Artikel Terbaru

Romo Melepas Jubah

[Kaskus.co.id]
Romo Melepas Jubah
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Romo Erwin, senang sekali bisa berjumpa dengan Romo di forum ini. Saya Jenina dari Yogyakarta. Saya sudah menikah tujuh tahun lalu, diteguhkan oleh seorang Romo. Tapi Romo yang dulu memberkati pernikahan kami, kini telah melepas jubahnya, atau keluar (meninggalkan imamat) dan telah menikah. Bagaimana dengan pernikahan kami? Apakah tetap sah ataukah perlu membuat janji pernikahan lagi di hadapan seorang Romo. Mohon penerangannya.
Jenina, Yogyakarta
Salam kenal, Jenina. Pengalaman pernikahan yang suci adalah pengalaman sekali seumur hidup yang akan membawa kesan mendalam dalam hidup kita. Anda juga mengalaminya sebagai pengalaman yang indah. Dulu Anda menikah dengan peneguhan dari seorang imam/romo, yang pasti Anda kenal baik, yang Anda pilih dengan sukarela, dan yang telah memberikan pelayanan dalam Sakramen Pernikahan yang utuh dan sah. Maka, pernikahan Anda adalah pernikahan yang sah juga.
Sekali pernikahan dianggap sah, maka pernikahan itu tidak memperhitungkan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Sebuah pernikahan melulu bergantung pada apa yang disyaratkan sebelum pernikahan dimulai atau dilangsungkan. Sah atau tidaknya perkawinan tidak tergantung pada peristiwa yang kemudian terjadi pada pihak-pihak yang mengesahkan perkawinan, yaitu kedua mempelai, imam peneguh, dan kedua saksi.
Jadi dalam kasus Anda, keluarnya imam peneguh dari imamatnya sama sekali tidak mempengaruhi sahnya perkawinan Anda berdua, karena ia sekarang ini bukanlah penentu keabsahan perkawinan. Ia dulu adalah petugas peneguh, dan sekarang ia tidak mempunyai kaitan dengan Anda secara langsung.
Pengalamannya sebagai imam seharusnya meneguhkan dan memberi kesaksian kepada Anda sekeluarga, karena memang itu fungsinya sebagai seorang pemimpin jemaat. Jika yang terjadi sebaliknya, yaitu ia keluar dari imamatnya, maka hal itu tidak diharapkan tetapi juga tidak mempengaruhi sakramen yang pernah dilayaninya. Pernikahan Anda berdua sudah sah dan tak perlu dianulasi (dibatalkan) karena masalah yang berada di luar kuasa Anda berdua.
Yang terpengaruh adalah perasaan Anda. Barangkali kita selalu berharap imam yang mempunyai sejarah penting dalam hidup kita tetap menjadi imam yang baik. Itu benar dan itu adalah harapan kita semua. Akan tetapi, jika terjadi sebaliknya, Anda tidak perlu berkecil hati. Buktikan bahwa Anda mempunyai kekuatan mental untuk mengusir segala yang jahat dan buruk bagi Anda dan pasangan melalui kerukunan, kesetiaan, dan cinta kasih yang tulus.
Imam yang telah keluar itu memilih jalan hidupnya sendiri dan telah mengalami proses yang tidak ada sangkut pautnya dengan perkawinan Anda dan perkawinan siapapun juga. Apa yang dulu pernah dikerjakannya sebagai pelayanan adalah sah, karena pada saat dilakukan ia tidak terkena halangan dan tidak dikeluarkan dari persekutuan para imam.
Jika ada orang yang bertanya mengenai hal ini kepada Anda dan pasangan, jawablah dengan wajar dan tanpa emosi. Hargai perkawinan Anda sendiri, bukan karena imam peneguh atau siapapun yang pernah melayani perkawinan Anda. Ada hal yang
sebenarnya kurang tepat berkaitan dengan peneguh perkawinan. Perkawinan tidak berbeda derajat dari peneguhnya, entah imam terkenal atau dari desa terpencil, sama saja. Pemahaman seperti ini penting, karena salah paham dapat membuat perkawinan menjadi kurang dihargai dari dirinya sendiri.
Harus diingat bahwa Sakramen Perkawinan itu diciptakan oleh kedua pihak yang menikah dari janji perkawinannya, bukan oleh imam atau diakon peneguhnya. Imam atau diakon meneguhkan, menjadi saksi perkawinan. Tanpa peneguh, perkawinan memang tidak dapat dilakukan, tetapi mereka bukan dasar sakramen itu.
Jadi, jika perkawinan Anda berdua baik-baik saja, bersyukurlah. Hargailah perkawinan Anda sedemikian rupa sehingga Anda tidak terombang-ambing oleh suara-suara yang bisa melemahkan kekuatan perkawinan. Semoga penjelasan ini membantu dan menggembirakan Anda berdua. Tuhan memberkati.
Alexander Erwin Santoso MSF
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 52 Tanggal 27 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*