Artikel Terbaru

Puasa Sebelum Ekaristi

[manadopost.co.id]
Puasa Sebelum Ekaristi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Apakah sampai sekarang orang Katolik harus berpuasa sebelum menyambut tubuh Tuhan dalam Perayaan Ekaristi. Berapa lama puasa itu? Mengapa harus berpuasa? Apa saja yang dilarang dikonsumsi? Apakah merokok termasuk yang dilarang? Bagaimana dengan ibu hamil? Mohon penjelasan.

Katrin Sembiring, Purwokerto

Pertama, tuntutan puasa Ekaristi masih berlaku seperti semula. Kitab Hukum Gereja mengungkapkan secara eksplisit: ”Yang akan menerima Ekaristi mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.” (KHK kan 919 #1) Perlu diperhatikan bahwa jangka waktu satu jam yang diminta itu terhitung sampai saat menyambut komuni, bukan sampai saat awal Misa. Tujuan puasa ini tak lain ialah mempersiapkan batin kita untuk menyambut kehadiran Tuhan secara lebih pantas. Peraturan puasa Ekaristi ini berlaku untuk semua orang yang sudah menyambut komuni pertama.

Kedua, puasa itu mencakup makan dan minum. Meskipun tidak ada penyebutan secara eksplisit tentang merokok, tapi mempertimbangkan tujuan puasa itu sebagai persiapan batin menyambut Yesus Kristus dalam rupa Sakramen Mahakudus. Puasa ini menyangkut seluruh diri manusia, maka sebaiknya puasa itu juga mencakup merokok. Bukankah seringkali dipakai ungkapan ”minum rokok”? Ini berarti bahwa satu jam sebelum komuni, sebaiknya juga dilakukan puasa merokok.

Ketiga, peraturan puasa Ekaristi ini berlaku untuk semua orang yang sudah menyambut komuni pertama. Tetapi ada pengecualian, yaitu untuk mereka yang sakit atau lanjut usia, seperti dikatakan: ”Mereka yang lanjut usia dan menderita sakit, dan juga mereka yang merawat, dapat menerima Ekaristi mahakudus, meskipun dalam waktu satu jam sebelumnya telah makan sesuatu.” (KHK kan 919 # 3)

Jadi, mereka yang sakit boleh makan atau minum menurut kebutuhan tubuh, dan tidak terikat kewajiban berpuasa satu jam. Ibu hamil kiranya bisa dianggap sebagai orang yang mempunyai kebutuhan khusus, sehingga diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Juga untuk mereka yang sehat, KHK kan 919 #1 menyatakan bahwa mereka ini boleh juga meminum obat-obatan dan air putih. Juga mereka yang merawat si sakit diperbolehkan menemani si sakit dalam menerima komuni, juga jika puasa Ekaristi yang dilakukan tidak mencapai satu jam.

Keempat,
semangat dasar yang hendaknya dipupuk dalam hal ini ialah niat untuk mempersiapkan batin melalui ungkapan puasa jasmani. Sedangkan jangka waktu satu jam itu hanyalah sarana bantu untuk menetapkan masa puasa. Dengan demikian, seandainya orang yang sakit, ibu hamil atau orang yang mempunyai kebutuhan khusus masih bisa menjalani puasa selama satu jam sebelum saat komuni, hendaknya puasa ini tetap dilakukan. Bukankah Yesus Kristus telah berkorban sedemikian besar untuk kita? Kalau kita membalas juga dengan persiapan batin yang berkorban di tengah tantangan penyakit, kiranya hal ini menjadi ungkapan kasih kita kepada Yesus. Jadi, semangat untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, bahkan juga jika harus berkorban, dan tidak gampang menyerah pada tuntutan badaniah menjadi semangat dasar puasa Ekaristi.

Apakah diperbolehkan mempertahankan hosti selama mungkin di mulut sesudah menerima Tubuh Tuhan?Karena saya sakit jantung, seringkali saya membayangkan Yesus yang hadir dalam hosti kudus di mulut saya itu menjamah jantung saya. Apakah hal ini diperbolehkan?

Fantiana Mao Meio, Kupang

Tidak ada ketentuan tentang berapa lama komuni yang diterima boleh dipertahankan di dalam mulut. Yang harus diingat ialah bahwa Yesus mengundang kita untuk menyatukan diri dengan-Nya, dan persatuan itu terjadi jika kita memakannya dan bukan hanya dipertahankan di dalam mulut. Karena itu, pada akhirnya hosti suci itu haruslah dimakan sampai masuk ke dalam perut.

Namun demikian, sangat baik jika kesadaran akan kehadiran Yesus dalam diri kita ditingkatkan dengan mempertahankan hosti itu di mulut untuk jangka waktu yang tidak lama. Boleh saja kita melakukan tindak kesalehan dengan menggunakan imajinasi, seperti membayangkan kehadiran Yesus dalam Sakramen Mahakudus yang menjamah dan menyembuhkan. Hal ini sesuai dengan doa sebelum menyambut komuni: ”Ya Tuhan saya tidak pantas, Tuhan datang pada saya, tetapi berkatalah saja maka saya akan sembuh.”

Dalam iman, kita percaya kehadiran Yesus itu membawa kesembuhan.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 39 Tanggal 26 September 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*