Artikel Terbaru

Bayar Mahar dengan Surat Baptis

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Bayar Mahar dengan Surat Baptis
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Romo Erwin, saya Casandra dari Medan. Saya mempunyai pacar asal Belanda. Kami bertemu ketika saya kuliah di Belanda tahun 2008. Selesai kuliah, saya kembali ke Indonesia dan bekerja. Akhirnya kami pacaran jarak jauh. Pada 2014, pacar saya ikut ke Indonesia dan membuka usaha di Bali sehingga kami sering bertemu. Pada Mei 2015, ia melamar saya. Keluarga pada dasarnya setuju, tetapi dengan syarat ia harus masuk Katolik. Mengingat pacar saya beraliran Kristen Reformasi.
 
Pihak keluarga tidak menuntut mahar atau mas kawin yang besar. Mahar utama bagi keluarga saya adalah Surat Permandian, keterangan katekumen dan bukti bahwa ia telah menerima Komuni Pertama. Bila itu sudah ada, tanpa bayar pun keluarga menyetujui pernikahan kami. Apa yang harus saya buat untuk melanjutkan hubungan kami? Pacar saya bersedia membayar mahar berapa pun harganya asal jangan syarat seperti ini. Ia ingin menjadi Katolik, tetapi syarat-syaratnya terlalu rumit apalagi masa persiapan menjadi Katolik sangat lama. Bagaimana saya harus menjelaskan kepada orangtua perihal keinginan pacar saya, Terimakasih
Casandra, Medan
Casandra yang sedang bingung, terima kasih atas sharing pengalaman Anda menjelang pernikahan. Saya memuji ketegasan yang ada dalam keluarga Anda perihal iman: pasangan haruslah seiman. Sekarang ini, banyak keluarga longgar dalam hal ketahanan dan keteguhan dalam memperoleh pasangan seiman. Keluarga Anda memberikan teladan yang baik, meskipun tampaknya memaksa atau bahkan menekan Anda dan p sangan untuk mengurus persoalan ini dengan keras.
Orangtua yang baik harus memberikan sesuatu yang terbaik untuk anak-anaknya. Salah satu yang penting memang adalah iman ini. Saya dapat mengerti jika orangtua Anda begitu prihatin dan menegaskan sikap mereka dalam hal ini. Saya ingin mengapresiasi atau memuji mereka yang bahkan tidak memikirkan harta benda dan ketampanan, kecuali iman. Sikap ini mohon Anda mengerti dulu, agar Anda dapat memahami dan kelak meneladan sikap tegas ini.
Orangtua yang baik tidak akan melepaskan anak-anaknya dalam kesulitan ketika mereka berada terpisah dengan mereka. Orangtua yang baik mendidik anak-anak mereka dalam iman melalui peraturan dan ketegasan. Anda pasti dapat mengingat bagaimana Anda dulu merasa “dipaksa” untuk rajin ke Gereja, berdoa sebelum makan, les agama, atau duduk di depan ketika mengikuti perayaan Ekaristi. Disiplin seperti ini tidak disukai oleh anak-anak, tetapi pada saatnya anak-anak akan mengerti bahwa hal itu penting untuk hidup beriman mereka.
Ketika Anda mengalami situasi ini, Anda pertama-tama harus sadar dan penuh semangat menanggapi sikap orangtua Anda. Anda tidak boleh hanya menanggapi ini sebagai paksaan dan bahkan hambatan dari mereka untuk perkawinan Anda. Mereka berharap iman jangan menjadi masalah dalam keluarga Anda kelak. Pengertian ini akan menentukan bagaimana Anda dan pasangan bersikap dan mengerti “aturan main” orangtua Anda.
Jika Anda hanya mempertanyakan soal mahar dan waktu menikah yang cepat, kita berpikir bahwa orangtua Anda melulu menghalangi, tetapi jika kita memberi waktu dan mencerna cara mereka memutuskan, maka dengan bijaksana Anda berdua akan menemukan jalan keluar. Coba Anda jawab pertanyaan ini, “Apakah Anda memang harus menikah dalam waktu dekat?” atau pertanyaan ini, “Jika pasangan sudah mau menjadi Katolik, mengapa kursus dianggap terlalu lama?” Saya kuatir bahwa ia tidak sungguh berniat menjadi Katolik, tetapi hanya memenuhi syarat perkawinan kalian saja.
Ada bahaya jika agama dipaksakan pada pasangan yang akan menikah. Ini hanya akan melahirkan orang-orang yang terpaksa pindah agama dan selanjutnya kembali lagi karena merasa terpaksa. Ambillah waktu berpikir, berilah bantuan kepada pasangan untuk mengerti makna Sakramen, ajaran Katolik, dan maksud doa-doa kita. Persiapkan pasangan, bicarakan waktu yang tepat untuk menikah dan memulai hidup bersama dalam damai dan kegembiraan beriman. Tuhan memberkati.
Alexander Erwin Santoso MSF
Sumber: Majalah HIDUP

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*