Artikel Terbaru

Rindu Damai

[stopthebombs.org]
Rindu Damai
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa bulan terakhir ini, ruang dengar dan ruang pandang kita diramaikan oleh berbagai pemberitaan yang begitu hiruk pikuk, penuh dengan nuansa tragedi, penipuan, kesedihan, kemarahan, dan berbagai hal yang membuat batin kita serasa menjerit.

Berita perselisihan dan perseteruan dari lintas politik, budaya, dan kehidupan sehari-hari menyita segenap perhatian kita. Keadilan dirampas, kebenaran dikoyak-koyak, membuat hidup serasa tidak punya ruang untuk sekadar bernapas. Semua itu membuat kita menjadi tidak mengerti antara mana yang benar dan mana yang salah.

Kita didudukkan sebagai penonton yang diharuskan diam melihat carut marut kehidupan. Suka atau tidak suka, kita hanya bisa pasif dan sebatas mengikuti karena tidak tahu harus berbuat bagaimana.

Sementara hidup terus berjalan dengan berbagai realitasnya yang oleh media televisi dikemas dalam reality show. Semua itu disajikan dengan begitu tragis mempertontonkan kepedihan manusia, intrik, bahkan kebencian yang begitu mudah kita konsumsi. Pada akhirnya, kita menjadi bertanya-tanya, betapa kompleks hidup ini dan begitu terasa melelahkan. Semua ini tentu saja tidak akan berhenti begitu saja, dan akan terus menjadi cerita berseri yang akan berlanjut hingga berjilid-jilid sampai kita sendiri bosan, dan akan berganti lagi topik lain yang tentu saja tak kalah hebohnya. Lantas, yang menjadi pertanyaan, di mana kita akan mengambil peran.

Carut marut kehidupan membuat hidup ini menjadi begitu melelahkan dan hiruk pikuk, hingga seakan tidak ada ruang damai bagi kita. Sementara kehadiran Natal menjanjikan kedamaian dalam ruang batin siapapun yang merindukan. Masih mungkinkah batin kita menemukan ruang damai tersebut? Kedamaian tampaknya hanya akan menjadi sebuah ilusi yang akan terus-menerus kita rindukan.

Kedamaian dalam makna psikologi lebih berkaitan dengan ketenangan batiniah yang bisa dirasakan oleh seseorang. Tak seorang pun akan bisa menghadirkannya begitu saja saat berbagai persoalan berkecamuk dalam hidup kita. Kata ini menjadi multi tafsir yang bisa berarti banyak hal:
• Damai dari perseteruan, pertentangan, dan perselisihan. Perasaan ini akan timbul saat di antara kita sendiri tidak menjadi korban atau justru pelaku dalam sebuah pertentangan atau perselisihan. Situasi tersebut akan mudah memancing konflik berkepanjangan dan memunculkan rasa tidak nyaman yang akan terus menyertai kita sendiri dan orang lain yang terlibat.

• Damai dari kekurangan akibat kemiskinan. Kemiskinan membuat orang menjadi tidak tenang karena selalu dihadapkan pada situasi kurang. Orang terus-menerus dipacu untuk memenuhi kekurangan tersebut. Bekerja, bekerja, dan terus bekerja untuk mengatasi rasa kurang dan menghindarkan diri dari kemiskinan. Perasaan takut menjadi miskin membuat orang selalu gelisah hingga tidak ada ruang damai di hati.

• Damai dari kompetisi dan keinginan untuk selalu menjadi nomor satu. Dunia ini seakan tidak memberikan ruang bagi juara dua. Jika orang ingin berhasil maka ia harus menjadi nomor satu. Betapa orang berusaha, ngotot untuk menjadi yang pertama hingga kadang meniscayakan fairness. Orang tak segan menghancurkan orang lain demi mendapatkan nomor satu. Berbagai cara dilakukan agar orang lain hancur dan kita menjadi yang terbaik. Kompetisi meningkatkan adrenalin sekaligus merangsang kita untuk selalu kreatif mencari jalan menjadi nomor satu meski dengan cara yang paling hina sekalipun.

Mungkin masih ada banyak damai lagi di dunia ini. Masing-masing dari kita bisa memaknainya seribu satu macam tergantung pada pengalaman dan sudut pandang kita sendiri. Namun yang terpenting adalah bagaimana damai itu harus dihadirkan?

Saat ini, kita masih dalam suasana Natal dan Tahun Baru yang tentu saja kita jelang dengan begitu banyak keinginan dan harapan. Meski demikian, di antara sekian banyak keinginan, tentu saja kita semua berharap akan lebih banyak lagi damai di masa-masa yang akan datang. Kedamaian akan membuat hidup kita menjadi lebih tenang. Pertanyaannya, bagaimana kita harus menciptakan damai itu sendiri?

Lama saya berusaha merenungkan kata “damai”. Hingga tulisan ini dibuat pun masih banyak hal berkecamuk dalam batin saya. Namun, tidak ada salahnya berbagi pengalaman dan curah pendapat, karena siapa tahu ini bisa bermanfaat.
• Kedamaian tidak akan tercipta jika tidak ada kepasrahan total pada alam semesta. Penyerahan diri sebagai makhluk yang fana akan membuat kita lebih dekat dengan rasa damai itu sendiri. Apakah kepasrahan ini berarti kita tidak berbuat apa pun? Tentu saja tidak. Kepasrahan adalah sikap berserah diri terhadap berbagai kemungkinan dan hasil. Entah baik entah buruk, sejauh kita telah melakukan hal terbaik dalam hidup, tentu saja alam akan membimbing kita mendapatkan yang terbaik pula.

• Mencoba untuk berdamai dengan sekitar, perbanyak teman dan sahabat, perlebar lingkar energi positif dengan membangun relasi. Menerima perbedaan tanpa banyak kritik dan tuntutan. Toh tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Semakin banyak relasi, semakin banyak teman, semakin banyak jaringan sosial yang membuat kita memiliki dukungan sosial. Bukankah lebih banyak teman dan sahabat lebih baik dan ini merupakan kekayaan yang tidak ada duanya?

• Pahami dan jangan minta untuk selalu dipahami. Tidak mudah memang, karena yang lebih mudah bagi kita adalah minta orang lain untuk memahami kita, menerima kita. Sulit sekali buat kita untuk memahami orang lain karena hal ini menuntut keterbukaan pikiran, keterbukaan hati, dan kerendahan hati. Memahami orang lain akan membuat kita lebih mengerti sehingga meminimalkan pertentangan, tuntutan, keresahan, dan konflik yang tidak ada habisnya.

• Sediakan waktu bagi hati dan jiwa kita untuk beristirahat, berdoa, bermeditasi atau sekadar merenung tentang hidup akan membuat kita lebih dewasa dan lebih bijak menyikapi hidup. Dua puluh empat jam sehari seringkali kita habiskan dengan terus-menerus mengejar harta dunia hingga pada akhirnya, kita sendiri terengah-engah dan kehilangan energi. Yang timbul kemudian adalah rasa hampa dan rasa kosong. Ruang batin inilah yang seringkali menjerit merindukan kedamaian.

• Bersyukur dalam banyak peristiwa. Gampang diucapkan namun sulit dilaksanakan. Orang lebih mudah bersyukur saat kebahagiaan dan kesenangan hadir. Namun, sulit bagi kita untuk bersyukur saat kita sendiri sakit dan sedih. Bahkan, bersyukur saat perut sakit pun sulit dilakukan. Namun, bukankah rasa syukur akan mendekatkan kita pada pemulihan diri dan kemerdekaan diri untuk segala yang telah kita dapatkan hingga sejauh ini?

Saat tulisan ini saya buat, sebenarnya saya pun sedang berusaha menjalankan semuanya. Tidak mudah memang, namun saat rindu damai datang, mengapa tidak saya coba?

Th. Dewi Setyorini

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 3 Tanggal 17 Januari 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*