Artikel Terbaru

Memadu Kasih Sebelum Misa

Ilustrasi Dok. HIDUP
Memadu Kasih Sebelum Misa
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Romo Erwin, Saya Widyo dari Bogor. Saya ingin bertanya, benarkah pendapat orang yang mengatakan bila suami-istri mengadakan hubungan seks pada pagi hari, pada hari itu juga mereka tidak layak menerima Komuni? Karena menurut ajaran Katolik, kita diperbolehkan menyambut Komuni bila dalam keadaan rahmat, bersih dari dosa besar, termasuk perbuatan kotor. Sedangkan kata orang, hubungan seks antara suami-istri merupakan hal yang jijik dilakukan menjelang menghadiri Misa.
Widyo, Bogor
Saudara Widyo yang terkasih bersama istri tercinta, senang sekali membaca pertanyaan ini. Biasanya pertanyaan yang diajukan umat berkaitan dengan persoalan antara suami-istri. Tapi membaca pertanyaan ini, membuat kita semua merasa lega, karena ternyata banyak pasangan masih mempertahankan kemesraan dan kehangatan di antara mereka.
Hubungan seksual memang sesuatu yang sering disalah artikan oleh orang Indonesia. Kebanyakan berpikir, hubungan seksual masuk dalam wilayah “kotor” atau “tabu” sehingga harus masuk dalam kategori “inbox”, dikunci di kamar tidur, dan tidak pantas dibicarakan di depan umum.
Memang benar, hubungan seksual itu suatu yang intim, personal, dan dengan intensif dibicarakan pasutri. Tapi tidak berarti bahwa hal ini suatu yang kotor dan jauh dari kesucian. Bahkan dalam hukum Gereja pun dikatakan, perkawinan tanpa hubungan seksual adalah sesuatu yang tidak wajar dan justru bermasalah; kecuali jika di kemudian hari, karena masalah kesehatan dan usia, hubungan seksual ini berkurang atau bahkan tidak dilakukan lagi.
Anggapan yang salah ini merembet pada pemahaman hubungan seksual berkaitan dengan kesucian liturgis. Dalam Gereja Katolik, kesucian tidak ditandai dengan tiadanya hubungan seksual, apalagi jika itu di antara pasangan suami-istri. Hubungan seksual justru menyucikan kedua belah pihak yang menikah, karena menghindarkan mereka dari penyelewengan atau pemenuhan kebutuhan seksual secara menyimpang. Jadi hubungan seksual itu suatu hal yang suci jika dilakukan oleh pasangan yang sah.
Pertanyaan Anda mengenai kesucian orang yang akan mengikuti perayaan Ekaristi, Misa, atau menerima Komuni sama sekali tidak ada kaitannya dengan boleh tidaknya Komuni diterima. Tentu saja setiap orang Katolik yang akan menerima Komuni harus dalam keadaan bersih jasmani, tidak dalam keadaan kotor misalnya karena belum mandi, belum membersihkan dirinya dari kotor badannya. Namun ini tidak ada kaitannya dengan sudah melakukan hubungan seksual.
Hubungan seksual tidak boleh dipertentangkan dengan penerimaan Komuni, karena setiap orang yang menikah boleh melakukannya secara pribadi, dengan kesepakatan, asalkan tidak mengganggu orang lain yang ada di sekitarnya. Pandangan ini barangkali mengacu pada hidup beribadah dari saudarasaudari Muslim yang mensyaratkan adanya “bersih badan” sebelum melakukan ibadahnya. Kita pun mensyaratkan kebersihan ini, tetapi tidak melarang orang melakukannya pada waktu sebelum datang ke Gereja.
Cobalah memandang hubungan seksual secara sehat. Ini adalah kewajiban dan hak setiap orang yang menikah untuk mempertahankan hidup seksualnya dengan pasangan secara tetap. Hubungan seksual bagi pasangan suami-istri adalah karya cinta kasih Allah yang menunjukkan komunikasi tertinggi perkawinan yang diterima dari Allah sendiri.
Kita tidak pernah memandang hubungan seksual sebagai tanda kekotoran ataupun harus dihindari. Kita justru bersyukur karena hubungan seksual memberikan pengalaman cinta kasih yang mempersatukan seorang pribadi dengan pribadi lain dalam perkawinannya. Ini justru kesucian suami-istri.
Jika hubungan seksual dilakukan di luar nikah, ini memang dosa berat, karena itu perzinahan dan penyelewengan. Dalam situasi ini, keadaan berdosa membuat orang tidak layak untuk menerima Komuni, sebelum ia mengaku dosa. Semoga penjelasan ini mudah diterima dan Anda tidak ragu-ragu melakukan hubungan seksual dengan istri pada saat yang paling nyaman. Tuhan memberkati.
Alexander Erwin Santoso MSF
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 44 Tanggal 1 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*