetapi juga menyajikan kisah Injil dalam bentuk mini. Orang-orang Majus mewakili orang-orang yang mempunyai mata untuk melihat, yang tekun mencari Tuhan, dan kemudian sesudah mendapatkan petunjuk, datang dan menyembah Yesus yang bangkit.

Bagaimana menyikapi undangan-undangan untuk merayakan Natal dari saudara-saudari Kristen, jika perayaan itu dilakukan sebelum tanggal 25 Desember? Bukankah kita harus menggalang kesatuan dan kerukunan? Mohon petunjuk.

William Handoyo, Surabaya

Di satu pihak, keyakinan beragama hendaknya tidak membuat kita terpecah-pecah dan terasing dalam hidup bermasyarakat, tetapi semakin membuat kita makin guyub dan saling mendukung. Di lain pihak, kita juga tidak boleh sedemikian mudah mengorbankan keyakinan dan praksis religius kita, sehingga seolah kita kehilangan jatidiri kita. Pengorbanan atau mengalah tentu juga bisa dilakukan, jika memang ada suatu nilai penting lain yang diperjuangkan, misalnya diperlukan kekompakan yang visible dari berbagai agama untuk melawan terorisme. Dua prinsip inilah yang perlu dipertimbangkan dalam menyikapi undangan-undangan tersebut.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 50 Tanggal 12 Desember 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*