Artikel Terbaru

Nasihat Paulus Tentang Mantilla

[NN]
Nasihat Paulus Tentang Mantilla
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comApakah nasihat St Paulus dalam 1 Kor 11:2- 16, yaitu agar perempuan memakai kerudung kepala (mantilla) memang dimaksudkan untuk seluruh Gereja? Bagaimana harus dimaknai fakta penghapusan kewajiban menggunakan mantilla dari KHK kan 1262 pada 1917?
Aloysia Maria Sinarwacana, Surabaya
Pertama, nasihat Paulus dalam 1 Kor 11:2-16 harus dibaca dalam konteks keseluruhan sikap Paulus terhadap budaya. Sikap pribadi Paulus sangat dipengaruhi dan diubah oleh wafat dan kebangkitan Kristus. Maka, satu-satunya yang dia inginkan ialah mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya (Fil 3:10). Kesadaran akan Yesus sebagai Mesias merupakan jantung pesan-pesan Paulus. Barangsiapa berada dalam Kristus, dia menjadi “ciptaan baru” dan yang lama hilang (2 Kor 5:17-21).
Dengan sikap dasar ini, Paulus mempertanyakan setiap gagasan dan tingkah laku dalam terang iman kepada Yesus Kristus. Dalam kaitan dengan budaya, sikap dasar Paulus menyatakan bahwa Injil Kristus mengatasi kategori dan harapan budaya, baik Yahudi maupun Yunani (1 Kor 1:22-24). Paulus menegaskan bahwa perbedaan kultural tidak diperhitungkan, demikian pula perbedaan sosial dan seksual, karena semua orang mempunyai martabat yang sama di dalam Kristus (Gal 3:27-28).
Paulus secara bebas mengidentifikasi diri dengan budaya atau kategori sosial manapun (1 Kor 9:19-21). Lebih lagi, mempertimbangkan kedekatan kedatangan Kristus, maka ungkapan-ungkapan budaya itu menjadi tidak penting dan yang paling penting ialah melakukan perintah-perintah Tuhan. Dalam situasi zaman (eskatologis) ini, Paulus menganjurkan agar setiap orang bertahan dalam keadaan seperti saat Tuhan memanggil (1 Kor 7:17-20). Maka, segala yang baik dan suci dalam budaya tetap dipertahankan, termasuk keistimewaan yang telah diberikan kepada orang-orang Yahudi (Rom 9:1-11:36).
Sikap Paulus terhadap budaya ini secara khusus nampak dalam Fil 4:8, yaitu sikap yang mempertahankan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, semua kebajikan, dan yang patut dipuji. Semua adalah anugerah dari Allah yang khas bagi bangsa tertentu, akan tetapi hal itu tidak perlu dipaksakan kepada orang lain, karena yang terpenting adalah melakukan perintah Tuhan.
Dengan demikian, nasihat Paulus dalam 1 Kor 11:2-16 ditujukan hanya kepada komunitas Yahudi yang sudah terbiasa memakai mantilla. Kebiasaan ini tidak penting, tapi boleh dipertahankan. Yang lebih penting ialah melakukan perintah Tuhan.
Kedua, sikap dasar Paulus terhadap ungkapan budaya itu sangat sesuai dengan yang diajarkan Yesus. Pada zaman itu, hidup keagamaan orang Farisi dan para ahli Taurat sangat menekankan segi lahiriah dari penyucian ritual, kurban persembahan, dan kenajisan. Penekanan berat sebelah ini melahirkan sikap legalistis-formalistis dalam hidup beragama. Pelaksanaan formal ritual lahiriah saja tidak berguna, karena hidup beragama yang sejati harus diwujudkan secara konkret dalam relasi dengan sesama dan di hadapan Allah. Maka, Yesus menekankan yang batiniah, seperti yang dikutip dari Nabi Yesaya, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku.” (Yes 29:13). Nabi Yoel berseru, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan Allahmu.” (Yl 2:13). Jadi, ibadat yang murni dan tak bercacat di hadapan Allah ialah “mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka” dan “menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemari dunia.” (Yak 1:26-27). Kesucian dan kemurnian tidak akan terjadi dengan menambahkan kerudung kepala atau mantilla. Justru hal ini rentan dengan ungkapan lahiriah, tanpa kenyataan batiniah. Penghapusan kewajiban menggunakan mantilla dari KHK kan 1262 pada 1917 kiranya mengemban semangat ajaran Yesus, yang juga diungkapkan St Paulus.
Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 37 Tanggal 13 September 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*