Artikel Terbaru

Irene Aprilina Sugiarti: Demi Ibu dan Si Buah Hati

Irene Aprilina Sugiarti
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Irene Aprilina Sugiarti: Demi Ibu dan Si Buah Hati
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMenjadi bidan bukan sekadar cita-cita. Baginya, profesi itu lebih kepada panggilan jiwa. “Saya yakin, ini sudah digariskan Tuhan,” tandas Iren.

Peluang Irene Aprilina Sugiarti mendapat beasiswa untuk spesialisasi keperawatan ada di depan mata. Tapi alumna Sekolah Keperawatan RS Sint Carolus, Jakarta Pusat, mengabaikan kesempatan emas dari almamaternya itu. Iren berhenti menjadi perawat setelah tiga tahun berkarya di RS Sint Carolus.

Perempuan kelahiran Walikukun, Ngawi, Jawa Timur, 4 April 1965 ini ingin menjadi bidan. Alasannya sederhana. Ia gembira bisa menolong ibu dan bayi dengan selamat. Ia juga senang menjadi saksi pertama melihat manusia baru hadir ke dunia. Iren memutuskan masuk ke Akademi Kebidanan (Akbid) Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat. Ia menanggung biaya pribadi demi menyabet gelar diploma.

Lulus Akbid, Iren menjadi bidan di RSIB Bunda, Menteng, Jakarta Pusat. Baru setahun di sana, ia ditelepon oleh bagian recruitment RS Sint Carolus. Iren mendapat tawaran untuk kembali berkarya di RS Sint Carolus. “Saya bersedia asal kan menjadi bidan,” jawabnya kala itu.

Pengalaman Pertama
Iren menjadi bidan di RS Sint Carolus selama 25 tahun. Jika dikalkulasi, ratusan pasien yang ia tangani secara langsung. Jumlah itu bisa meningkat sampai ribuan orang bila dihitung perannya sebagai asisten dokter. Namun, pengalaman pertamanya menangani pasien yang nyeleneh terjadi empat tahun lalu.

Pasiennya itu tak mau diperiksa di atas tempat tidur. Ia rebah di lantai dan meminta Iren mengecek kandungannya. Iren semula keberatan. Tapi usahanya sia-sia. Berulangkali dinasihati, pasiennya bergeming. Iren pun terpaksa mengikuti kemauan pasiennya. Tak hanya itu, ketika perut terasa mules, ia berguling-guling di lantai atau berlari keliling ruang pemeriksaan.

Iren berusaha mencegah aksi pasiennya. Lagi-lagi ia tak berdaya. Iren hanya sanggup mengunci ruangan agar pasiennya tak lari atau pulang ke rumah dengan memboyong sakit. “Ia belum siap hamil dan tak bisa menerima kalau melahirkan itu sakit,” beber Iren.

Pasien itu berusia 19 tahun. Statusnya masih sebagai mahasiswi. Ketika hari persalinan tiba, pasien itu ngotot melahirkan anaknya di lantai. Dengan tegas, Iren menghardik pasiennya, “Bu, apakah mau anaknya nanti keluar di lantai seperti kucing?” Kata-kata itu mujarab. Pasien tersebut mengikuti kehendak Iren. Sejak itu, pasiennya mau selonjoran di atas tempat tidur.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*