Artikel Terbaru

Romo Yohanes Rasul Edy Purwanto: Saya Siap Diutus

Romo Yohanes Rasul Edy Purwanto: Saya Siap Diutus
1 (20%) 1 vote

Imam kelahiran Kajoran, Kulon Progo, Yogyakarta, 6 Januari 1966 ini mengakui, tak ada bekal formal kala menangani perutusan itu. Ia hanya punya minat pribadi terkait komunikasi sosial, politik, dan kemasyarakatan. Mungkin karena Mgr Suharyo tahu ketertarikan imamnya pada persoalan-persoalan itu, maka Uskup memilihnya sebagai garda terdepan pertalian Gereja Keuskupan Agung Semarang dengan masyarakat.

Sejak penunjukkan itu, ia intens menyelami referensi tentang kerawam, terutama dari Dokumen Konsili Vatikan II dan Ajaran Sosial Gereja. Ia pun menimba pengetahuan dari sejumlah tokoh, aktivis, dan intelektual awam. “Lewat perjumpaan dengan merekalah, saya juga mendapat bekal informasi,” akunya. “Mereka banyak membantu dan menjadi teman diskusi,” imbuh Romo Edy.

Pada awal kepengurusan Romo Edy, Komisi Kerawam berganti nama menjadi Komisi Karya Kerasulan Kemasyarakatan. Perubahan nama ini untuk memperjelas dan mempertegas posisi komisi yang digawanginya, yakni memperhatikan hubungan antara Gereja dengan masyarakat luas. Ia memfokuskan karya komisinya untuk membina relasi antara Gereja dengan pemerintah dan berbagai kelompok pemberdayaan masyarakat di bidang sosial politik.

Enam tahun di Paroki Lampersari, ia mendapat tugas baru di Paroki St Fransiskus Xaverius Kebondalem. Sementara karyanya di Komisi Karya Kerasulan Kemasyarakatan masih berlanjut. Namun di Paroki Kebondalem, Romo Edy hanya berkarya sekitar delapan bulan. Pada tahun yang sama, ia menanggalkan status sebagai Ketua Komisi Karya Kerasulan Kemasyarakatan KAS. Mgr Suharyo memintanya menjadi Sekretaris Komisi Kerawam KWI. Surat Keputusan penunjukannya keluar pada 1 Mei 2005. Dari Semarang, Romo Edy sandar di kantor KWI. “Saya tak punya prestasi apa-apa. (Perutusan,-Red) imamat saya mengalir begitu saja,” ungkapnya.

Membangun Sinergitas
Menangani bidang kerawam memang bukan hal baru baginya. Meski begitu tantangan yang ia rasakan adalah medan karya baru yang lebih luas karena menjangkau seluruh Keuskupan di Indonesia. “Ini sesuatu yang baru. Dari keluasan dan intensitas karya sangat besar. Tapi saya akan mencoba, semoga apa yang saya lakukan bisa membantu,” kata Romo Edy kepada Mgr Suharyo, kala itu.

Romo Edy pun mengakui, selama menangani Komisi Karya Kerasulan Kemasyarakatan KAS, belum ada Pertemuan Nasional Seluruh Komisi Kerawam KWI. Meski demikian, ia akan melanjutkan segala sesuatu yang telah dimulai dan dikerjakan oleh para pendahulunya. “Saya tak punya orientasi. Saya mengawali sesuatu dengan gagap-gagap. Tak ada ekspektasi muluk-muluk. Ke manapun saya diutus, pergi saja,” ujarnya.

Romo Yohanes Rasul Edy Purwanto bersama Ketua KWI, Mgr Ignatius Suharyo. [Dok. Dokpen KWI]
Romo Yohanes Rasul Edy Purwanto bersama Ketua KWI, Mgr Ignatius Suharyo.
[Dok. Dokpen KWI]

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*