Artikel Terbaru

Bulla Misericordiae Vultus

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Bulla Misericordiae Vultus
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.com – Mengapa Kerahiman Ilahi seringkali dialamatkan kepada Allah Bapa? Apakah Yesus juga rahim?
Bintang Kartikawati, Mojokerto
Pertama, memang benar sifat rahim seringkali dialamatkan kepada Bapa. Tema bulla Misericordiae Vultus ialah “Berbelaskasih seperti Bapa”. Allah Bapa itu “kaya dengan kerahiman” (Ef 2:4). Perjanjian Lama begitu kaya dengan ungkapan kerahiman yang dirujuk kepada Allah Yahweh. Kerahiman Allah nampak sejak awal kejatuhan manusia ke dalam dosa, yaitu dengan langsung menjanjikan Penebus (Kej 3:15). Pemilihan Israel sebagai bangsa terpilih, pembebasan Israel dari penindasan di Mesir, penyertaan Allah dalam kasih setia-Nya sepanjang perjalanan bangsa Israel, menunjukkan kerahiman Allah (MV 6). Dia adalah “Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setia-Nya” (Kel 34:6; et passim).
Kedua, kelahiran Allah Putra yang kita peringati pada hari raya Natal ini adalah bukti Kerahiman Allah. Allah Bapa tidak menyayangkan Putra tunggal-Nya dan merelakan Dia diutus menyelamatkan umat manusia dari penindasan dosa. “Dalam ‘kegenapan waktu’ (Gal 4:4), ketika segalanya telah diatur sesuai dengan rencana keselamatan-Nya, Ia mengutus Putra-Nya ke dalam dunia, yang lahir dari Perawan Maria, untuk menyatakan kasih-Nya bagi kita dalam sebuah cara yang definitif” (MV 1).
Ketiga, Yesus Kristus bukan hanya bukti kerahiman Bapa, tetapi juga sarana (causa exemplaris) untuk mengalami kerahiman Bapa itu. Paus Fransiskus menyatakan hal ini dalam pembukaan Bulla Misericordiae Vultus, “Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Bapa.” (MV 1). Allah yang tak kelihatan itu menjadi kelihatan dan bisa dialami melalui segala sesuatu yang dilakukan Yesus, karena barangsiapa melihat Yesus melihat Bapa (bdk Yoh 14:9).
Gambaran-gambaran tentang kerahiman Allah dalam Perjanjian Lama, misal mengampuni dosa, menyembuhkan segala penyakit, menyegarkan orang yang letih lesu, dan berbeban berat, menegakkan orang yang patah hati dan putus asa, semua itu terpenuhi dalam diri Yesus. Dalam Yesuslah “kasih setia-Nya untuk selama-lamanya”(Mzm 136) (bdk. MV 6-7). Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8.16) dan “Kasih itu telah dibuat terlihat dan nyata dalam seluruh kehidupan Yesus.” (MV 8). Belas kasih itulah yang menggerakkan Yesus untuk melakukan penyembuhan, pergandaan roti dan mukjijat lainnya (bdk. Mat 9:36; 14:14; 15:37; Luk 7:15). Para murid tertarik dan langsung menanggapi panggilan Yesus karena tatapan-Nya yang penuh kerahiman, yang menanggapi kebutuhan terdalam mereka.
Kerahiman Bapa dalam perumpamaan “anak yang hilang” (Luk 15:1-32) bisa dilihat perwujudan konkret dalam segala yang dilakukan Yesus. Dia mengajarkan mengampuni “bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 8:22). Meskipun para lawan-Nya sudah mendera, memahkotai Dia dengan duri, memaksa-Nya memanggul salib dan memaku-Nya di kayu, Yesus tetap memohonkan pengampunan bagi semua orang yang telah menyiksa diri-Nya. Tidak ada kepahitan dan dendam dalam diri-Nya. Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Bapa.
Keempat, kerahiman Bapa yang ditunjukkan dalam diri Yesus mengundang kita menjadi rahim juga seperti Bapa (bdk. Mat 18:33-35). Kerahiman bukan hanya tindakan Bapa, tetapi juga “menjadi kriteria untuk memastikan siapa anak-anak-Nya yang sejati.” (MV 9). Mengampuni menjadi ungkapan yang paling jelas dari kasih yang penuh kerahiman. Kerahiman harus menjadi sebuah kehidupan ideal dan sebuah tolok ukur untuk kredibilitas iman kita. Yesus Kristus yang menjadi contoh bagi kita, juga memampukan kita untuk mengikuti jejak-Nya. “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Mat 5:7). Sabda bahagia inilah yang secara khusus harus kita cita-citakan pada Tahun Suci Kerahiman Ilahi ini.
Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 51 Tanggal 20 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*