Artikel Terbaru

Mengasuh Anak Pemalu

[thechart.blogs.cnn.com]
Mengasuh Anak Pemalu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh, Yth! Kami prihatin dengan perkembangan anak tunggal kami yang saat ini berusia 6 tahun dan duduk di kelas 1 SD. Anak kami ini adalah anugerah besar dari Tuhan. Dia lahir setelah kami menunggu selama 12 tahun.Yang memprihatinkan, dia jarang sekali ngomong. Bila kami tidak sungguh-sungguh memperhatikan apa yang diinginkannya, dia sering tiba-tiba marah dan ngamuk.

Perasaannya sensitif namun jarang diekspresikan. Di sekolah dia harus ditunggu dari pagi sampai sekolah selesai. Menurut guru kelasnya, dia termasuk siswa yang pasif dan tidak pernah mau maju di depan kelas (misalnya saat pelajaran seni suara). Dia tidak suka bergaul seperti umumnya anak seusianya, sehingga tidak punya teman. Setelah pulang pun tidak mau keluar bermain dengan anak-anak tetangga. Bila didekati orang lain (selain orangtuanya dan mbak yang mengasuhnya) dia sepertinya tersiksa, bahkan kadang menangis. ”Putera ibu itu sangat pemalu, dia perlu penanganan khusus…”, demikian kata guru wali kelasnya kepada saya sewaktu penerimaan raport beberapa waktu yang lalu.

Petanyaan saya adalah apakah sifat pemalu anak saya ini termasuk abnormal? Apakah sifat tersebut diturunkan (genetik) dari sifat pemalu suami saya? Apa yang seharusnya saya lakukan untuk mengurangi atau bila mungkin ”menyembuhkan” sifat pemalu anak saya tersebut? Terima kasih.

DS, di Solo

Ytk., Ibu DS! Bisa dipahami bagaimana perasaan keprihatinan Ibu, apalagi ananda adalah putera tunggal yang kata orang termasuk ”anak mahal”. Saya kira benar, ananda memiliki sifat pemalu. Secara umum anak disebut pemalu bila menunjukkan sebagian atau mungkin semua karakteristik sebagaimana dipaparkan oleh seorang pakar perkembangan anak Swallow. Antara lain, bila bertemu orang menghindari kontak mata secara langsung, cenderung pasif dan tidak banyak bicara (juga saat disapa), di saat-saat tertentu kadang memperlihatkan perilaku marah-marah/mengamuk, saat di sekolah tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di kelas, tidak mau bertanya/minta tolong pada orang yang belum dikenal, dalam situasi sosial (banyak orang) seringkali mengalami demam panggung, sering menggunakan alasan sakit untuk menghindari momen perjumpaan dengan orang lain, kadang mengalami gejala psikosomatis (gangguan fisik yang sebenarnya lebih disebabkan oleh faktor psikologis, serta adanya perasaan tidak menarik di mata orang lain. Sejauh yang dibeberkan oleh kajian-kajian psikologi, sifat pemalu tidak termasuk dalam kategori abnormal (di buku DSM-Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Edisi IV tidak ada bagian yang menyebutkan bahwa sifat/kecenderungan pemalu sebagai gangguan mental).

Meskipun demikian, kondisi perkembangan ananda perlu mendapat perhatian khusus, mengingat bahwa sifat pemalu (apalagi bila berlebihan) pada masa kanak-kanak khususnya, cukup bisa menghambat optimalisasi potensi dan kemampuan-kemampuannya pada tahap-tahap perkembangan lebih lanjut. Di antaranya adalah terhambatnya perkembangan dalam bersosialisasi, kemampuan menjalin relasi dengan orang lain, kemampuan bersikap maupun bertindak asertif, dan terhambatnya pengembangan potensi dan kemampuan diri dalam arti yang lebih luas.

Mengapa ada sebagian anak memiliki sifat pemalu? Terus terang saja, disiplin psikologi tidak bisa menjawab secara definitif dan fixed. Sebatas rentang probabilitas (kemungkinan) para pakar psikologi mengemukakan: sifat pemalu pada anak bisa karena bawaan, bisa karena lingkungan/hasil belajar, juga bisa karena kondisi khusus si anak sendiri. Sebab yang sifatnya bawaan, hanya bisa dijelaskan sebagian, yakni, diwariskan secara sosial melalui interaksi (dengan melihat, mengalami bersama, menyerap dan mentransfer dari pola perilaku orang-orang yang signifikan dalam kehidupan anak, misalnya ayah, ibu,saudara, pengasuh, dsb.).

Apakah sifat pemalu ananda adalah warisan genetik-biologis dari sang ayah (suami ibu)? Saya kira tidak demikian, dan Ibu tidak perlu mengagendakan keyakinan itu. Mengenai faktor lingkungan/hasil belajar, berdasarkan riset-riset empirik menunjukkan bahwa sifat pemalu pada anak sering berkaitan dengan perlakuan-perlakuan tertentu dalam pengasuhan.

Di antaranya adalah (1) anak banyak dilarang/dikekang, (2) dilindungi secara berlebihan (bila pelakunya adalah sang ibu sendiri, disebut momism), (3) terkondisi diberi kasih sayang bersyarat (anak disayangi hanya dan bila memenuhi 3 syarat: patuh, menurut dan menyenangkan orang tua; padahal naluri eksploratif anak seringkali berseberangan dengan 3 syarat tersebut), dan (4) anak mengalami penolakan dan/atau penelantaran baik secara fisik maupun afektif (termasuk penolakan saat masih di dalam kandungan).

Pada kasus-kasus khusus, sifat pemalu anak bisa berkaitan langsung dengan kondisi diri anak (misalnya invaliditas tubuh/indera). Untuk membantu dan mendukung ananda secara bertahap mengurangi dan selanjutnya bisa melampaui sifat-sifat pemalunya, Ibu bersama suami, dan juga pengasuhnya perlu melakukan beberapa hal ini.

Pertama, upayakan sikap penerimaan yang tulus terhadap kondisi ananda yang kenyataannya memiliki sifat pemalu tersebut. Hindarkan untuk tidak melontarkan sebutan, ungkapan, apalagi memberi stigma (cap) maupun tindakan yang menghakimi, memojokkan, serta mencela sifat pemalunya. Hentikan sikap prihatin yang semata melestarikan pikiran dan perasaan pesimistik.

Kedua, identifikasi secara cermat potensi, serta minat ananda dan berikan dorongan, fasilitasi untuk mengekplorasinya melalui aktivitas-aktivitas yang konkret, dari yang paling sederhana (permainan konstruksi, mewarnai, bermain musik, dsb.) dengan pendampingan partisipatif. Media aktivitas ini akan membantunya merasa aman “keluar” dari kelekatannya terhadap rasa cemas dan khawatirnya. Berikan apresiasi untuk setiap keterlibatan,kemajuan, sekecil apa pun. Dengan upaya pertama dan kedua ini, ananda akan menghayati pengalaman “cinta tak bersyarat”.

Ketiga, ciptakan kondisi lingkungan yang memungkinkannya untuk secara bertahap terlibat dalam bersosialisasi dengan orang lain/sebayanya. Misalnya, mengajak anak-anak sebaya datang di halaman rumah, di ruang bermain ananda, diajak bersilaturahmi ke famili, tetangga, dan ruang publik, ke taman bermain, dsb. Intinya adalah menstimulasi potensi dan minat bersosialisasi.

Keempat, lakukan stimulasi dan ajak ananda terlibat dalam permainan peran (role-playing)berbagai episode kehidupan manusia yang disesuaikan dengan minat, kesukaan serta perkembangan daya cerap ananda.Yang paling sederhana bisa dimulai dari mendongeng cerita yang isinya menarik disertai dengan ekspresi, gerak-gerik dan peragaan yang bisa memprovokasi empati dan keterampilan sosial.

Kelima, komunikasikan semua upaya tersebut (dan bila mungkin lakukan kolaborasi dengan) pihak sekolah (guru wali kelas, BP), sehingga dapat terupayakan perlakuan sinergis yang mendukung dalam proses pembebasan dari sifat pemalu ananda secara berkelanjutan.

Demikian tanggapan saya, semoga bermanfaat.Salam.

H.M.E. Widiyatmadi MPsi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 14 Tanggal 5 April 2009

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*