Artikel Terbaru

Uang Sekolah untuk Beli Komik

Uang Sekolah untuk Beli Komik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDear pengasuh, beberapa kali anak saya menggunakan uang sekolah tanpa memberitahu saya dan istri terlebih dahulu. Satu-dua kali saya masih bisa menahan diri. Tapi tidak untuk kali ketiga, saya sangat marah bahkan sampai memukul anak. Padahal kami sudah  memberikan uang saku untuk  dia. Bersyukur uang yang dipakainya tidak untuk membeli narkoba. Ia membeli komik dan kaset game. Seandainya dia minta barang-barang itu kepada saya, akan saya penuhi. Tapi tak serta-merta, tiap kali ia minta, saya kabulkan. Saya tak mau ia menjadi manja. Tapi saya juga tak mau ia sungkan mengutarakan keinginan  kepada kami, orangtuanya sendiri. Bagaimana kami harus bersikap?

Romoaldus Pangudi, Kalimatan

Salam sejahtera Pak Romoaldus. Tak ada keluarga yang selalu mulus dalam kehidupan bersama. Ada permasalahan yang mewarnai perjalanan hidup tiap keluarga. Jadikan itu sebagai tantangan atau ujian yang harus dihadapi dan diselesaikan. Ingat, segala masalah pasti ada jalan keluar.

Setiap anak dengan perbedaan umur, berbeda pula cara menanganinya. Meski demikian butuh kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi perilaku mereka. Tanpa sikap itu, kemungkinan bisa semakin merusak situasi yang ada. Lalu bagaimana sebaiknya menghadapi masalah tersebut?

Pertama, Bapak harus tenang dan menahan diri untuk tidak terlalu spontan atau langsung marah-marah, apalagi sampai memukul atau kekerasan fisik lain. Seperti yang Bapak katakan, masih bersyukur karena anak tak mengunakan uang untuk membeli narkoba, tetapi membeli komik dan kaset game. Barang itu bisa jadi merupakan kegemarannya demi mendapat kesenangan dan kepuasan hati. Orangtua juga perlu instropeksi diri, “Mengapa anak saya sampai menggunakan uang sekolah untuk membeli barang-barang itu? Mengapa anak tidak mengatakan kepada orangtua soal kebutuhannya itu?” Pertanyaan ini harus ditemukan jawabannya agar orangtua mengetahui sebab dari tindakan anak dan diharapkan akan dapat membantu untuk memecahkan masalah.

Anak perlu didekati dan diajak bicara dengan baik, santai, dan saling terbuka. Orangtua harus tenang dan sabar menanggapi pernyataan anak. Cari kesempatan santai dan tenang, jangan pada saat situasi sedang tak kondusif. Dari pembicaraan itu diharapkan bisa tahu alasan anak tidak memberitahu orangtua tentang keinginannya itu.

Kedua, orangtua harus tegas, tetapi tegas tidak perlu diikuti dengan kemarahan. Dengan bersikap tegas, anak juga akan lebih menghargai, tidak hanya takut dengan orangtua, namun diharapkan mereka mau terbuka kepada orangtua. Orangtua perlu bersikap konsisten, terutama dalam menanggapi keinginan atau perilaku anak. Jadi dalam menanggapi satu tindakan sebaiknya orangtua bersikap sama, misal jika “boleh” saat ini maka pada saat lain dengan situasi yang sama harus tetap “boleh”. Bukan sekarang “boleh”, besok atau entah kapan “tidak boleh”.

Ketiga, ajaklah anak untuk selalu berdiskusi dan membicarakan hal-hal yang dikehendakinya atau apa pun yang perlu ada tindakan atau sikap tertentu. Anak jadi tak sungkan atau takut untuk mengutarakan keinginan atau pendapatnya. Dari pembicaraan-pembicaraan itu akan menemukan komitmen-komitmen tertentu antara anak dengan orangtua. Misal anak akan mendapatkan hal tertentu jika ia mendapatkan nilai sekian. Jadi segala sesuatu juga diperlukan suatu usaha untuk mendapatkannya.

Agar tak terkesan menuruti segala keinginan anak, sebaiknya membuat prioritas keperluan. Orangtua perlu mengetahui alasan yang jelas dan masuk akal dari anaknya agar tak sekadar memberi atau membeli. Intinya, antara orangtua dengan anak harus terbuka dan jujur dalam berkomunikasi.

Orangtua juga harus bisa menempatkan diri sebagai teman bagi anaknya agar komunikasi bisa berjalan lebih lancar. Jadi dekatilah anak Bapak dengan hati dan kasih, sabar dan tenang, tak perlu pakai kekerasan fisik.

Emiliana Primastuti

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 51 Tanggal 18 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*