Artikel Terbaru

Siapa Mendoakan Setelah Mati

[NN]
Siapa Mendoakan Setelah Mati
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Romo Erwin, Salam Damai dalam Tuhan Yesus. Saya Vita, 45 tahun. Saya sudah menikah selama 10 tahun, tetapi belum kunjung dikaruniai anak. Saya dan suami sudah berusaha semampu kami, seperti berkonsultasi ke dokter, psikiater dan lainnya untuk mendapatkan momongan. Sayang, sampai saat ini belum kunjung mendapatkannya. Kecemasan terbesar dalam hidup kami adalah bagaimana kalau seandainya kami meninggal dan tidak punya anak? Artinya tak ada anak yang mendoakan kami. Saya ingin bertanya, kira-kira semasa hidup kami, setiap hari harus berdoa apa dan melakukan apa saja supaya bisa mendapatkan Kerajaan Surga?
Vita, Jakarta
Ibu Vita yang baik, terima kasih atas pertanyaan yang juga dapat menginspirasi keluarga-keluarga yang lain. Beberapa pasangan seperti Anda berdua memang ada, khususnya mereka yang sudah bertahun-tahun menantikan “momongan”, tetapi belum dikaruniakan oleh Tuhan. Kalian tetap disebut keluarga, meskipun belum atau tidak mempunyai anak. Yang penting, Gereja tidak pernah membedakan apalagi menganggap lain bagi keluarga yang tidak mendapat karunia keturunan.
Keturunan semata-mata adalah karunia Allah. Setiap keluarga atau pasutri selalu harus terbuka pada keturunan, karena ini memang salah satu alasan pernikahan antara dua manusia yang berbeda jenis dan menjalin janji setia seumur hidupnya. Akan tetapi selalu harus disadari kebebasan Allah untuk mengaruniakan atau tidak mengaruniakan anak. Sejak dahulu, dipahami oleh bangsa Israel bahwa anak adalah anugerah yang membuat orang bersukacita. Namun, kalau tidak ada, mereka tetap beriman dalam penantian.
Anak dari Tuhan bukanlah satu-satunya yang akan mendoakan kita ketika kita tiada, dipanggil Tuhan. Anak pertama-tama adalah anugerah Tuhan untuk dikasihi, dididik, menjadi penerus generasi dan berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Jadi, bukan hanya bertugas untuk mendoakan orangtuanya. Kita masih punya sahabat, teman dekat, saudara, dan kerabat yang selalu siap mendoakan kita. Jika kita mempunyai hubungan yang baik dengan mereka, niscaya dengan sukarela dan sukacita mereka akan mendoakan kita.
Banyak pasutri yang tidak dianugerahi anak lebih memfokuskan hidup mereka pada karya sosial.Yang penting adalah menikmati setiap pelayanan dengan gembira. Jika mempunyai anak, itu pun bukan milik kita. Anak-anak, berapapun banyaknya, akan mempunyai hidup mereka sendiri. Mereka bukan milik orangtuanya. Maka jangan takut jika Tuhan belum atau tidak mengaruniakan anak. Kita dapat membangun hubungan yang baik, supaya banyak yang mendoakan.
Keselamatan kita di surga tidak ditentukan oleh doa seorang anak. Doa orang yang paling mengasihi kita, yang merasakan sentuhan pelayanan kita, yang dekat dan akrab, yang menjadi sahabat dan saudara dan selama ini merasakan kasih kita juga akan menjadi doa yang menyelamatkan. Maka perbuatan baik kepada orang lain sangat penting, supaya nama Anda dan suami ada dalam setiap doa mereka. Tunggulah saat Tuhan memberikan jawaban. Jika jawaban-Nya adalah tidak, Anda berdua harus siap menerimanya. Jangan memikirkan soal siapa yang mendoakan, tetapi pikirkanlah sekarang, siapa yang akan merasakan berkat dari Anda berdua hari ini dan seterusnya. Pasti ada rencana yang indah yang sedang menanti dalam keterbatasan Anda. Iman kita menjanjikannya.
Pengkhotbah 3:11 mengatakan, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Tidak ada yang salah dengan perkawinan kalian. Jangan mengaitkan peristiwa ini dengan hal-hal mistik atau takhayul yang seringkali dibebankan, sehingga perjalanan hidup menjadi semakin berat.
Inilah saatnya Anda mempersiapkan diri untuk jawaban Tuhan. Kita hanyalah manusia, merasa, memikirkan, menginginkan, tetapi Tuhan merencanakan yang baik, yang bisa tidak sesuai dengan harapan kita. Cinta kasih Allah menyertai Anda berdua. Tuhan memberkati.
Alexander Erwin Santosa MSF
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 40 Tanggal 4 Oktober 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*