Artikel Terbaru

Pacar Suka Berbohong

[lipglossculture.com]
Pacar Suka Berbohong
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh Yth.
Sudah tiga bulan ini saya menjalin hubungan dekat dengan seorang cowok. Dia adalah dosen saya sendiri. Saya berusia 21 tahun, dia 28 tahun. Untuk menghindari sorotan sosial di lingkungan kampus, kami merahasiakan hubungan serius ini. Kami bertemu seminggu sekali di rumah orangtua saya (saya kos dekat kampus, jadi setiap Sabtu saya pulang ke rumah orangtua).

Selebihnya, komunikasi kami lakukan via telpon dan sms. Sejauh yang bisa saya rasakan dia sangat mencintai saya dan sangat takut kehilangan saya. Tetapi, ada satu hal yang meresahkan saya: ternyata dia suka berbohong. Terus terang ini menjadi beban batin saya.

Salah satunya, tentang latar belakang keluarga, dia tidak menceritakan versi yang sebenarnya. Saya tahu, dia berbohong tentang hal itu, karena saya punya teman sewaktu SMA yang kebetulan rumahnya sekampung dengannya, dan tahu persis latar belakang keluarganya.

Masih ada beberapa kebohongan yang saya tahu, tapi rupanya dia tidak menyadari bahwa saya tahu. Maaf, di surat ini saya tidak paparkan kebohongan-kebohongan yang lain itu. Pertanyaan saya, apa yang menyebabkan dia suka berbohong? Bagaimana membantunya agar dia berani bersikap lebih jujur? Terima kasih.

YE, di kota K.

Pertanyaan Anda sangat to the point, tapi terus terang saya sulit menjawabnya. Data tentang sang cowok di surat Anda begitu minim, dan saya tidak bisa “menerawang” dengan perspektif kewaskitaan nirdata. Tetapi, saya akan sekilas memaparkan saja beberapa hal yang biasanya melatarbelakangi orang yang suka berbohong.

Berbohong adalah salah satu bagian dari sisi gelap perilaku banyak orang. Setiap dari kita, tentu pernah berbohong, setidaknya berbohong pada diri sendiri.

Menurut ulasan-ulasan psikologi yang pernah saya baca, pun berdasarkan pengamatan, perilaku berbohong sering berkaitan dengan beberapa hal, antara lain: harga diri (self-esteem) yang rendah, kurangnya kepercayaan diri, dan kepribadian manipulatif.

Harga diri rendah seringkali berekses pada kepercayaan diri yang rendah pula, taktala orang berada di dan berhadapan dengan situasi bersama orang lain.Terlebih bila orang/pihak lain itu dipandang memiliki otoritas, posisi ataupun kelebihan/keunggulan dibanding dengan diri sendiri. Dalam situasi demikian, ada upaya yang kuat untuk menampilkan diri melebihi realitas yang ada, yang dikemas sedemikian rupa agar bisa “mengesankan” di mata orang lain.

Salah satu cara yang sering ditempuh adalah dengan berbohong. Bentuk kebohongan biasanya berupa pemaparan diri dan informasi yang lebih baik, melampaui atau bahkan berlawanan dengan kondisi realitas yang sesungguhnya. Dalam konteks relasi yang lebih khusus, misalnya ketika seseorang jatuh cinta pada orang lain yang dipandang “serba lebih” (penampilan fisik, status sosial ekonomi, reputasi), maka takaran tentang harga diri pribadi seringkali merosot sehingga orang kehilangan kepercayaan diri saat berupaya melakukan pendekatan dan terus berlanjut saat mempertahankan relasi kedekatan dengan orang yang dipujanya.

Dalam kasus seperti ini, kadang tindakan berbohong dilakukan demi menjaga perimbangan posisi. Kendatipun sifatnya semu. Saya tidak bermaksud mengaitkan hal ini dengan apa yang dilakukan dosen Anda itu; semata berdasar pengakuan Anda di surat itu (Anda menulis: “Sejauh yang bisa saya rasakan dia sangat mencintai saya dan sangat takut kehilangan saya).

Mengapa ada sebagian orang yang harga dirinya rendah? Menguak sebab-sebab yang sejati, bukan hal yang mudah karena dalam kisah perjalanan kehidupan setiap orang selalu ada sisi misterinya sendiri, yang bahkan diri sendiri pun kadang tidak tahu. Sebatas hasil riset di khazanah psikologi, harga diri yang rendah bisa “melembaga” dalam diri banyak orang karena pengaruh pola pengasuhan, rasa cacat diri (baik secara fisik-objektif, maupun secara psikologis-subjektif), luka sosial, dan peristiwa dalam perjalanan hidup yang menggoncangkan. Individu yang di masa kecilnya diasuh dengan cara otoriter, penuh warna kekerasan (emosi, verbal, dan fisik) dan ditelantarkan akan lebih mungkin berkembang menjadi pribadi yang rendah harga dirinya. Demikian pula cacat tubuh (juga cacat mental yang masih memiliki rasa dan kemampuan pemantauan diri) sejak lahir maupun karena kecelakaan, bila sejak semula tidak mendapat dukungan dan peneguhan diri dari keluarga dan lingkungan terdekatnya.

Juga mereka yang memandang dan meyakini secara subjektif bahwa dirinya penuh dengan kekurangan, kelemahan, dan kegagalan akan lebih mungkin mengalami keterpurukan harga diri. Luka sosial (dihina, dilecehkan, dicap negatif, ditolak, diasingkan) yang dialami dalam relasi dengan orang lain dan lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat) di saat masa kanak-kanak hingga remaja, bisa mempurukkan harga diri seseorang. Pun peristiwa dalam perjalanan hidup seseorang yang menggoncangkan konstalasi stabilitas ritme kehidupan (diperkosa, dipecat dari pekerjaan, terkena bencana yang memusnahkan segala pemilikan, diputus dari ikatan keluarga, dsb), semua ini bila tak teratasi bisa menyumbang terpuruknya harga diri seseorang.

Apakah ini semua kemudian otomatis menyebabkan hilangnya kepercayaan diri dan menyebabkan berkembangnya karakter pembohong? Tidak sesederhana itu. Karakter pembohong hanyalah salah satu produk perilaku dari sekian banyak kemungkinan ekses negatif, bila terpuruknya harga diri yang bisa menyebabkan ketidakpercayaan diri tidak teratasi sejak awal.

Satu lagi yang bisa andil secara tidak langsung dalam tindakan suka berbohong, yakni kepribadian manipulatif. Jenisnya ada dua: machiavellianisme dan social androitness. Kepribadian machiavellianisme ditandai oleh kecenderungan kuat memanipulasi dan berbohong pada orang lain dengan berbagai cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Tipe ini sebenarnya cukup menyadari bahwa dirinya berbohong pada orang lain, terutama yang diperhitungkan tidak akan bereaksi dengan balas dendam. Mereka biasanya penuh ambisi, suka mendominasi, dan terampil menampilkan diri secara santai, plastis, spontan, dan percaya diri. Mereka suka “mempolitisasi” segala bentuk relasi demi tercapainya apa yang mereka kehendaki.

Tipe social androitness, ditandai dengan kecenderungan mekanis untuk berbohong setiap kali berelasi dengan orang lain. Mereka terampil melakukan kebohongan dan keterampilannya semakin terasah bersamaan dengan diperolehnya bukti-bukti bahwa kebohongannya dipercaya oleh banyak orang. Seringkali mereka tidak bermaksud negatif dan bertendensi “jahat, karena tindakan-tindakan berbohongnya lebih dimaksudkan agar dirinya disukai dan dikagumi oleh orang lain.

Tentang cowok yang dekat dengan Anda tersebut, mengapa berbohong? Silakan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya. Tentu harus dengan hati-hati, hindari cara-cara interogasi. Dengan mengetahui apa yang sebenarnya di balik kebohongan yang dilakukannya, Anda bisa membantunya untuk berani meninggalkan atau setidaknya mengurangi kesukaannya berbohong.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 6 Tanggal 7 Februari 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*