Artikel Terbaru

St Genesius dari Roma (Abad III): Kesaksian dari Atas Panggung

St. Genesius
[www.emaze.com]
St Genesius dari Roma (Abad III): Kesaksian dari Atas Panggung
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPanggung yang bakal menjadi tempat mengolok-olok iman Kristiani, justru mempertontonkan kesaksian iman sebagai pengikut Kristus. Kisahnya mirip St Paulus.

Kata sebagian orang, produk bisnis paling menggiurkan adalah agama. Seperti gawai dan properti, agama menjadi dagangan laris manis meraup bonanza ekonomi dan politik. Bila agama laksana komoditas, para penjualnya bisa dari beragam profesi. Sementara pembelinya adalah orang beragama.

Memperdagangkan agama bukan ujug-ujug terjadi sekarang. Aktivitas itu sudah muncul sejak zaman baheula. Paling tidak, salah satunya, terjadi sekitar abad III di Heliopolis, Mesir. Si penjual agama adalah aktor muda asal Mariamme, sekitar 1,6 kilometer dari Damaskus, Suriah. Penjual itu bernama Genesius (Gelasinus atau Gelasius). Ia cukup terkenal di antara para aktor panggung, karena itulah Genesius punya banyak pengikut. Sebagai entertainer, hidupnya bergantung dari satu panggung ke panggung lain. Tak ayal pola hidup Genesius mirip kaum gipsi pada Abad Pertengahan.

Kaisar Diocletianus
Heliopolis berada dalam cengkeraman Kekaisaran Roma pada waktu itu. Kaisar yang berkuasa adalah Diocletianus (284-305M). Dalam sejarah Romawi, Diocletianus adalah salah satu kaisar yang begitu getol menekan kebebasan beragama, tak terkecuali agama Kristen. Diocletianus memaksa seluruh koloni Romawi menganut Pagan.

Buntut represi terhadap kebebasan beragama, secara khusus umat Kristiani, adalah saat ia mengeluarkan Edik Diocletianus. Hukum itu menegaskan, Kitab Suci dan tempat ibadah orang-orang Kristen dihancurkan. Aturan itu juga melarang para pengikut Kristus beribadah seturut keyakinannya.

Mereka yang melanggar aturan sang kaisar akan disiksa, bahkan dibunuh. Tak heran, selama Diocletianus berkuasa banyak martir iman bergelimpangan. Diocletianus khawatir dengan perkembangan jumlah umat Kristiani yang terus meningkat tiap hari. Kampanye memerangi orang-orang Kristen terus ia teriakkan.

Momentum itu dimanfaatkan Genesius. Ia ingin menjadikan panggung sebagai penyambung lidah kaisar. Lewat panggung, Genesius ingin mengipas bara antipati para penganut Pagan, terhadap orang-orang Kristen. Caranya bukan dengan mengumbar kebencian atau aksi provokatif, tapi lewat panggung ia menampilkan dagelan tentang tradisi atau ritual Kristiani.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*