Artikel Terbaru

Hambatan Bersosialisasi

[digiida.wordpress.com]
Hambatan Bersosialisasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMelalui surat ini, saya ingin mengutarakan permasalahan yang dihadapi oleh saudara saya. Saudara saya bingung mengatasi permasalahan anak-anaknya. Ia memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan. Namun, kedua anak tersebut tidak memiliki teman di sekitar rumah mereka, biarpun sebenarnya banyak anak-anak sebaya dengan mereka yang senantiasa melakukan kegiatan-kegiatan dalam wadah Karangtaruna.

Kegiatan sehari-hari anak-anak saudara saya adalah sekolah, les, dan bila sampai di rumah langsung masuk rumah, belajar, melihat TV, atau bermain berdua, dan tentunya jarang keluar rumah untuk bermain dengan tetangga-tetangganya.

Hari Minggu atau libur biasanya digunakan oleh saudara saya dan anak-anaknya berekreasi ke luar kota, menginap di luar kota, atau melakukan kegiatan-kegiatan di dalam rumah.

Seperti diketahui, saudara saya, suami-istri bekerja dari pagi sampai sore hari, dan hari Sabtu dan Minggu baru mereka libur. Anak laki-laki mereka duduk di kelas II SMA, sedangkan adiknya, perempuan, duduk di kelas II SMP. Hubungan saudara saya dengan tetangga-tetangga sebelah, menurut pengamatan saya, cenderung sangat kurang karena mereka terlalu disibukkan oleh pekerjaan mereka. Bila bertemu tetangga, mereka berbicara seperlunya. Kalau ada pertemuan warga, mereka datang seperlunya. Acara selesai langsung pulang, tidak seperti yang lain masih ngobrol-ngobrol. Bila saya tanya mengapa mereka langsung pulang, senantiasa dijawab, “Seperti tidak ada pekerjaan… di rumah masih banyak yang harus dikerjakan.”

Berbeda dengan istrinya, biarpun bekerja dari pagi sampai sore, ia masih bisa menyempatkan diri ikut kegiatan ibu-ibu, seperti arisan, PKK, Dasawisma, dan masih mengobrol dengan ibu-ibu lainnya.

Bapak/Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga, yang menjadi pemikiran saya mengapa kedua anak saudara saya bisa berperilaku seperti itu?

Pernah saya tanyakan kepada saudara saya tentang permasalahan anak-anaknya tersebut, ternyata mereka diam saja. Namun, pernah muncul juga nada kecemasan pada mereka setelah melihat perilaku anak-anak mereka yang tidak dapat bergaul atau jarang bergaul dengan teman-teman tetangganya, seperti layaknya remaja.

Lalu, langkah-langkah apa yang harus dilakukan agar anak-anak saudara saya berperilaku seperti layaknya anak-anak seusia mereka, suka bergaul dengan tetangga, mengikuti kegiatan organisasi di lingkungannya, dan sebagainya.

Hadi, Klaten

Yth, Saudara Hadi di Klaten. Pertama-tama, kami mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan Saudara menulis dan mengirimkan permasalahan yang sedang Anda hadapi di Rubrik Konsultasi Keluarga Mingguan Hidup ini. Meskipun masalah tersebut bukan masalah pribadi Anda, namun merupakan masalah yang sedang dihadapi oleh saudara Anda berkaitan dengan anak-anak mereka. Tidak ada salahnya membantu mereka, karena bagaimanapun juga permasalahan saudara kita pada dasarnya juga merupakan masalah kita bersama.

Permasalahan yang dihadapi oleh saudara Anda tersebut, tampaknya berkaitan dengan masalah bersosialisasi antara anak-anak saudara Anda dengan tetangga di sekitar rumah mereka. Sedangkan pergaulan dengan teman-teman di sekolah tidak Anda jelaskan, apakah juga mengalami permasalahan seperti halnya yang terjadi dengan tetangga-tetangga di sekitar rumah mereka.

Seandainya masalah ini hanya terjadi di lingkungan sekitar rumah saja, maka cara mengatasinya mudah; karena pada dasarnya anak tidak mengalami hambatan dalam berhubungan dengan orang lain.

Namun, seandainya permasalahan bersosialisasi ini terjadi baik di lingkungan rumah maupun di sekolah, barulah merupakan permasalahan serius. Kemungkinan ada kelainan pada diri anak sehingga penanganannya lebih sulit dan kompleks.

Saudara Hadi Yth, ada beberapa penyebab anak mengalami hambatan dalam bersosialisasi, antara lain:
1. Orangtua over-protective: anak tunggal, anak mengalami cacat/gangguan fisik/mental (orangtua malu), orangtua sudah merasa tua pada waktu mendapatkan anak, idealisme orangtua.
2. Modeling orangtua: orangtua tidak suka bergaul, orangtua lebih menyukai kegiatan di dalam rumah, orangtua sakit-sakitan.
3. Lingkungan: lingkungan menolak keberadaan anak (anak mengalami cacat/gangguan fisik/mental, anak senantiasa diejek/dinakali), lingkungan terlalu individualis (cuek), tidak ada tempat untuk bermain atau bersosialisasi, orangtua tidak mendorong anak bersosialisasi, orangtua selalu pindah-pindah tempat tinggal, tidak ada teman sebaya.

Berdasarkan beberapa penyebab anak mengalami hambatan bersosialisasi yang kami sebutkan di atas, Saudara bisa melakukan analisa mengapa anak-anak saudara Anda mengalami hambatan bersosialisasi dengan tetangga di sekitar rumah mereka.

Untuk mengatasi hambatan dalam bersosalisasi berdasarkan penyebab-penyebab di atas, sulit kiranya bila tidak melibatkan orangtua maupun lingkungan di mana anak tersebut bertempat tinggal. Namun, yang utama adalah melibatkan orangtua anak yang bersangkutan, karena kunci perubahan ada pada tangan orangtua anak tersebut.

Namun, seandainya orangtua tidak mau memahami dan tidak bersedia diajak bekerjasama menangani permasalahan yang dihadapi anak, kita akan mengalami kesulitan untuk mengatasi hambatan anak dalam bersosialisasi, atau dengan kata lain, usaha kita akan sia-sia saja.

Bagi orangtua over-protective maupun yang menjadi model bagi anaknya, akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyadarkan maupun mengubah perilakunya selama ini. Karena, mereka sudah terbiasa melakukan hal-hal tersebut. Di samping itu, pada umumnya mereka memiliki alasan yang cukup kuat mengapa mereka tidak bersedia mengubah perilakunya tersebut.

Sedangkan faktor lingkungan, akan menjadi mudah bila faktor orangtua sudah tertangani. Karena itu, langkah-langkah untuk mengatasi anak yang mengalami hambatan bersosialisasi, seandainya orangtua bersedia diajak kerjasama adalah:
1. Mendiskusikan dengan orangtua anak, untuk bersama-sama memahami dan mencari penyebab terjadinya kondisi mengapa anak mengalami hambatan bersosialisasi.
2. Bila orangtua telah menyadari bahwa penyebab hambatan bersosialisasi kemungkinan bersumber pada diri orangtua; maka orangtua diminta kesediaannya untuk mengubah sifat atau sikapnya yang menjadi sumber permasalahan secara bertahap. Demikian pula sebaliknya, kalau seandainya sumber permasalahan ada pada diri anak, orangtua tetap diminta kerjasamanya,
3. Bersamaan dengan kesediaannya tersebut, anak diajak ikut serta atau dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan dalam rangka mengubah sifat dan sikap mereka.
4. Senantiasa selalu diberi dukungan maupun motivasi kepada mereka agar tidak patah semangat dalam melaksanakan keinginannya, dalam mengubah sifat dan sikap mereka.
5. Pendampingan senantiasa dilakukan kepada mereka selama belum ada tanda-tanda perubahan sesuai yang diinginkan; baru kemudian perlahan-lahan dilepas.

Demikianlah yang bisa kami jelaskan berkaitan dengan penyebab dan bagaimana mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan hambatan bersosialisasi. Semoga dengan informasi tersebut, Saudara bisa memberikan masukan kepada saudara Anda berkaitan dengan permasalahan anak-anak mereka. Seandainya masih ada permasalahan atau kesulitan menanganinya, kiranya dapat mengabari kami kembali.

Haryo Goeritno

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 4 Tanggal 24 Januari 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*