Artikel Terbaru

St Marie Hermina Grivot FMM (1866-1900): Miskin Materi, Kaya Spirit Pelayanan

St Marie Hermina Grivot FMM
[NN/Dok.HIDUP]
St Marie Hermina Grivot FMM (1866-1900): Miskin Materi, Kaya Spirit Pelayanan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comIa menjalani panggilan dalam keterbatasan fisik. Tapi semangat untuk melayani Kristus melampui segalanya. Akhirnya, ia dibunuh dan menjadi orang kudus di tanah misi.

Rumah Sakit Taiyuanfu, Tiongkok berubah sepi. Tidak seperti biasanya, rumah sakit yang dibangun oleh para misionaris ini penuh sesak oleh korban kekerasan Boxer (November 1899-September 1910). Boxer adalah pemberontakan terhadap kekuasaan asing. Kelompok anti imperialis ini menganggap orang Kristen yang bertanggungjawab terhadap berkembangnya agama Kristen di Tiongkok.

Didorong rasa benci, suatu malam tentara Boxer menyerang Rumah Sakit Taiyuanfu. Mereka menghancurkan seisi rumah sakit. Para pasien dibunuh secara bengis. Para suster yang merawat pasien pun ikut dibunuh. Di antara para suster itu terdapat Sr Hermina Grivot FMM. Ia dibunuh karena dianggap menyebarkan misi Katolik di Taiyuanfu.

Keluarga Miskin
Marie Hermina Grivot lahir dengan nama Irma Grivot di Beaune, 28 April 1866. Kota ini cukup tenar di Perancis karena dikenal sebagai pemasok anggur bermerek Hospices de Beaune. Dari kota kecil di Perancis Timur ini, banyak negara di Eropa bisa menikmati anggur Burgundy. Kendati demikian, mayoritas masyarakat kota ini hidup miskin. Di sepanjang jalan kota yang terletak di Wilayah Burgundy ini, banyak tunawisma berkeliaran. Pun kalau berhasil  mendapat pekerjaan, mereka hanya bekerja sebagai penggarap lahan milik tuan tanah.

Potret kemiskinan itu juga menerpa keluarga Grivot. Ayah Irma seorang tukang kayu. Sementara sang ibu hanyalah pembantu rumah tangga. Sebetulnya, sang ayah tidak pernah bermimpi mejadi tukang kayu. Ia lebih ingin menjadi penggarap kebun anggur. Namun ia tidak pernah dilirik oleh para pemilik tanah. Hal itu disebabkan oleh keterbatasan fisiknya; ia seorang difabel.

Kondisi keluarga yang demikian membuat Irma menderita kekurangan gizi. Tubuhnya kurus dan sering sakit-sakitan. Oleh karena itu, banyak waktu pada masa kecilnya ia habiskan di rumah. Kadang perasaan sedih dan kecewa menelusup ke dalam sanubarinya dan membuatnya putus asa dalam menjalani hidup. Bahkan suatu ketika, ia berniat mengakhiri hidupnya. Untung saja, berkat dukungan sang ibu, Irma perlahan-lahan bisa menerima keadaan keluarganya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*