Artikel Terbaru

Kebahagiaan di Rumah Bapa

[Ist]
Kebahagiaan di Rumah Bapa
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comBunda Maria sedemikian suci dan hidup sepenuhnya bagi Allah. Apakah selama hidup di dunia, Bunda Maria sudah menikmati visio beatifica? Apakah kebahagiaan itu dialami secara berbeda- beda atau sama bagi semua pribadi?
Theresia Maria Agustyarini, Malang
Pertama, sekalipun seseorang hidup secara sangat suci di dunia, tetap ada keterbatasan mendasar dalam pengetahuan tentang Allah. Karena itu juga, dalam kehidupannya yang sedemikian suci, Bunda Maria tetap tidak bisa “melihat” Allah selama hidup di dunia. Bunda Maria tetap belum menikmati visio beatifica. Melalui karunia kasih, kita disatukan dengan kehendak Allah, tetapi wajah Allah tetap tidak kelihatan. Semua pengenalan akan Allah melalui Sabda, sakramen, dan pengalaman hidup membawa kita semakin dekat dengan Allah, tetapi pengenalan itu bagaikan masih tertutup oleh awan. Kenyataan ilahi itu tetap merupakan, menurut para mistikus, awan yang tidak kita ketahui atauthe cloud of unknowing.
Kedua, untuk memandang Allah dibutuhkan apa yang disebut cahaya kemuliaan, yaitu kekuatan atau kuasa yang diberikan Allah kepada kemampuan akal budi mereka yang sudah meninggal dunia. Dalam pemberian cahaya kemuliaan ini, Sabda Ilahi memampukan akal budi manusia mengatasi keterbatasannya, sehingga mampu menangkap kenyataan ilahi secara penuh. Kemampuan akal budi manusia mengimbangi apa yang telah dicapai oleh kemampuan hati untuk mengasihi. Seperti kita ketahui, juga dalam hidup ini, kasih mampu menembus kegelapan, di mana Allah tinggal dan dipersatukan dengan Allah melalui penyerahan diri kepada kehendak ilahi. Apa yang telah dialami oleh kasih, pada akhirnya dibukakan secara penuh dalam kenyataan untuk akal budi kita. Jadi, kekuatan atau kuasa itu berfungsi bagaikan sebuah mata baru. Kekuatan atau kuasa itu memampukan mereka untuk melihat Allah sebagaimana adanya. Karena itu, kasih ditransformasi menjadi kebahagiaan dan damai sejahtera. Proses ini kadang juga disebut proses pencerahan atau pembukaan selubung yang menutupi akal budi manusia.
Ketiga, intensitas kekuatan atau kuasa ini tergantung tingkat rahmat pengudus yang dimiliki setiap orang pada saat kematian. Setiap jiwa mengalami kebahagiaan menurut sejauh mana kemampuan masing bisa menerimanya. Dalam situasi ini, tidak ada jiwa yang akan iri atau cemburu tentang kemampuan jiwa yang lain. Ibaratnya, gelas kecil dan gelas besar sama-sama diisi secara penuh, tetapi yang satu memiliki lebih banyak dibandingkan yang lain. Juga bisa dibandingkan dengan beberapa orang yang melihat sebuah lukisan yang indah atau mendengarkan sebuah komposisi musik yang sedemikian anggun. Semua menyukainya, tetapi masing-masing menikmati secara berbeda-beda sesuai kemampuan masing-masing. Beberapa akan melihat atau mendengar lebih banyak dibandingkan dengan yang lainnya, dan semua ini memberikan kebahagiaan.
Adanya tingkatan kemuliaan ini diajarkan Konsili Florence yang menyatakan bahwa jiwa-jiwa orang yang benar. “secara jelas memandang Allah Tritunggal Mahakudus itu sendiri, sebagaimana adanya Dia, tetapi masing-masing menurut pahala-pahala mereka yang berbeda-beda, yang seorang lebih sempurna dibandingkan yang lain” (DS 1305). Tuhan sendiri memberikan perumpamaan di mana pelayan-pelayan dari tuan yang sama menerima ganjaran yang berbeda- beda untuk tanggung jawab yang berbeda (Mat 25:14-30; Luk 19:11-27). Yesus berbicara tentang mereka yang lebih besar dan lebih kecil dalam Kerajaan Surga (Mat 5:19; 18:4; Luk 7:28; Mrk 10:31). Dia juga menyatakan bahwa Dia akan memberikan ganjaran sesuai dengan perbuatan masing-masing (Mat 16:27) dan memberitahu para Rasul, “Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal” (Yoh 14:2).
Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 45 Tanggal 8 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*