Artikel Terbaru

Pemberkatan Jenazah

[Ist]
Pemberkatan Jenazah
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDalam upacara pemberkatan jenazah secara Katolik, mengapa jenazah diberkati, didupai dan diberi minyak wangi, ditaburi bunga? Bukankah jenazah itu hanyalah sisa hidup seseorang yang akan kembali menjadi debu? Mengapa sedemikian dihormati dengan aneka upacara?
Gabriella Panjaitan, Medan
Pertama, Gereja Katolik memberikan penghormatan yang begitu besar kepada jenazah anggotanya yang sudah meninggal karena manusia diciptakan sebagai citra Allah. Karena manusia adalah satu kesatuan utuh yang mempunyai dimensi badan, jiwa dan roh (1 Tes 5:23), maka kecitraan itu tercermin dalam keseluruhan diri manusia dalam semua dimensinya, yaitu badan, jiwa dan roh. Manusia inilah yang juga telah dikuduskan melalui sakramen Baptis, dikuatkan dalam sakramen Krisma, ditumbuhkembangkan dalam kekudusan melalui sakramen Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya. Karena karya pengudusan ini, orang-orang beriman “adalah bait Roh Kudus” (1 Kor 6:19).
Semua karya pengudusan ini diterima dengan dan melalui badan manusia yang kasad mata. Karena itu Gereja Katolik menghormati jenazah sebagai ungkapan kasih melepas kepergian seorang saudara yang mendahului kita. Penghormatan ini bukan untuk memuja sesosok tubuh yang sudah tidak bernyawa, bukan untuk menghalau roh-roh jahat ataupun menjauhkan orang mati agar jangan sampai mengganggu orang-orang yang masih hidup.
Penghormatan jenazah ini adalah ungkapan persekutuan kita dengan orang yang meninggal itu, dan menyatakan kepedulian kita untuk menyertai kepulangannya ke Rumah Bapa dengan bantuan doa-doa kita. Penghormatan jenazah ini terutama mengungkapkan kepercayaan dan harapan kita, akan kebangkitan badan pada hari kiamat, “Sebab bagi umat beriman hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan” (Prefasi Arwah 1). Makna yang sedemikian dalam bisa kita tangkap dari bagian-bagian upacara pemberkatan jenazah.
Kedua, memerciki jenazah dengan air suci mengingatkan kita akan sakramen Baptis yang telah diterima. Dalam Baptis, kita telah dikuduskan dengan ikutserta dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Maka percikan ini merupakan doa agar arwah orang yang meninggal itu sungguh menikmati pengudusan dan pada akhirnya sungguh menikmati kebangkitan yang telah dijanjikan Tuhan.
Pendupaan jenazah juga mengungkapkan doa kita akan segala kebaikan orang yang meninggal itu beserta doa-doa kita yang mengiringinya membumbung naik ke hadirat Allah, berkenan pada Allah Bapa dan diterima olehNya. Bunga yang ditaburkan mengingatkan pada kuntum hidup ilahi yang telah diberikan pada manusia ketika diciptakan dan dikembangkan dalam iman dan penghayatan sakramen-sakramen. Penaburan bunga merupakan ungkapan doa agar penghayatan iman dan segala perbuatan baiknya diterima oleh Allah Bapa.
Penaburan tanah mengingatkan kita akan asal usul kita yang dari tanah dan akan kembali ke tanah, tetapi roh kita akan kembali kepada Allah yang telah meniupkan nafas hidup ke dalam diri kita (Kej 2:7). Penaburan tanah ini juga mengungkapkan iman kita bahwa kita akan turut serta dibangkitkan bersama Kristus.
Penandaan dengan salib mengungkapkan bahwa kita telah ditebus oleh salib kemenangan Kristus. Karena salib itu kita diangkat menjadi anak Allah dan akan menikmati warisan hidup kekal.
Apakah Tempat Penantian itu sama dengan Api Penyucian?
Yulia ER, Surabaya
Tidak sama. Tempat penantian adalah “tempat” para arwah yang meninggal sesudah Adam berdosa dan sebelum Yesus wafat di salib, menunggu pintu surga dibuka. Pintu surga dibuka oleh Yesus yang sesudah wafat, turun ke tempat penantian. Sesudah itu, tidak ada lagi tempat penantian. Api Penyucian tetap ada sampai akhir jaman.
Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 47 Tanggal 22 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*