Artikel Terbaru

Ketulusan Hati Yusuf

[prayerflowers.com]
Ketulusan Hati Yusuf
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comRomo, dalam arti apa Santo Yusuf disebut tulus hati? Apakah karena Santo Yusuf mau tetap bersih dari “kecemaran” Bunda Maria? Jika Santo Yusuf tetap ingin menceraikan Bunda Maria, apakah Santo Yusuf mengira bahwa Bunda Maria berselingkuh?

Suzan, Tangerang

Pertama, ada beberapa penafsiran tentang “ketulusan hati” Yusuf. Yusuf disebut “tulus hati” dalam arti taat kepada hukum. Menurut penafsiran ini, Yusuf percaya, Maria melakukan perzinahan atau selingkuh. Menurut Hukum Musa (Ul 22:20-21), seorang gadis yang tertangkap basah berzinah harus dikeluarkan dari rumah ayahnya dan dirajam sampai mati. Karena Yusuf tulus hati, artinya mematuhi hukum, maka ia memutuskan untuk menceraikan Maria. Penafsiran ini kurang bisa diterima karena hukum Musa memerintahkan untuk menceraikan gadis seperti itu secara terang-terangan, sedangkan Yusuf akan menceraikannya secara diam-diam.

Kedua, “tulus hati” diartikan sebagai baik hati. Kebaikan hati Yusuf justru tampak dalam rencananya untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Penafsiran ini juga mengandaikan bahwa Yusuf percaya Maria melakukan perselingkuhan. Jika Maria diceraikan secara terang-terangan, Maria harus menghadapi konsekuensi hukum lainnya baik dari masyarakat maupun dari keluarga besarnya. Semua itu pasti akan membuat Maria menderita. Penafsiran ini juga tidak bisa diterima karena “tulus hati” tidak sama dengan baik hati. Injil Matius menyebut Yusuf sebagai “tulus hati” (Mat 1:19), bukan baik hati.

Ketiga, kedua penafsiran di atas tidak memberikan jawaban yang tuntas mengapa Yusuf ingin menceraikan Maria. Penafsiran yang ketiga memperhitungkan situasi dan keadaan sekitar, sehingga lebih bisa diterima. Bertitik-tolak dari Mat 1:18, ada tiga fakta yang harus dipegang: Maria bertunangan dengan Yusuf; Maria belum hidup sebagai suami-istri; Maria hamil dari Roh Kudus.

Kedua penafsiran di atas mengandaikan bahwa Yusuf tahu hanya tentang dua fakta pertama, tetapi tidak tahu tentang fakta ketiga sehingga harus diberitahu malaikat. Pengandaian ini tidak bisa diterima, jika Matius menyajikan pergulatan Yusuf tentang kehamilan Maria. Akan menjadi lebih logis, jika diandaikan bahwa Yusuf seharusnya juga mengetahui kehamilan Maria. Matius tidak mengatakan apa pun tentang bagaimana Maria mengetahui kehamilannya itu. Demikian juga tidak dikatakan apa pun tentang cara Yusuf mengetahuinya. Bisa diandaikan bahwa baik Maria maupun Yusuf mengetahui misteri itu dengan cara yang sama.

Kemudian, timbul pertanyaan, jika Yusuf sudah tahu tentang kehamilan Maria dari Roh Kudus, mengapa malaikat harus muncul dalam mimpi Yusuf? Jawaban atas pertanyaan ini melibatkan koreksi atas terjemahan pada kata-kata malaikat. Kata Yunani “gar” dan “de” tidak harus diterjemahkan “sebab” tetapi “karena sekalipun” (atau lebih sederhana: “hanya karena”), sehingga kata-kata malaikat berbunyi: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, karena sekalipun (hanya karena) anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” (Mat 1:20).

Dengan demikian, motivasi Yusuf hendak menceraikan bukan karena Yusuf percaya Maria selingkuh, tetapi karena Yusuf menghormati karya Allah (Roh Kudus). Demikian pula, tujuan malaikat bukan memberitahukan asal-usul anak itu (yang sudah dia ketahui), tetapi menyampaikan kehendak Allah bahwa Yusuf harus tetap mendampingi Maria. Malaikat juga memberitahukan agar Yusuf mengakui anak itu sebagai anaknya sendiri, yaitu dengan cara memberi nama: “Ia akan melahirkan anak lakilaki dan engkau akan menamakan Dia Yesus.” (Mat 1:21).

Keempat, dengan tiga penafsiran di atas, maka ungkapan “tulus hati” berarti mengikuti kehendak Allah yang dinyatakan dalam Sabda-Nya. Yusuf adalah pribadi yang menghormati karya Allah dan taat pada rencana-Nya. Hal inilah yang justru membuat Yusuf ragu, apakah akan tetap mendampingi Maria yang telah dipilih Allah untuk melahirkan Putra-Nya. Allah menyatakan kehendak-Nya agar Yusuf mendampingi Maria, dan Yusuf taat.

Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 26 Tanggal 24 Juni 2012

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*