Artikel Terbaru

Tunjangan Dipotong Kantor

Tunjangan Dipotong Kantor
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comHalo pengasuh, belakangan  ini suami saya uring-uringan di rumah. Setelah saya cek, ternyata uang tunjangannya dipotong oleh kantor. Dia bekerja di salah satu lembaga Katolik. Padahal di rumah ia selalu cerita, ia bekerja dengan baik dan tak ada masalah. Setelah saya ajak ngobrol, ternyata dia was-was jangan sampai tunjangan hari rayanya pun bakal dipotong. Bagaimana saya harus bersikap, minimal bisa menenangkan hatinya.

Veronica Sulastri, Lampung

Halo, Ibu Veronica Sulastri. Bapak saat ini baru khawatir tentang tunjangannya. Memang tidak nyaman kalau uang kita dipotong oleh siapapun, termasuk dipotong oleh kantor. Akan sangat baik kalau hal tersebut dikomunikasikan dengan pimpinan Bapak supaya semua menjadi jelas.

Saat sebuah kantor memotong tunjangan kita, ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Mungkin ada pengetatan keuangan kantor sehingga semua karyawan mengalami pemotongan tunjangan. Kemungkinan lain adalah karena produktivitas kerja sebuah bagian dari perusahaan tersebut sedang bermasalah sehingga kantor memberi “hukuman” berupa pengurangan tunjangan bagi seluruh karyawan di bidang itu. Kemungkinan terakhir karena kesalahan karyawan sehingga mendapat “sanksi” itu.

Seandainya pengurangan tunjangan itu memang kesalahan Bapak, lalu apa yang harus dilakukan? Sebuah permintaan maaf, memperbarui diri, dan menunjukkan bahwa Bapak memang layak dipertahankan merupakan usaha untuk mengambil kepercayaan pimpinan lagi. Seandainya pengurangan tunjangan itu karena kurang produktif di bagian kerja, Ibu dapat mengajak Bapak untuk mengevaluasi sistem kerja selama ini, apakah memang sudah optimal atau perlu ditingkatkan lagi.

Bagaimana kalau masalah ada di kantor? Kalau ini terjadi, kita perlu mempertimbangkan ke arah mana perubahan yang terjadi. Bila perubahan itu menuju ke hal-hal negatif, perlu kiranya Bapak mempersiapkan diri untuk berhenti. Berhenti atau dihentikan menjadi sebuah titik yang harus dihadapi dengan berani. Perlukah kita risau?

Kerisauan kita saat menghadapi masalah merupakan reaksi spontan untuk melindungi diri. Namun, apakah sebuah hal yang tak sesuai harapan membuat kita tak nyaman? Ternyata yang membuat kita bahagia atau sedih, bukanlah apa yang terjadi tetapi bagaimana kita menghadapi kejadiaan itu. Banyak orang justru menjadi hebat setelah mengalami ketidaknyamanan dalam hidupnya. Yang terpenting bukan menjadi patah arang, tetapi cerdas menghadapi permasalahan.

Orang yang kuat daya lenturnya, tak akan patah saat ada beban. Sebaliknya, beban itu menjadi senjata untuk melemparkan ke arah yang lebih jauh. Demikian juga Bapak saat ini, banyak beban di kantor. Beban itu akan membuat stress atau menjadi titik balik sebuah keberhasilan yang akan datang, tergantung bagaimana Bapak menyikapi.

Jadikan ketidaknyamanan sekarang menjadi titik balik kesuksesan. Misal, menjadi wirausahawan. Bisa juga untuk mempererat hubungan, Bapak dengan Ibu membuat kegiatan bersama yang bersifat produktif, misal Ibu memasak makanan, Bapak yang menjualnya. Bila anak-anak sudah cukup dewasa, mereka bisa diajak berjuang dan diajari bertanggungjawab atas kehidupan keluarga.

Ketidaknyamanan perlu kita lihat bukan sebagai kondisi yang terus terjadi. Kejadian itu bersifat sementara dan hanya mempengaruhi bagian kecil kehidupan kita. Bisakah Ibu mengajak Bapak melihat titik terang dalam ketidaknyamanan yang dialaminya sekarang? Katakan kepada Bapak, Ibu dan anak-anak akan selalu mendampinginya untuk menemukan keindahan di tengah ketidaknyamanan yang sedang ia alami.

Margaretha Sih Setija Utami

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 52 Tanggal 25 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*