Artikel Terbaru

Anak Takut Memimpin Doa

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Anak Takut Memimpin Doa
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.com – DEAR Romo Erwin, saya ibu dua anak; seorang duduk di bangku SMA dan seorang lagi SMP. Saya dan suami sangat aktif di gereja, baik di WKRI, Kaum Bapak, Karismatik dan KTM. Kami sangat familiar dengan doa. Tetapi itu tidak menurun kepada anak kami. Saya punya keprihatinan, dua anak kami tidak mau setiap kali disuruh memimpin doa. Bahkan bila giliran membawa doa di sekolah, anak kami selalu terlambat ke sekolah. Apalagi di lingkungan, pasti tidak mau disuruh memimpin Rosario. Saya dan suami sudah berusaha semampu kami untuk mengajarkan kepada anak-anak cara berdoa, tetapi kayaknya percuma. Sebagai ibu, saya khawatir dengan pertumbuhan iman anak kami. Saya mohon solusi dan pencerahan. Apa yang harus saya buat? Terimakasih Romo. Tuhan memberkati.
Agustin, Makasar
Ibu Agustin yang baik, saya percaya Ibu adalah seorang ibu yang baik, memperhatikan iman anak-anak, dan seorang yang beriman baik juga. Saya percaya apa yang Ibu jalankan dalam hidup beriman adalah sesuatu yang baik, sehingga nampak dalam rutinitas kegiatan menggereja dan berkomunitas yang banyak dan aktif. Dukungan dari Bapak tentu saja sangat menentramkan sehingga Ibu dan Bapak dapat berkegiatan bersama secara aktif pula.
Akan tetapi, barangkali keaktifan Ibu dan Bapak tidak memberi situasi dan kondisi yang secara otomatis mengembangkan iman dan keaktifan anak dalam menggereja. Anak-anak pasti menyaksikan aktivitas ibu dan bapaknya, tetapi mereka mempunyai persepsi dan pandangan sendiri mengenai keaktifan ini. Sesuatu yang baik sekalipun tergantung dari persepsi dan terpenuhi tidaknya kebutuhan dari orang yang menilai. Apakah Ibu dan Bapak pernah bertanya mengenai kesibukan Anda berdua kepada anak-anak? Apakah pernah ditanyakan kepada mereka mengenai komentar, atau barangkali tanggapan mereka jika Anda harus pergi bersama meninggalkan mereka?
Hal yang baik perlu mendapatkan discernment sendiri dan pribadi. Discernment artinya memahami dan meneliti dengan seksama apa yang sedang terjadi terkait kegiatan yang sedang kita lakukan. Hal yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain. Demikian kegiatan menggereja Ibu dan Bapak adalah baik, tetapi di mata anak-anak belum tentu demikian. Sebabnya adalah karena mereka (barangkali) merasa sering ditinggalkan. Mereka merasa kesepian dan diabaikan. Perasaan ini yang kemudian bercabang menjadi keengganan pada kegiatan rohani.
Anak-anak merasa kegiatan menggereja telah merenggut ayah dan ibu dari sisi mereka. Orangtua menjadi sangat sibuk, sehingga kedekatan dengan anak-anak kurang. Kita tidak tahu apakah ini suatu gugatan atau protes, sehingga muncul dalam bentuk kemalasan atau tepatnya keengganan bersentuhan dengan hal rohani, seperti berdoa, menggereja, atau sekadar ikut dalam pertemuan lingkungan. Mereka tidak tahu cara memprotes hal yang dianggap kebanyakan orang baik. Menggereja itu baik, tetapi untuk anak-anak Anda, menggereja itu membuat mereka kurang diperhatikan atau kekurangan saat bersama dengan Anda.
Kemungkinan lain adalah bahwa aktivitas berdoa yang ditawarkan tidak menarik, karena tidak menyentuh kehidupan mereka, tidak up to date apalagi jika anak-anak Anda berusia remaja. Hal berkumpul bukanlah hal yang menarik anak-anak muda, apalagi jika umat yang lain adalah golongan senior. Anak-anak bisa merasa kesepian dan asing. Berbeda jika memang terjadi dalam lingkungan Anda, anak-anak semua diundang dalam ibadat atau pertemuan lingkungan. Ketika anak-anak menemukan teman sebaya, tentu semangat berdoa juga bertumbuh.
Jangan cepat menyalahkan apalagi mengkhawatirkan anak-anak sebagai kurang beriman. Cara anak-anak beriman berbeda dengan orangtuanya. Anak-anak beriman melalui solidaritas, kebersamaan, kejujuran, sikap sportif, dan menikmatinya terutama bersama teman sebaya. Menurut saya, justru pantas dipertanyakan jika anak Anda menjadi satu-satunya anak di pertemuan lingkungan, sedangkan anak-anak lain tidak hadir. Apakah mereka ikut karena terpaksa, atau sangat tergantung pada ibunya?
Alexander Erwin Santoso MSF
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 1 Tanggal 3 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*