Artikel Terbaru

Allah Tritunggal Mahakudus

[NN]
Allah Tritunggal Mahakudus
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comJika Kitab Suci tidak pernah ditulis, apakah iman Katolik, misal tentang Trinitas akan mempunyai bentuk akhir seperti sekarang? Kapan dogma Tritunggal Mahakudus pertama kali diakui? Apa peristiwaperistiwa yang mendahului dan siapa yang terlibat?
P. Michael H, Jakarta
Pertama, tentu saja penuangan tradisi kristiani menjadi tulisan secara padat dan akhirnya dibukukan sebagai Injil, mempunyai dampak konkret dalam perkembangan iman dan dalam perumusan isi iman kita. Di satu pihak, kekuatan sebuah penulisan ialah bahwa tulisan bisa menjadi penjaga kemurnian dan keutuhan ajaran Yesus, yang berarti tidak dilemahkan oleh cara penyampaian dari satu generasi ke generasi berikut. Di lain pihak, kelemahan sebuah penulisan ialah bahwa tulisan bisa membatasi kekayaan nuansa dan arti ajaran Yesus yang hendak disampaikan. Syukur kepada Allah, kelemahan ini bisa diatasi oleh kehadiran Roh Kudus yang selalu membimbing Gereja untuk menangkap dan mengerti ajaran-ajaran Yesus secara benar, dan bahkan dalam arti yang lebih penuh.
Kedua, ajaran tentang Allah Tritunggal merupakan contoh bagaimana Gereja, dengan bimbingan Roh Kudus, berangsur-angsur menangkap dan mengerti arti yang lebih penuh dari ajaran-ajaran Yesus. Dalam hal ini perlu dibedakan antara isi ajaran dan pengertian Gereja, serta perumusan ajaran itu. Dengan bantuan bahasa ilmiah, pengertian Gereja itu akhirnya dirumuskan secara eksplisit sebagai ajaran tentang Allah Tritunggal Mahakudus. Istilah “Tritunggal” atau “Trinitas” itu tidak ada dalam Kitab Suci, tetapi isi ajaran itu terkandung dalam Kitab Suci.
Ketiga, ajaran eksplisit tentang Allah Tritunggal mulai masuk dalam khasanah iman Gereja pada Konsili Konstantinopel I (381), yaitu dalam Kredo Nicea- Konstantinopel dalam bentuk “Aku percaya akan Roh Kudus. Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan.” Rumusan ini merupakan sumbangan para Bapa Kapadokia, yaitu Basilius Agung, Gregorius Nyssa, dan Gregorius Nazianus. Rumusan Kredo Nicea-Konstantinopel yang mengeksplisitkan ajaran tentang Allah Tritunggal hakikatnya merupakan peneguhan ulang atas ajaran Nicea dengan penjelasan lebih lanjut tentang status dan peran Roh Kudus, terutama tentang keilahian Roh Kudus.
Konsili Nicea (325) dipicu kemunculan bidaah Arianisme, yang menyangkal keilahian dan keinsanian Allah Putra. Tokoh bidaah, Arius, mengajarkan bahwa Allah Putra tidaklah setara dengan Allah Bapa dan demikian pula Yesus tidak persis sama dengan manusia. Konsili Nicea, dengan tokoh Athanasius, menolak ajaran bidaah Arianisme dan menegaskan bahwa Allah Putra sehakikat (Yun: homo-ousios; Lat: consubstantial) dengan Allah Bapa. Dengan kata lain, Allah Putra adalah juga Allah sama seperti Allah Bapa.
Pada saat Konsili Nicea, belum dinyatakan secara tegas bahwa Roh Kudus juga adalah Allah. Keilahian dari Allah Roh Kudus inilah yang ditegaskan dalam Konsili Konstantinopel I (381). Dengan demikian, ajaran tentang Allah Tritunggal Mahakudus menjadi lengkap dan eksplisit pada Konsili Konstantinopel I ini.
Mengapa dalam Kitab Suci Perjanjian Lama ada dua cara penulisan, yakni, TUHAN dan Tuhan atau ALLAH dan Allah?
Vincent Achmad Adiwahyanto, Jakarta
Dalam terjemahan Indonesia yang sekarang, pencetakan dengan huruf besar kata TUHAN (TUHAN Allah) atau ALLAH (Tuhan ALLAH) adalah terjemahan nama diri Allah dari Israel, yaitu YHWH. Nama diri Allah Israel ini sering diucapkan Yahwe, tetapi orang Yahudi dalam membaca YHWH dalam Alkitab selalu mengucapkan dengan Adonai yang berarti Tuhanku (bdk. HIDUP No. 3, 20 Januari 2013). Dalam hal ini, penerjemahan dalam bahasa Indonesia mengikuti tradisi Yahudi.
Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 39 Tanggal 27 September 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*