Artikel Terbaru

Makna Tanda Salib

Sumber Foto: saintmeinrad.edu
Makna Tanda Salib
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comMengapa acara membuat tanda salib harus “Dalam nama Bapa” di dahi, “dan Putra” di Perut atau di dada, “dan Roh Kudus” di kedua bahu? Mengapa tidak dengan cara lain, seperti membuat tanda salib kecil di dada saja atau di dahi saja atau dengan cara lain? Dari mana dan kapan tanda salib mulai digunakan?
Hendra Lie, Belitung
Apakah mengawali dan mengakhiri doa tanpa tanda salib dan tanpa mengucapkan “Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” mengubah kualitas doa? Apa dasar biblis pembuatan tanda salib?
Maya Septiana, Jakarta
Pertama, pembuatan tanda salib dengan menggerakkan tangan lima jari di dahi, di perut atau ulu hati, dan di kedua bahu, sudah setua agama kristiani. Kardinal Joseph Ratzinger pernah menulis, “Tata gerak yang paling mendasar dalam doa adalah tanda salib, dan akan selalu demikian.” Gerak tangan membuat Tanda Salib besar atas diri kita ini dilakukan untuk mengikuti gerak tangan imam dalam memberikan berkat liturgis kepada umat. Inilah sebab tanda salib yang dibuat tidak hanya tanda salib kecil di dahi atau di dada. Umat Katolik mengawali dan mengakhiri doa dengan tanda salib. Gereja Ortodoks, Gereja Anglikan, dan Gereja Lutheran juga membuat tanda salib, meskipun dengan urutan berbeda. Mayoritas Gereja Kristen Protestan tidak melakukan hal ini.
Kedua, pembuatan tanda salib sesungguhnya adalah sebuah doa singkat yang mengingatkan kita kepada penebusan Yesus Kristus melalui salib. Tanda salib adalah tanda kemenangan Kristus atas dosa dan maut, dan karena itu kita bisa bermegah dalam salib Tuhan, seperti kata Paulus, “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14). Karena kuasa penebusan Kristus sudah kita terima dalam Sakramen Baptis, maka Kardinal Ratzinger mengatakan bahwa tanda salib merupakan “rangkuman dan penyegaran kembali pembaptisan kita”. Sesudah menjadi Paus Benediktus XVI, ia lebih memperjelas aspek pengakuan iman dalam tanda salib, “Membuat tanda salib, berarti menyatakan ‘ya’ secara kasat mata dan publik kepada Dia yang mati dan bangkit bagi kita, kepada Allah, yang dalam kerendahan dan kelemahan-Nya demi Kasih, adalah Sang Mahakuasa, yang lebih kuat daripada segala kuasa dan lebih unggul dari segala pengetahuan dunia.”
Ketiga, perlu diperhatikan bahwa pembuatan tanda salib disertai dengan doa “Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin” (bdk. Mat 28:19). Dalam teologi Perjanjian Baru, “nama” berarti kuasa. Ungkapan “dalam nama Yesus” (Kis 2:38; 8:16; 10:48; 19:5; 22:16.) merujuk kepada peristiwa pengampunan dosa dan keselamatan yang dibawa Yesus dalam bentuk yang paling ringkas dan padat. Inilah peristiwa yang sama yang seringkali dirujuk sebagai peristiwa Salib. Jika kita memperhatikan kuasa penebusan itu bekerja, maka ungkapan “dalam nama Yesus” bisa dirinci sebagai “dalam daya kekuatan yang mengalir dari Bapa, dilakukan oleh Putera dalam Roh Kudus.” Rasul Paulus merujuk daya kekuatan ini sebagai “kuasa kebangkitan” (Flp 3:10). Daya kekuatan penebusan dan keselamatan atau kuasa kebangkitan inilah yang kita hadirkan dengan mengucapkan “dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus”.
Keempat, setiap kali kita mengawali dan mengakhiri doa dan tindakan dengan membuat tanda salib dan mengucapkan “dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” kita memenuhi ajaran Yesus untuk meminta dalam nama-Nya (Yoh 14:14). Dengan ini kita menyerahkan seluruh doa, tindakan, seluruh diri kita kepada kuat kuasa kebangkitan Kristus atau daya kekuatan Allah Tritunggal, dan tidak lagi mengandalkan kekuatan kita yang lemah dan rapuh ini. Dengan demikian, kualitas doa dan tindakan kita ditingkatkan secara rohani. Tidak heran, tanda salib bahkan menjadi perlindungan terhadap musuh-musuh rohani kita.
Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 34 Tanggal 23 Agustus 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*