Artikel Terbaru

Anak Perempuanku Norak

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Anak Perempuanku Norak
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh, saya Ratna dari Bekasi. Belakangan saya cemas dengan putri saya (20 tahun) yang pergaulan dan cara berpakaiannya “norak”. Dulu ia tak suka tato dan tindik di lidah dan hidung, tapi sekarang hampir seluruh tubuhnya bertato dan banyak tindikan. Bukan itu saja, ia sering memakai celana panjang yang robek-robek dengan sepatu boot tinggi bergaya anak “punk”. Saya sering menegurnya, tapi malah saya dikatakan ketinggalan zaman, tak mengerti keinginan anak muda. Saya pernah bersikap kasar dan ia lari dari rumah beberapa minggu, lalu kembali lagi. Biarpun saya ketinggalan zaman, tapi bagi saya, pergaulannya salah. Berbagai usaha sudah kami buat untuk putri kami, termasuk membatasi pergaulannya, tapi hasilnya nihil. Ia selalu mencari celah untuk bersama teman-temannya. Bagaimana sikap saya dan suami menghadapinya? Apakah perlu memberi efek jera dan seperti apa? Terima kasih.
Ratna, Bekasi
Ibu Ratna, setelah memahami cerita tentang putri Ibu, hal semacam ini memang merisaukan kita orangtua. Pergaulan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku dan pola pikir anak. Saat anak masih SD, orangtua lebih mudah masuk ke dunianya. Namun saat masa puber, lalu remaja, halitu berubah. Anak banyak mengikuti teman dan cenderung mengabaikan orangtua.
Tak menutup kemungkinan terjadi yang berbeda, seandainya anak mendapatkan teman pergaulan yang kurang sejalan dengan nilai-nilai yang kita tanamkan. Misal, putri Ibu memakai pakaian “norak”, celana robek-robek, tato dan tindik berlebihan, yang dianggap kurang wajar.
Ibu harus lebih bersabar dan menguatkan diri, tidak emosional dalam menghadapi putrinya. Tenangkan hati dan pikiran, tidak terlalu reaktif dalam menghadapi, apalagi bersikap kasar dan menghukum secara fisik. Usahakan hal itu tak terjadi, karena putri Ibu sudah bukan anak-anak lagi. Dengan ketenangan, diharapkan dapat menggugah hati anak. Ketenangan juga bukan berarti membiarkannya. Perhatian dan kepedulian tetap penting.
Setelah tenang, dekati putri Ibu; ajak saling berkomunikasi; mencari waktu yang tepat saat santai dan dalam keadaan nyaman; tidak pada saat satu pihak atau keduanya sedang mengalami emosi tertentu, wajah cemberut, nampak seperti marah, jengkel, atau situasi lain yang kurang menyenangkan. Bicarakan hal-hal ringan, misal tentang makanan yang ia sukai, kegiatan apa yang bisa dilakukan saat libur.
Diharapkan saling berdiskusi, bukan Ibu yang menentukan. Buatlah anak lebih banyak berpendapat dan mengeluarkan ide. Bisa juga mengenang masa kecilnya. Ceritakan yang menyenangkan sehingga anak merasa diperhatikan dan dibutuhkan di rumah, tak hanya disuruh atau dinasehati. Jangan sampai ia merasa selalu dimarahi. Dengan begitu mungkin anak merasa lebih nyaman di rumah.
Ibu juga bisa menyiapkan makanan yang ia sukai dan memintanya mengajak teman-temannya datang ke rumah, sehingga Ibu merasa aman karena lebih tahu apa yang ia lakukan dan mengenal teman-temannya. Kesabaran dan ketenangan Ibu tetap diharapkan saat anak benar-benar mengajak teman-temannya ke rumah. Ibu harus siap.
Setelah lebih tenang, anak merasa selalu ada perhatian dan kepedulian keluarga meski ia berperilaku “norak”. Diharapkan hal itu membuka hatinya, apalagi usia dan kedewasaan kian bertambah. Masukan tentang hal-hal yang wajar ia lakukan tetap harus diberikan dalam suasana tenang dan komunikasi yang lebih terbuka atau menyenangkan.
Berikan dulu hal-hal positif yang ia miliki, yang dapat membanggakannya untuk menyadarkan potensi yang ia miliki. Sebaiknya tidak selalu menentang atau menganggapnya negatif agar ia tak makin menjauh dan mudah pergi dari rumah. Ajaklah berdoa bersama secara rutin, sehingga tetap ingat penyertaan Tuhan.
Seandainya hal itu kurang dapat mengurangi dan menyadarkan perilaku “norak”-nya, carilah figur otoritas yang ia segani; ajak anak untuk menemuinya. Namun sebelumnya Ibu menemui figur itu serta menceritakan yang terjadi dan harapan Ibu.
Memang tak mudah menyelesaikan masalah ini karena yang Ibu hadapi adalah anak, tapi sudah bukan anak-anak lagi dan merasa sudah dewasa, serta tak ingin diatur. Intinya, “pergaulan sangat mempengaruhi perilaku dan cara berpikir seseorang”. Ibu Ratna, tetaplah yakin akan kekuatan doa dan percayalah Tuhan Yesus selalu menyertai. Berkat Tuhan.
Emiliana Primastuti
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 48 Tanggal 29 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*