Artikel Terbaru

Kecewa Telah Menikahi Janda

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Kecewa Telah Menikahi Janda
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Romo Erwin, Saya Adrian, 29 tahun, telah menikah secara Katolik sembilan bulan lalu. Kami telah melewati masa pacaran selama setahun. Pernikahan kami berjalan lancar tanpa masalah. Namun sebulan terakhir, saya dikejutkan dengan pengakuan istri saya bahwa dia sudah pernah menikah sebelumnya secara Protestan empat tahun lalu dan sudah bercerai. Meski sudah bercerai, tetapi saya kecewa karena ternyata saya telah menikahi seorang janda. Saat ini, saya berusaha menenangkan pikiran dengan tinggal sendiri. Saya ingin bertanya, apa sikap saya dalam menghadapi masalah ini dan bagaimana penyelesaian terbaik, Romo. Apakah saya punya hak untuk menceraikan dia? Terima kasih.
 
Adrian, Medan
Saudara Adrian yang sedang bingung, pernikahan Katolik pada dasarnya harus disertai dengan kejujuran dan tidak boleh dalam kebohongan, apalagi jika kebohongan itu bersifat menipu dan sangat mempengaruhi hidup bersama. Hal pokok yang Anda sebutkan di atas adalah menyangkut keabsahan perkawinan Anda berdua.
Kitab Hukum Kanonik(KHK) Kanon 1065 mengatakan,“Sebelum perkawinan dirayakan, haruslah tak satu hal pun menghalangi perayaannya yang sah dan licit (layak).” Jadi seharusnya kedua hal ini tidak boleh dilanggar, yaitu kebenaran status dan adanya halangan dari pernikahan sebelumnya.
Istri Anda mempunyai persoalan besar menyangkut perkawinan pertamanya, dan menyangkut penipuan yang ia lakukan. Meskipun Anda menerima pun hal ini sudah menjadi masalah, karena Gereja tidak memperbolehkan umatnya untuk menikah selagi ia masih berada dalam ikatan sebelumnya.
Dalam kasus ini, Anda tidak menyebutkan apa agama istri Anda. Jika ia Protestan, perkawinan pertamanya tidak terceraikan menurut Gereja Katolik. Jika ia seorang Katolik, dengan pernikahan Protestan, ia telah secara terbuka meninggalkan Gereja Katolik, sehingga tidak memperoleh izin untuk diteguhkan nikahnya secara Katolik (bdk. KHK Kan.1071).
Dalam kasus istri Anda, ia dengan jelas terkena halangan nikah yang tercantum dalam KHK Kan.1085, yang mengatakan, “Tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh orang yang terikat perkawinan sebelumnya, meskipun perkawinan itu belum consummatum (terjadi persetubuhan).” Maka jika dirunut, perkawinan Anda memang tidak sah, karena istri Anda masih terikat perkawinan sebelumnya (dari pandangan Gereja Katolik), meskipun menurut Gereja Protestan dan sipil ia sudah bercerai.
Yang paling jelas membuat perkawinan Anda tidak sah adalah karena Anda tertipu oleh pasangan Anda berkaitan dengan keadaan dirinya yang pernah menikah dan bercerai. KHK Kan.1098 menegaskan, “Orang yang melangsungkan perkawinan karena tertipu oleh muslihat yang dilakukan untuk memperoleh kesepakatan, mengenai suatu kualitas dari pihak lain yang menurut hakikatnya sendiri dapat sangat mengacau persekutuan hidup perkawinan, menikah dengan tidak sah.”
Anda perlu mendiskusikan persoalan Anda pada Pastor Paroki, Ordinaris Wilayah, seperti Vikaris Jenderal, atau Tribunal di Keuskupan Agung Medan. Hal ini dikarenakan Anda merasa terganggu dan hakikat perkawinan Anda diguncang dengan kenyataan lain dari latar belakang istri Anda yang pernah menikah itu. Prinsipnya, Anda mempunyai hak, dan karena hal ini tidak pernah Anda sepakati ketika menikah dengan istri Anda. Bagi kita semua, masa pacaran adalah masa penting untuk melihat, menilai, menelusuri, dan mengenal sedalam-dalamnya orang yang akan kita nikahi. Ketergesaan seringkali merugikan, karena kita tidak mendapat informasi yang jelas mengenai pribadi yang akan kita nikahi. Saran pribadi saya, sebaiknya Anda berkenalan dan berpacaran selama minimal 2 tahun, sehingga cukup waktu untuk saling mengenal.
Pertanyaan Anda mengandung beberapa hal yang menentukan untuk menjadi pembahasan penanganan dan izin untuk melihat kembali status perkawinan Anda. Jangan ragu bertanya pada Pastor Paroki tempat Anda tinggal. Berdiskusi dan bertanya adalah hak semua umat kepada para pastornya. Selamat merenungkan.
Alexander Erwin Santoso MSF
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 41 Tanggal 11 Oktober 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*