Artikel Terbaru

Devosi Kanak-kanak Yesus

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Devosi Kanak-kanak Yesus
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comApakah devosi kepada Kanak-kanak Yesus terkait dengan perayaan Natal? Apakah ada dasar biblis devosi ini? Mengapa “berhenti” pada keadaan Kanak-kanak yang tak berdaya dan tidak menampilkan kebangkitan Yesus?
Martinus Setyano, Surabaya
Pertama, devosi kepada Kanak-kanak Yesus melanjutkan devosi kepada bayi Yesus yang dilahirkan dalam kandang. Penghormatan paling awal terjadi ketika Maria mengunjungi Elisabet, saudaranya. Saat itu, Maria baru mendapatkan kabar gembira dari malaikat Gabriel dan karena itu mengandung Yesus. Bayi Yohanes Pembaptis dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan, dan Elisabet dipenuhi Roh Kudus, lalu bernubuat (Luk 1:39-45). Penghormatan kepada bayi Yesus kemudian diberikan juga oleh para gembala yang baru mendapatkan kabar gembira dari malaikat (Luk 2:8-20), serta oleh para orang majus (Mat 2:1-12).
Kedua, devosi kepada Kanak-kanak Yesus merupakan penghormatan kepada misteri Inkarnasi Sang Sabda yang kita
rayakan secara khusus pada masa Natal. Allah Putra yang tidak mempertahankan keallahan-Nya tetapi telah mengosongkan diri dengan menjadi manusia sama seperti kita, yaitu dengan lahir sebagai bayi kecil tak berdaya (Fil 2:6-11). Keadaan bayi Yesus yang kecil dan tak berdaya membuktikan bahwa Allah Putra telah menjadi manusia sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa (Ibr 2:14; 4:15).
Devosi kepada Kanak-kanak Yesus hendak menekankan solidaritas Yesus dengan umat manusia yang berdosa. Putra Allah tak hanya ikut serta merasakan kodrat insani, tetapi juga mengalami nasib kita. “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya, Ia memusnahkan dia, yaitu iblis yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.” (Ibr 2:14-15). Solidaritas inilah yang memungkinkan Yesus mewakili seluruh umat manusia keturunan Adam untuk menebus dosa manusia. Karena solidaritas ini, kita juga diikutsertakan dalam penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus.
Solidaritas ini juga dinyatakan dalam posisi sebagai Imam Agung, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibr 4:15). Dengan demikian Dia dapat mengerti kita yang sesat dan jahat sehingga dapat membantu kita keluar dari kelemahan itu (Ibr 5:2). Jadi, Kanak-kanak Yesus menampilkan sisi manusiawi Yesus supaya setiap orang bisa mengidentifikasikan diri dengan Yesus dalam kegiatan sehari-hari, dalam segala kegiatan kita (bdk. KGK 533).
Ketiga, devosi kepada Kanak-kanak Yesus tidak melemahkan kebangkitan Yesus. Justru penekanan kepada solidaritas Yesus menjadi sarana yang sangat jitu agar setiap orang yang memandang Kanak-kanak Yesus dapat mengidentifikasikan diri dengan Yesus dan dengan demikian mengidentifikasikan diri dengan kebangkitan-Nya. Yesus adalah kakak sulung kita. Dialah yang pertama bangkit, dan dalam Dia kita akan ikut serta dalam kebangkitan-Nya.
Kebesaran martabat Rajawi yang nampak dalam kebangkitan-Nya, seringkali patung Kanak-kanak Yesus diberi pakaian seperti seorang raja, dengan mahkota, dan mantol kebesaran. Di beberapa tempat, patung Kanak-kanak Yesus memegang di tangan kiri-Nya dunia dengan salib di puncak. Tangan kanan dinaikkan seperti sedang memberikan berkat, dengan jari telunjuk dan jari tengah diluruskan, sedangkan jari manis dan kelingking ditekuk. Dengan demikian, dalam patung Kanak-kanak Yesus dipadukanlah keanggunan dan kebesaran sebagai Raja dengan keterbukaan dan kelembutan sebagai seorang anak. Solidaritas yang terpancar dari Kanak-kanak Yesus membuat kita merasa bersatu dengan Dia, sedangkan keanggunan dan kesucian-Nya mengundang kita masuk dalam martabat Rajawi-Nya.
Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 52 Tanggal 27 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*