Artikel Terbaru

Romo Pilih Kasih

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Romo Pilih Kasih
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Romo Erwin, saya Margareth dari Jakarta. Saya merasa Romo kami banyak pilih kasih, apalagi bila dikaitkan dengan tampilan fisik. Di paroki saya, dibentuk paduan suara (Padus). Karena itu, Romo bersama Seksi Liturgi Paroki mencari siapa-siapa saja yang bakal jadi anggota Padus. Banyak ibu-ibu yang umurnya cukup tua kecewa karena ternyata Romo memilih yang masih muda, putih, single, ibu-ibu muda, janda muda, pokoknya masih perempuan cantik. Saya dan beberapa ibu-ibu tidak dimasukkan dalam Padus dengan alasan umur. Padahal, Padus itu dibentuk untuk paroki. Kami protes kepada Romo, tetapi tanggapan Romo, “Agar lebih fresh paduan suara kita”. Kami merasa sebagai umat, tidak punya hak di gereja. Padahal Gereja adalah communion, milik semua umat. Apakah Gereja kita hanya untuk kaum muda? Terima kasih, Romo.
Margareth, Jakarta
Ibu Margareth yang terkasih, saya ikut prihatin membaca surat ibu mengenai kor di paroki setempat. Kor adalah paduan suara yang dibentuk dari banyak orang agar tercipta nyanyian rohani yang baik dan indah dan menciptakan suatu persembahan yang layak untuk ditampilkan dalam liturgi Gereja atau acara-acara rohani di lingkungan Gereja Anda sebagai persembahan kepada Tuhan.
Qui bene cantat bis orat, “Orang yang bernyanyi baik, berdoa dua kali”. Sungguh indah mendengar suara-suara indah memuji Tuhan, melagukan iman kepercayaannya dalam kelompok agar umat semakin disemangati dan diinspirasi dalam perayaan liturgi Gereja. Melalui lagu, umat dapat merasakan indahnya beriman dan seakan-akan menyanyikan pujian kepada Tuhan bersama kelompok kor.
Yang terpenting adalah kemampuan, keindahan, dan keseriusan para penyanyi dalam koor Gereja itu. Para anggota yang bernyanyi bukan hanya sekadar bernyanyi, tetapi mampu bernyanyi, dapat merasakan lagu-lagu yang dinyanyikan sebagai pujian, permohonan, dan penyembahan pribadi. Kita bernyanyi karena ingin memuji dan memuliakan Tuhan.
Bernyanyi dengan semangat akan menghasilkan lagu yang indah dan mewarnai liturgi dengan lebih baik. Apakah Ibu yakin bahwa alasan imam di paroki seperti itu? Jika memang demikian, ini kurang tepat dan dapat menyinggung perasaan.
Menyanyi dapat dilakukan sejauh seorang pribadi memiliki semangat dan kemampuan untuk menyanyikan lagu-lagu dalam kelompok. Menyanyi solo berbeda. Bisa saja dilakukan penjadwalan agar selang-seling berganti kelompok.
Ada bidang lain yang terbatas usia, misalnya kemampuan mengajar. Pengajar harus berdiri, bersuara keras, update informasi, serta perlu menyesuaikan diri dengan murid yang diajarnya. Inilah alasan mengapa bidang pengajaran, misalnya, perlu menerapkan batas usia pengajar untuk alasan-alasan yang masuk akal.
Akan tetapi, menjadi anggota koor hanya memerlukan kemampuan dan pengalaman bernyanyi, tidak selalu dipengaruhi usia penyanyinya, asalkan masih dapat menyanyikan sebuah lagu dan mempunyai penguasaan diri untuk bernyanyi dalam kelompok dan menciptakan harmoni yang indah bersama.
Jika paroki tidak mengizinkan Ibu bernyanyi karena usia, Ibu masih dapat membuktikan kemampuan dengan membentuk kelompok kor sendiri untuk acara-acara di luar Misa atau Misa Lingkungan. Banyak kesempatan untuk melayani Gereja. Jangan patah semangat, karena Ibu dapat bernyanyi dalam liturgi lain, seperti pemberkatan rumah, ibadat arwah, perayaan Paskah atau Natal Wilayah, atau perayaan perkawinan.
Buktikan bahwa Ibu dan kawan-kawan seusia masih dapat menyumbangkan suara dengan baik. Jangan menanggapi keputusan imam dengan emosional, yang akan merugikan image Ibu dan kawan-kawan seusia karena dianggap menentang Pastor Paroki. Tanggapi dengan bijaksana dan bicarakan bersama. Lebih baik jangan bertindak sendiri menanggapinya, supaya tidak menjadi konflik pribadi.
Di atas semua itu, kegembiraan seorang Ibu sekarang adalah melayani keluarga. Ada banyak cara menikmati usia matang. Barangkali ini saatnya memberi perhatian pada anak-anak dan cucu-cucu. Saya percaya, ada berkat tersembunyi di balik peristiwa yang kurang nyaman. Tuhan memberkati.
Alexander Erwin Santoso MSF
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 50 Tanggal 13 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*