Artikel Terbaru

Takut Pria Berjenggot dan Bertato

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Takut Pria Berjenggot dan Bertato
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh, Saya Zita, 26 tahun. Kini saya sering takut tiap kali bertemu pria berjenggot dan bertato. Ketika saya berumur 23 tahun, bapak saya meninggal. Ibu terpaksa menikah lagi. Pernikahan ibu cukup harmo- nis karena bapak tiri selalu memperhatikan kebutuhannya. Namun kebahagiaan ini tak saya rasakan –pun kakak laki-laki saya. Bapak tiri sangat munafik. Tiap kali ibu di rumah, kami diperlakukan sangat baik. Tapi situasi berbeda kala ibu tidak rumah.
 
Masalah kian rumit. Suatu saat, tak tahu kenapa, bapak tiri berani berbuat keji pada saya. Ia memperkosa saya saat ibu dan kakak tidak di rumah. Saya pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi diancam tidak dibiayai kuliah. Saya coba menutup masalah ini. Setelah setahun, masalah ini baru terkuak saat kakak mendengar cerita dari teman bapak. Kakak sangat marah dan berniat menghabisi bapak tiri. Saat ini, ia selalu mencari kesempatan untuk membunuhnya. Saya tak berani terbuka pada ibu, karena percuma, pasti ibu tidak percaya. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Saya ingin bertanya, apa yang harus saya buat? Bagaimana saya memberi masukan pada kakak agar mengurungkan niatnya? Dan bagaimana saya bisa berdamai dengan perasaan saya ini?
Zita, Jakarta
Salam hangat Mbak Zita, salam kenal. Membaca uraian Mbak Zita, bisa saya rasakan bagaimana gejolak kepedihan itu. Tentu persoalan ini tak mudah dilupakan, apalagi dihilangkan. Waktu panjang bisa jadi tak cukup mengatasinya. Diperlukan ketegaran hati menjalani hidup dengan luka yang tak hanya dalam, tapi sangat menyakitkan. Solusinya pun tak segampang seperti yang ditulis di sini.
Yang dialami Mbak Zita bisa dikategorikan pengalaman traumatis dan diperlukan pendampingan komprehensif oleh ahli yang kompeten di bidangnya. Saya menyimpulkan, ada dua poin pertanyaan utama. Pertama, terkait saran untuk Mbak Zita, yaitu apa yang harus diperbuat dan bagaimana berdamai dengan masalah itu. Kedua, saran untuk kakak.
Pertama, yang perlu dilakukan ialah memikirkan tempat tinggal. Apakah saat ini Mbak Zita masih tinggal serumah dengan ayah, ibu, dan kakak. Jika demikian, gesekan emosi akan menjadi pemicu paling besar terjadinya hal-hal yang tak diinginkan –terutama antara Mbak Zita dengan ayah, ayah dengan kakak. Bagaimana relasi sehari-hari antara semua (ayah, ibu, kakak, dan Mbak Zita). Hal ini akan memberi gambaran pola relasi dan komunikasi masing-masing. Relasi yang terjadi kemungkinan besar akan sarat rasa permusuhan dan emosi marah yang dalam. Ini dapat memicu konflik yang lebih besar.
Bagaimana berdamai dengan peristiwa itu, bukanlah jawaban mudah. Tahap awal adalah mengeluarkan emosi sedih, marah, jengkel, dan segala emosi negatif. Prinsip katup saluran emosi perlu mendapatkan jalan efektif.
Tahap berikutnya, proses menerima, lalu memaafkan. Kadang, antara logika dan emosi tak sejalur sehingga menimbulkan persoalan bertumpuk. Proses menerima hingga memaafkan atas peristiwa dan pelaku adalah proses yang tak mudah dijalani. Dalam tataran logika, kadang bisa diterima; tapi tataran emosi tidak mudah. Semua butuh waktu. Beberapa problem terkait dengan peristiwa traumatis perlu diterapi secara intensif dan komprehensif oleh ahlinya.
Dampak peristiwa traumatis butuh proses terapetik tersendiri dan perlu didalami seberapa besar dampaknya pada hidup sehari-hari. Apakah mengganggu produktivitas diri secara umum? Ini menentukan terapi paling tepat sesuai kadar peristiwa trauma yang dialami.
Kedua, saran untuk kakak adalah memberi pemahaman soal risiko yang terjadi jika kekerasan dilakukan. Membunuh bukan solusi, tapi hanya menimbulkan masalah baru. Salah satu solusi adalah melaporkan pada pihak berwajib. Solusi ini juga perlu persiapan mental karena prosesnya panjang dan melelahkan. Selain itu, ibu mungkin sulit menerima. Intinya, mendiskusikan secara mendalam dari hati ke hati. Yang paling dibutuhkan saat ini, support emosi dan penerimaan dari orang-orang terdekat demi membangun mental yang tangguh.
Semoga saran ini dapat memberi pencerahan pada problem traumatis yang dihadapi. Menapaki hidup dengan berani hingga sejauh ini, sungguh luar biasa. Tak semua orang mampu melakukannya. Semoga dapat melaluinya dengan baik.
Salam.
Th. Dewi Setyorini
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 42 Tanggal 18 Oktober 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*