Artikel Terbaru

Dampak Lingkungan Tidak Sehat

Sumber: keywordsuggest.org
Dampak Lingkungan Tidak Sehat
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh, Saya Robert, 40 tahun. Selama ini saya tinggal di Jakarta Timur. Menurut saya, lingkungan di sana kurang sehat. Anak saya sudah SMA. Temannya kebanyakan pengamen, bekas pemakai narkoba, suka ke diskotik, dll. Saya berniat menjual rumah itu dan ingin pindah. Cuma banyak masalah seperti pengurusan surat KK, KTP, dsb. Saat ini saya berharap, secepatnya ada orang yang berminat membeli rumah kami dan kami bisa pindah dari situ. Saya sudah berdoa Novena kepada Hati Kudus Yesus dan Novena Tiga Salam Maria, tapi hasilnya nihil. Saya takut dua anak saya tumbuh dalam lingkungan yang kurang sehat. Saya benar-benar sedih karena doa saya tak kunjung dikabulkan. Apa yang harus saya perbuat untuk bisa bebas dari lingkungan yang tidak sehat ini?
Robert, Jakarta
Bapak Robert, saya bisa memahami keprihatinan Bapak sebagai orangtua yang mencemaskan perkembangan anak-anak karena lingkungan tempat tinggal yang kurang sehat. Mario Teguh dalam sebuah acara TV, Golden Ways pernah mengatakan, “Bukan beban yang membuat kita sulit, tetapi cara memikul beban yang salah yang membuat hidup menjadi sulit”. Percayakah Bapak? Oleh karena itu, beberapa hal yang bisa menjadi bahan pertimbangan, yaitu:
Pertama, tak dapat dipungkiri bahwa lingkungan masyarakat di mana kita hidup berdampak pada perilaku. Lingkungan sosial yang tidak sehat mendukung terjadinya perilaku menyimpang. Namun, itu bukanlah satu-satunya faktor. Faktor keluarga dan peran sekolah juga berperan penting. Keluarga yang sehat, penuh cinta dan kasih, relasi orangtua yang harmonis, komunikasi timbal balik, penanaman nilai baik-buruk, akan memberikan pengalaman rasa aman bagi anak. Lingkungan keluarga yang aman juga mendukung terbentuknya perkembangan sosio-emosional yang baik.
Sebuah penelitian tentang faktor yang menumbuhkan anak sejahtera secara psikologis menunjukkan, pemenuhan afeksi (32%), orangtua harmonis (16%), komunikasi intens (16%), ajaran agama (8%), dan nilai moral (6%). Peran keluarga ini yang bisa Bapak tekankan. Harapannya, anak tumbuh menjadi pribadi yang tegar dan tak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik.
Sebagai siswa, peran sekolah juga turut mendukung. Iklim sekolah yang baik ditandai dengan relasi antarsiswa, siswa dengan guru dan antarguru yang hangat, kondisi fisik gedung dan fasilitas sekolah yang memadai, minim kekerasan, dan penghargaan karya siswa. Status kesehatan anak berdampak pada kesejahteraan anak di sekolah. Pemasalahan umumnya terletak pada penggunaan waktu luang anak di luar sekolah. Anak bisa diikutsertakan dalam kegiatan di lingkungan maupun gereja, seperti Mudika, Misdinar, Koor atau Bimbel, menggali minat dan hobinya agar waktu luang digunakan untuk kegiatan yang positif.
Kedua, terkait niat menjual rumah. Status hukum tanah dan rumah harus jelas. Harga yang ditawarkan kepada calon pembeli pun harus marketable. Artinya sesuai dengan harga pasar. Bila terpaksa, di bawah harga pasar pun tak masalah. Selanjutnya, menentukan strategi pemasarannya, dari mulut ke mulut, pasang iklan di koran, radio, selebaran, dsb.
Ketiga, berdoa adalah langkah yang baik, tapi tak bisa hanya sekadarnya, tapi harus disertai introspeksi dan niat untuk hidup lebih baik, melayani, menguatkan iman dan tetap berusaha. Dalam doa Novena terdapat penggalan kalimat, “Bila permintaanku selaras dengan kehendak Bapa”. Jika doa belum dikabulkan, tetaplah berdoa dan percaya, kehendak Tuhan selalu lebih indah daripada harapan manusia.
Berdoa dengan setia dan tulus, serta percaya hidup kita ada di tangan Tuhan. Ia sungguh tahu bagaimana Ia menjawab, kapan Ia menjawab, dan apakah Ia menjawab sesuai dengan permintaan kita atau tidak. Ada baiknya Bapak mengikutsertakan seluruh anggota keluarga untuk berdoa bersama, misal berdoa Rosario.
Bila usaha dan permohonan doa Bapak belum membuahkan hasil, berarti Bapak harus mulai belajar untuk berdamai. Dalam cara pandang orang Jawa terhadap hidup dikatakan, “Urip ming sak derma mampir ngombe, trima ing pandum”; “Hidup hanya sebentar laiknya minum segelas air, terimalah apa yang sudah digariskan”. Berkah Dalem.
Praharesti Eryani
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 49 Tanggal 6 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*