Artikel Terbaru

Teman Kerja yang Menyebalkan

Ilustrasi Dok. HIDUP
Teman Kerja yang Menyebalkan
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear pengasuh, saya Yudith, usia saya 28 tahun dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan di Semarang, Jawa Tengah. Di kantor tempat saya bekerja, suasananya kurang kondusif karena ada teman perempuan yang sering sms gelap kepada atasan tentang perilaku para karyawan. Beberapa hari lalu, saya yang menjadi korban. Teman saya ini melaporkan bahwa saya malas kerja, ke kantor memakai sandal jepit, terlambat masuk kantor, terlalu cari muka, dll. Beberapa teman juga sudah menjadi korbannya. Beberapa mengatakan, teman saya ini masih cucu keponakan dari pemilik perusahaan. Sebaliknya, ia sering bekerja semaunya, sering memerintah karyawan-karyawan lain, padahal ia baru masuk tiga bulan lalu dan sok tahu tentang perusahaan. Anehnya, atasan kami juga ikut percaya. Saya ingin bertanya bagaimana cara menghadapi teman saya ini? Karena lama-lama saya tidak bisa menahan emosi melihat mukanya yang munafik. Terima kasih.
Yudith, Semarang
Salam jumpa Saudari Yudit di Semarang. Sebelum kita membicarakan apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi teman semacam itu, ada baiknya terlebih dulu kita melihat apa yang menyebabkan teman tersebut berperilaku seperti itu.
Ada beberapa hal yang bisa melatarbelakangi mengapa orang bisa berperilaku demikian. Pertama, kemungkinan orang tersebut sebenarnya kurang percaya bahwa dirinya bisa mendapatkan perhatian dari orang lain, terutama atasan. Ia berusaha untuk menarik perhatian dari atasan dengan berusaha untuk menonjolkan kebaikan diri. Sayangnya, hal ini dilakukan dengan menjelekkan orang lain agar atasan bisa melihat kontras antara dirinya yang kelihatan lebih baik daripada orang lain yang akan kelihatan buruk. Harapannya atasan akan lebih memberi perhatian pada dirinya yang nampak lebih baik dibanding karyawan lain.
Kedua, untuk mendapatkan perhatian dari atasan, perilaku mencari muka di depan atasan juga bisa untuk menunjukkan pada teman sekerja bahwa ia mempunyai “kekuasaan” di kantor supaya disegani. Bisa diibaratkan “bersembunyi” di belakang atasan untuk menguasai teman sekerja. “Kekuasaan” yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk “menekan” atau mengeksploitasi rekan sekerjanya.
Ketiga, untuk menutupi ketidakmampuannya dalam bekerja. Posisi yang diperoleh karena KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) bisa menyebabkan si pelaku merasa sebenarnya kurang mampu untuk menduduki posisi tersebut. Oleh karena itu, ia akan mencoba menutupi perasaan kurang mampunya dengan menonjolkan kekurangan orang lain.
Melihat latar belakang tersebut, sebenarnya apa yang dilakukan oleh rekan sekerja Yudith sungguh melelahkan, karena membutuhkan energi yang cukup besar dan menguras konsentrasi. Akibatnya, pekerjaannya sendiri akan terabaikan atau tidak dikerjakan dengan baik karena sebagian waktunya digunakan untuk mencari kesalahan orang lain.
Untuk mengatasi kondisi yang tidak kondusif ini, ada beberapa hal yang bisa Yudith lakukan. Perilaku itu mungkin dilakukan untuk mencari perhatian dari orang lain, maka berikanlah apa yang ia cari, yaitu perhatian yang positif. Misalnya dengan memberikan pujian bahwa ia cukup cantik dengan pakaian atau aksesoris yang dikenakan. Kalau ia melakukan kebaikan untuk teman sekerja, berilah pujian.
Hal ini untuk menyadarkan bahwa sebenarnya ia cukup menarik perhatian orang lain tanpa perlu menonjolkan diri dengan mencari keburukan orang lain.
Sejauh tidak mengganggu tugas pokok, Yudith juga bisa “menawarkan” untuk membantu mengerjakan tugas teman itu yang belum terselesaikan. Orang akan lebih tersentuh oleh bantuan yang ditawarkan dari orang yang telah ia “aniaya” dan mungkin akan menyesali “penganiayaan” yang ia lakukan.
Hal lain yang juga bisa dilakukan adalah “menjaga diri” agar tidak menjadi sasaran “penilaian”-nya. Yudith bisa memperhatikan hal-hal apa saja yang biasa dijadikan sasaran penilaian yang nantinya akan dilaporkan kepada atasan. Setelah tahu, maka Yudith dan teman-teman sekantor bisa menghindari sasaran penilaian tersebut, sehingga ia akan kehilangan sasaran dan kesempatan untuk menyusun laporan baru. Selamat mencoba.
Drs George Hardjanta MSi
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 46 Tanggal 15 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*