Artikel Terbaru

Pilih Kasih

Pilih Kasih
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Suatu hari seorang ibu (sebut saja Ibu A) menceritakan kegelisahannya. Ibu A cemas karena tidak bisa mencintai anak ketiganya. Dia merasa tidak ada kedekatan emosi sama sekali dengan anak bungsunya tersebut. Segala upaya telah dia usahakan tetapi hatinya tetap dingin.

Setiap kali dia menghadiri pertemuan di luar rumah, secara spontan dia mengajak anak pertama dan kedua (sembilan dan enam tahun), sedangkan anaknya yang baru berusia lima tahun dia tinggal di rumah dengan pembantu. Ketiga anaknya lelaki.

Dia sudah berusaha melihat sisi positif dari anak tersebut, tetapi tidak bisa mengubah perasaannya. Wajah anak bungsunya tidak kalah rupawan dari kakak-
kakaknya, demikian pula kepandaiannya. Namun, getaran hati tidak muncul untuk kasih sayang pada si bungsu. Apa yang terjadi?

Selain itu, seorang gadis bercerita bagaimana dia sangat benci pada ibunya (sebut saja Ibu B). Menurut sang gadis, ibunya telah memperlakukan dia secara ekstrem berbeda dari kakak-kakak dan adik-adiknya. Dari lima bersaudara, dia anak ketiga.

Walaupun wajah, kepandaian, ketaatan, dan kedisiplinannya tidak berbeda dari kakak-kakak dan adik-adik, ibunya memperlakukan dia seperti bukan anak kandung. Setiap kali kakak atau adik berulang tahun, mereka selalu diberi baju baru, sedangkan dia hanya diberi baju bekas.

Demikian pula kalau ibunya bepergian keluar kota, seluruh saudara diberi oleh-oleh sesuai selera mereka, sedangkan dia hanya diberi sebagian sisa oleh-oleh dari saudara-saudaranya. Dulu, dia pernah menyelidiki asal-usulnya, tetapi semua bukti mengarah kalau dia memang anak kandung dari bapak dan ibunya, sama seperti saudara lainnya.

Mengapa seorang ibu bisa memberi perlakuan tidak adil pada anak-anaknya? Mengapa seorang ibu bisa memberi perlakuan buruk pada anaknya?

Ada pepatah, cinta anak sepanjang galah, cinta ayah sepanjang jalan, dan cinta ibu sepanjang masa. Pepatah tersebut menunjukkan bahwa cinta anak kepada orangtua dianggap biasa kalau pendek saja. Cinta seorang ayah kepada anaknya juga dianggap biasa kalau tidak terlalu ideal, bahkan kalau seorang ayah tidak mencintai anaknya pun dianggap tidak bermasalah. Sedangkan cinta ibu kepada anak dianggap selalu sempurna.

Kalau ada ibu yang tidak mencintai anaknya, maka dianggap sebagai kasus besar yang harus diselesaikan. Padahal, kenyataannya, seorang ibu seperti juga seorang ayah atau seorang anak, yang bisa mencintai orang lain tetapi juga bisa kurang mencintai orang lain.

Idealnya, dalam keluarga, ibu, bapak, dan anak memang saling mencintai, bukannya hanya ibu saja. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara kita bisa saling mencintai?

Erich Fromm, seorang ahli cinta, mengatakan bahwa cinta adalah seni. Kita tidak bisa mencintai seseorang tanpa kita melakukannya. Seperti kalau kita membuat produk seni, tidak mungkin kita hanya membicarakannya, kita harus melakukan sesuatu supaya produk itu ada. Seseorang akan mudah mencintai orang lain, saat orang tersebut sudah berdamai dengan dirinya sendiri.

Pada kasus di atas, kelihatan Ibu A belum siap saat hamil anak ketiga. Ibu A sangat sayang pada anak pertama dan keduanya. Begitu sayangnya pada kedua anak tersebut, kehadiran anak ketiga yang tidak dia rencanakan dan selisih usia hanya satu tahun dengan anak kedua, membuat ibu itu menolak anak ketiganya baik disadari maupun tidak. Berdasarkan rasio, ibu tahu harus mencintai ketiga anaknya. Tetapi, berdasarkan perasaan, ibu tidak bisa membohogi bahwa dia tidak mencintai anak ketiganya.

Untuk mengatasinya, Ibu A sebaiknya membenahi diri sendiri dulu dengan cara meyakinkan ke dalam diri sendiri bahwa dirinya adalah orang yang kuat. Dalam kurun waktu satu tahun, dia melahirkan dua anak. Dia tidak ada masalah. Demikian juga anak nomor satu dan nomor dua tidak mendapati masalah yang cukup berarti dengan lahirnya anak ketiga. Jadi, tidak ada alasan untuk menolak anak ketiga.

Dengan cara ini, diharapkan ibu tidak merasa terancam oleh kehadiran anak ketiga. Saat anak ketiga dianggap bukan sebagai sumber ancaman, maka ibu akan lebih mudah mencintainya. Usaha ibu ini akan lebih berhasil bila suami juga mendukungnya.

Seseorang disebut mencintai kalau dia melakukan pengasuhan, tanggung jawab, perhatian, dan pengenalan, bukan hanya sentimental yang menggelora sesaat namun setelah itu padam. Karena itu, Ibu A dan Ibu B lebih baik ”memaksa” diri sendiri untuk tetap mengasuh putra yang kurang disayanginya seperti putra-putra yang lain, walaupun hati tidak bergetar.

Kita tidak harus mencintai orang lain dulu baru berbuat baik, tetapi kita bisa berbuat baik dulu kepada orang lain walaupun kita tidak mencintai orang tersebut. Dengan selalu berbuat baik, kita bisa menumbuhkan rasa cinta kita.

Selain pengalaman relasi sosial yang dapat mempengaruhi besarnya cinta ibu kepada anaknya, faktor lain yang sering mempengaruhi ”dinginnya” perasaan ibu adalah sebuah sindrom yang berkaitan dengan permasalahan kondisi emosi pasca melahirkan, yaitu post partum depressionyang tidak terselesaikan.

Post partum depression
adalah permasalahan emosi pada seorang ibu yang baru saja melahirkan kurang lebih sepuluh hari setelah melahirkan sampai delapan bulan setelah melahirkan. Ibu-ibu yang mengalami post partum depression biasanya merasa hidup juga terasa hampa, mudah berurai air mata tanpa ada penyebab yang jelas, getaran hati pada anak yang baru saja dilahirkan tidak ada, bahkan membiarkan anak menangis menjerit-jerit. Ibu-ibu yang mengalami post partum depression dan tidak ditangani secara tuntas, dapat membawa permasalahan emosi tersebut sampai waktu-waktu berikutnya.

Apa pun alasan yang menyebabkan seorang ibu bersikap dingin kepada salah satu atau seluruh anaknya harusnya segera ada penyelesaiannya. Cara paling populer dalam budaya kita, khususnya budaya Jawa, adalah ”tepo-sliro”. Penyelesaian ini mengajarkan kepada kita untuk membayangkan sebagai orang yang menjadi korban dari perilaku kita.

Ibu A dan Ibu B bisa membayangkan. Seandainya Ibu A dan Ibu B sebagai anak yang tidak disayangi oleh ibu kandung mereka, bagaimana perasaan mereka. Kalau hati kita tidak bisa berubah, minimal perilaku kita dan wajah kita berubah menjadi lebih manis sehingga seluruh anak merasa dicintai.

Tentu tugas ini menjadi lebih mudah bagi ibu kalau lingkungannya juga mendukung, tidak justru memanas-manasi. Bapak bisa mengingatkan ibu untuk memberi perlakuan sama pada anak-anak, kakak-kakak dapat menolong adik-adik untuk mengartikan sebagai hal positif perlakuan ibu yang kurang menyenangkan mereka.

Semoga anak-anak kita semakin bahagia karena semakin dicintai ibu dan bapak mereka.

Margaretha Sih Setija Utami

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 15 Tanggal 12 April 2009

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*